Kamis, 18 Juli 2024

Kusnadi & Samurai: Wajah Muram Hukum dan Politik Negeri Kita

Oleh: Dr. Connie Rahakundini Bakrie *

SAYA kenal baik Pak Kusnadi. Sebagian besar dari anda pasti tidak. Kusnadi adalah tipe seorang abdi atau mari kita sebut saja ajudan, yang sangat setia dan lurus-lurus saja jalan hidup dan berfikirnya. Baginya yang penting adalah dimana ia ditugaskan maka disanalah ia akan mengabdi sepenuhnya. Ciri khas seorang abdi sejati.

Saya tidak tahu agama Pak Kusnadi apa. Saya tidak pernah bicara banyak padanya apalagi tentang agama karena orangnya sangat pendiam. Diajak berbicara pun seperti gong. Dipukul 1 x berbunyi hanya 1x. Dipukul 2x berbunyi hanya 2x. Artinya, dia bukan tipe banyak bicara, apalagi sok tahu seperti kebanyakan orang di tanah air di tahun-tahun terakhir ini.

Saya suka padanya. Dia tipe yang sangat pas untuk mendampingi tokoh politik tinggi di sebuah partai besar macam PDIP. Karena sosok dan sifat seperti Kusnadi mengingatkan saya pada Firman Tuhan:

“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”. Demikian isinya.

Mungkin Kusnadi pernah baca ayat itu. Karenanya dia memilih untuk menjadi manusia yang menghormati kesetiaan.

Maka, beberapa hari lalu ketika saya sedang berjalan menyusuri sungai Fontanka di sore bermatahari cerah, dikota dimana saya sekarang mengabdi di kampus penghasil 9 Nobel bernama St. Petersburg State University ini, tiba tiba saya terhenyak saat di hubungi seorang kawan lama di BAIS yang menyampaikan kejadian menarik tentang Sekjen PDIP, sahabat saya, Hasto Kristiyanto yang datang memenuhi panggilan KPK, beberapa hari berselang.

Saya tidak akan mengomentari tentangnya, karena untuk saya pribadi, sejak ramai-ramai kasus terlukanya marwah MK kita, sesungguhnya negeri saya nun jauh dimata itu akhir-akhir ini semakin rancu untuk bisa bedakan mana kasus hukum, mana kasus politik.

Tapi saya hanya mau berkomentar tentang apa yang dialami seorang Kusnadi, atas perlakuan yang ia terima saat dampingi boss nya yang sedang diperiksa KPK. Perlakuan yang tak dapat diterimanya yang membuat ia melakukan protes dengan melayangkan suratnya kepada Komnas HAM.

Saya ingin menggaris bawahi jika apa yang saya tonton di tivi dan membaca diberita-berita benar adanya, tepat seperti apa yang diwartakan, sungguhlah itu ‘wajah muram’ dari
rimba ‘politik hukum atau hukum politik’ negeri kita.

Karena Kusnadi hanya seorang ajudan patuh yang karena tanggung jawab pekerjaannya sebagai seorang ajudan ikut diperiksa oleh KPK namun mendapat perlakuan seakan akan dia seorang terdakwa. Padahal jangankan menyandang status sebagai seorang terdakwa, saksi terpanggil pun Kusnadi bukan!

Namun dari pemberitaan dan pesan WA yang ramai, Kusnadi seolah menjadi seorang pesakitan yang harus mendadak ikut bertanggung jawab pada apa yang ‘mungkin akan disangkakan’ kepada atasannya yang kebetulan seorang sekjen partai besar!

Saya bisa bayangkan gejolak hatinya, ketika tasnya dirampas yang tentu saja akan membuat Kusnadi secara naluriah bertahan, karena itu adalah amanat dari pimpinannya. Lagipula, dia ditanya tentang berteman atau tidak dengan Harun Masiku. Saya bisa bayangkan saat dia menjawab dengan kepolosannya: “Itu teman Bapak, bukan teman saya…”.

Lalu, tentang uang yang ada di tas untuk biaya pesawat keluar kota, tentu saja dia ngotot pertahankan karena itu uang milik DPP untuk keperluan dinas yang harus dipertanggungjawabkan keberadaannya.

Ketika buku catatan milik Bapaknya yang pastinya berisi banyak nota, amanat dari Ketum Ibu Megawati dan catatan penting tentang giat partai, wajar Kusnadi panik, karena ia pasti tau buku catatan kecil usang itu adalah semacam nyawa bagi tugas bapaknya di partai.

Saya bertanya dalam hati mengapa petugas KPK harus berlaku seperti itu pada seorang Kusnadi? Saya juga tak paham, mengapa untuk memanggilnya harus disusul keluar pagar untuk masuk ke dalam dan diperiksa badan, disita atau dirampas tas serta apapun yang ada padanya dan mengapa harus dilakukan dengan jalan membohongi Kusnadi dengan mengatakan: “Kamu dipanggil Bapak”.

Saya melihat momen itu saat sebuah stasiun tivi tayangkan berita terkait, dimana seorang bermasker putih bertopi putih berbaju putih datang menghampiri. Maka kemudian terlihat Kusnadi dengan gaya khasnya yang tegak lurus macam badak, terlihat sigap bergegas berlari kecil mengikuti karena – katanya – ia dipanggil bapak. Padahal tidak. Kusnadi terbohongi.

Saya tidak tau Pak Kusnadi suka atau tidak cerita tentang Samurai. Samurai bukanlah prajurit bayaran, tetapi ia akan berjuang untuk apa pun sesuai ikatan yang dibuatnya pada Daimyo (penguasanya) dengan penuh kesetiaan, sesuai tugas yang dipercayakan dan dianggapnya kehormatan. Karena tugas pertama seorang samurai adalah kesetiaan pada tuannya. Jepang memiliki sistem di mana seorang penguasa mengharapkan kepatuhan utuh dari pengikutnya. Jika seorang raja tidak dapat mengandalkan kesetiaan mutlak dari bawahannya, maka seluruh sistem akan runtuh. Rasa kesetiaan dan kehormatan ini sering diekspresikan secara ekstrem oleh para samurai.

Mereka akan berjuang sampai mati dalam pertempuran untuk melindungi tuannya, atau memilih bunuh diri jika merasa telah ikut mempermalukan tuannya.

Samurai juga memiliki tugas balas dendam. Jika tuannya terbunuh, seorang samurai dibenarkan untuk mencari dan membunuh mereka yang bertanggung jawab. Salah satu kisah samurai yang paling terkenal, The 47 Ronin atau samurai tak bertuan, menjadi contoh nya.

Kasihan Pak Kusnadi. Hak-hak dasarnya sebagai manusia bebas dan berdaulat mendadak macam ‘dirampas’ hanya karena tugas dan kesetiaannya menjadi ajudan seorang petinggi partai.

Semoga Pak Kusnadi tidak harus menjadi Ronin atau samurai ya Pak? Karena percayalah, dari jauh saya terus akan mendoakan Pak Kusnadi dan keluarga nun jauh di kampung yang tentunya sedang terikut gusar dan bingung

Sing sabar ya Pak Kus….! Sing yakin: “Gusti Allah Ora Sare”.

Salam, Connie Rahakundini Bakrie – St. Petersburg, Russia

—-

*Penulis Dr. Connie Rahakundini Bakrie, mengajar di St. Petersburg State University, Rusia

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru