SURABAYA- Diskusi dan bedah buku Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 digelar di Aula Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur, Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk membahas kembali pengalaman penangkapan dan penyiksaan aktivis SMID/PRD pada 1996 sekaligus merawat ingatan sejarah bagi generasi mendatang.
Diskusi menghadirkan kedua penulis buku, Trio Marpaung dan Syani, yang juga merupakan penyintas peristiwa tersebut. Keduanya berbagi pengalaman dan menjelaskan latar belakang penulisan buku yang mendokumentasikan kisah penangkapan, penyiksaan, serta represi terhadap aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Hadir sebagai penanggap, Dr. Sugeng Pujileksono, M.Si., dan Dr. (Cand.) Tino Rahardian, S.A.P., M.M.A.P. Diskusi membahas pentingnya kesaksian korban sebagai bagian dari pengetahuan sejarah, pembelajaran demokrasi, dan upaya mencegah terulangnya pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Bagi Trio Marpaung dan Syani, penulisan buku ini bukan sekadar upaya mengenang pengalaman masa lalu. Sebagai penulis sekaligus penyintas, mereka berkomitmen untuk terus menyuarakan peristiwa yang mereka alami agar pengalaman tersebut tidak hilang ditelan waktu dan tidak berhenti sebagai ingatan pribadi para korban.
Melalui buku ini, keduanya ingin meninggalkan catatan sejarah yang dapat dipelajari oleh generasi muda, khususnya mereka yang tidak mengalami langsung situasi politik pada masa Orde Baru. Kesaksian para penyintas diharapkan dapat membantu masyarakat memahami konsekuensi represi politik terhadap kehidupan manusia, kebebasan sipil, dan demokrasi.
“Pengalaman ini perlu dicatat dan disampaikan kepada generasi berikutnya agar sejarah tidak dilupakan dan peristiwa kelam serupa tidak terjadi lagi di masa depan. Semangat tersebut menjadi salah satu landasan penting penulisan buku ini.” ungkap Syani dalam keterangan pers selesai acara dikutip Bergelora.com di Surabaya.
Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ini juga menjadi momentum untuk menghubungkan pengalaman sejarah perjuangan demokrasi dengan tantangan generasi muda saat ini. Memahami sejarah tidak berarti terjebak dalam masa lalu, melainkan mengambil pelajaran agar kehidupan demokrasi ke depan semakin menghormati hak asasi manusia dan martabat setiap warga negara.
Buku Nyanyian Bawah Tanah mengajak pembaca untuk melihat sejarah bukan hanya melalui pergantian rezim dan peristiwa politik besar tahun 1998, tetapi juga melalui pengalaman anak-anak muda yang mengalami langsung kekerasan dan represi militer. Dengan mendokumentasikan kesaksian mereka, buku ini berupaya menjaga ruang bagi kebenaran, pemulihan martabat korban, dan pembelajaran sejarah.
“Bagi kami, mengingat masa lalu bukanlah upaya memelihara kebencian. Sebaliknya, ingatan sejarah merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk membangun masa depan yang lebih demokratis, menghormati HAM, dan tidak mengulangi kekerasan yang pernah terjadi.” ujar Trio Marpaung.
Ia menegaskan, agenda Persatuan Nasional tidak bermakna jika dibangun dengan mengabaikan kebenaran. Karena itu, merawat ingatan sejarah menjadi bagian penting dari upaya memperkuat demokrasi dan memastikan pengalaman para korban tetap memperoleh tempat dalam perjalanan bangsa.
“Saya berharap agar acara serupa dapat digelar di berbagai kampus. Sebagai upaya merawat ingatan supaya peristiwa kekerasan yang dialami para korban tidak pernah terjadi lagi ke generasi muda hanya karena mempunyai ide yang berbeda dari negara. Persatuan nasional terus dijaga tanpa harus mengingkari kebenaran sejarah ” pungkas salah satu penanggap Dr.(Cand) Tino Rahadian. (Intan)

