Senin, 2 Februari 2026

MayDay…! Gereja Komunitas Anugerah: Menindas Pekerja, Menghina Tuhan Sang Pencipta!

Ilustrasi May Day (Ist)

JAKARTA- Dalam peringatan Hari Buruh 1 Mei 2018, Gereja Komunitas Anugerah (GKA) Reformed Baptis Salemba bergabung dalam Koalisi Aksi 1 Mei untuk Kemerdekaan, Kesetaraan dan Kesejahteraan. GKA menyerukan agar para pengusaha, khususnya pengusaha Kristen untuk memberlakukan jumlah kerja yang manusiawi.

“Kembalikan jam kerja  8 jam sehari! Manusia hidup bukan cuma di Pabrik, di Kantor, di Jalanan. Manusia punya kebutuhan untuk beristirahat, bergaul, rekreasi dan beribadah. Pekerjaan jangan jadi berhala!  Penindasan kepada pekerja adalah penghinaan kepada Tuhan sang pencipta!” tegas Pendeta Suarbudaya Rahadian di tengah aksi May Day di Jakarta, Selasa (1/5).

Kepada para pengusaha, khususnya pengusaha Kristen ia menyerukan agar tidak menghalang-halangi pekerja untuk berserikat. Berserikat adalah hak pekerja yang dilindungi Undang-undang.

“Jangan bersembunyi di balik ajakan untuk bersyukur demi menghalangi pekerja berorganisasi untuk melindungi haknya!” tegasnya.

Dibawah ini pidato lengkap Pendeta Suarbudaya Rahadian dalam peringatan Hari Buruh 1 Mei 2018 dikutip Bergelora.com di Jakarta.

HIDUP BURUH, HIDUP PETANI, HIDUP NELAYAN, HIDUP MAHASISWA!

Kami dari Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptis Salemba bergabung dengan kawan-kawan  Koalisi Aksi 1 Mei untuk Kemerdekaan, Kesetaraan dan Kesejahteraan.

Selama 72 tahun kita berteriak merdeka tetapi sampai detik ini buruh belum juga sejahtera, petani semakin kehilangan lahan – lahannya, nelayan semakin dipersempit kawasan mata pencahariannya. Semua itu karena diprivatisasi oleh segelitir orang, dikuasai oleh korporasi.

Maka dari itu kami Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptis Salemba di momentum ini, di tahun ke 3 ini kami tetap hadir berjuang bersama kawan – kawan buruh, petani, nelayan, kelompok – kelompok minoritas LGBT untuk tegas menolak semua itu.

Ada begitu banyak gereja dinegara ini, ada banyak pendeta yang bertanya kepada kami. Ngapain gereja ikut demontrasi, ngapain gereja ikut aksi ? Dengan tegas dan lantang kami menjawab, bahwa kami juga buruh, kami juga kelas pekerja, kami juga orang – orang yang tertindas oleh sistem ini, kami juga dirugikan melalui kebijakan – kebijakan yang tidak pro rakyat.

Bahwasanya gereja bukan hanya hadir untuk menjembatani manusia menuju pintu sorga, tetapi gereja juga hadir ditengah situasi yang genting untuk membawa surga di tengah dunia ini.

Kami menyerukan kepada gereja-gereja, pendeta-pendeta, majelis gereja dan seluruh pekerja gereja yang ada di Indonesia,– hey kalian jangan diam terhadap nasib buruh, jangan menutup mata terhadap pelanggaran HAM yang dialami petani, jangan abai terhadap nelayan. Gereja yang merupakan tubuh Kristus itu sendiri sesungguhnya tidak abai terhadap ketidakadilan, tidak diam terhadap kesenjangan, tidak menutup mata terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM.

Kami tidak meminta harta kalian dan belas kasihan, kami menyerukan kembalikan ajaran Kristus yang menuju pada pembebasan.

Mari kawan-kawan buruh, petani, nelayan dan kawan-kawan lainnya untuk berkenalan dengan kami, lebih dekat lagi dengan kami. Sebagai gereja, kami mempunyai cita-cita besar menuju pembebasan. Namun cita-cita kami tidak bisa diwujudnyatakan tanpa kawan-kawan sekalian.

Kami juga menyerukan kepada kawan-kawan buruh sekalian agar tidak terjun kepada politik sektarian jangan sampai kawan-kawan digiring untuk kepentingan- kepentingan pihak  yang tidak progresif!

Kita harus belajar dari tahun-tahun sebelumnya bahkan selama puluhan tahun buruh selalu dijadikan alat kepentingan politik dan dikhianati janji politiknya.

Mari kawan-kawan kita rapatkan barisan dan kekuatan tanpa terpecah belah, kita ciptakan kekuatan gerakan alternatif, kita tinggalkan cara-cara lama, paham-paham lama yang menggantungkan nasib kita pada partai-partai borjuasi, kepada politisi- poltisi komprador dengan politik kotornya yang tidak pro rakyat.

Melalui aksi Mayday 2018 ini kami dari Gereja Komunitas Anugerah  menyerukan :

Kepada rezim pemerintah Jokowi  untuk mencabut PP Pengupahan Nomor 78 tahun 2015  yang tidak demokratis, tidak berpihak pada buruh dan merugikan kaum Pekerja. PP 78 tahun 2015 adalah penghianatan kepada kelas pekerja! Segera cabut PP itu!

Kepada para pengusaha, khususnya pengusaha Kristen untuk memberlakukan jumlah kerja yang manusiawi. Kembalikan jam kerja  8 jam sehari! Manusia hidup bukan cuma di Pabrik, di Kantor, di Jalanan. Manusia punya kebutuhan untuk beristirahat, bergaul, rekreasi dan beribadah. Pekerjaan jangan jadi berhala!  Penindasan kepada pekerja adalah penghinaan kepada Tuhan sang pencipta!

Kepada para pengusaha, khususnya pengusaha Kristen agar tidak menghalang-halangi pekerja untuk berserikat! Berserikat adalah hak pekerja yang dilindungi Undang-undang. Jangan bersembunyi di balik ajakan untuk bersyukur demi menghalangi pekerja berorganisasi untuk melindungi haknya!

Kepada pemerintah rezim jokowi untuk melindungi hak-hak kaum pekerja tanpa mendiskriminasi orientasi seksnya. LGBT adalah manusia seutuhnya. LGBT juga punya hak penuh sebagai warga negara dan mahluk ciptaan Tuhan yang mulia!

Kepada Gereja-gereja di Indonesia. Stop diam terhadap pengusaha jahat, pengusaha kejam. Gereja harus berpihak pada kepentingan kaum pekerja, bukan kepentingan pemodal! Gereja adalah organisasi yang mendukung kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan segelintir orang! Gereja ada untuk  sosialisme bukan kapitalisme. 

Demikian seruan dan tuntutan kami. HIDUP BURUH , HIDUP NELAYAN, HIDUP MAHASISWA, HIDUP PETANI! RAKYAT BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN! (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru