Minggu, 14 April 2024

Mayjen (Purn) Saurip Kadi: TNI Sudah Jadi Alat Kapitalisme

JAKARTA- Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki sistim rekrutmen dan pendidikan terbaik di Indonesia. Sebagai alat negara, TNI harus patuh pada negara. Hal ini disampaikan oleh Mayjen (Purn) Saurip Kadi dalam Forum Publik bertemakan “Ketahanan Bangsa dan Pemilu 2014” yang diadakan oleh Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) dan Departemen Dalam Negeri di Jakarta, Kamis (19/6).

“Namun, persoalannya saat ini adalah negara sudah menjadi alat kapitalis. Semua kepentingan kapitalis saat ini dikatakan sebagai kepentingan negara dan kepentingan nasional. Akhirnya TNI harus patuh pada negara yang sudah dikuasai oleh kapitalisme,” jelas salah satu deklarator Gerakan Renaissance Indonesia.

Apa lagi menurutnya pada saat kesejahteraan prajurit yang sangat buruk, merasionalisasi semua keberpihakan TNI pada kepentingan negara yang sudah dikuasai oleh kepentingan kapitalisme dalam maupun luar negeri.

“Secara jujur saya akui. Saya tidak bersih tapi juga tidak kotor. Saya pernah menjadi bagian dari orde baru. Banyak yang seperti saya. Seperti seorang kawan saya, yang meninggal, mayatnya gak bisa dibawah pulang dari rumah sakit, karena dia cuma kos dan miskin,” jelasnya kepada Bergelora.com ditengah forum publik itu.

Ia mengkritik keras jenderal-jenderal kaya yang hidup bermewah-mewah dan punya tempat tinggal yang nyaman di perumahan elit.

“Masuk akal gak kalau ada tentara yang tinggal di perumahan elit Menteng Jakarta. Gaji tentara dan pensiunnya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan di perumahan elit,” ujarnya.

Tapi menurutnya walaupun punya sistim rekrutmen dan pendidikan terbaik, TNI juga telah dirusak oleh sistim yang kapitalis seperti saat ini.

“Jangan salahkan tentara yang kaya. Mereka begitu karena sistim yang memberikan peluang besar untuk terjadi banyak penimpangan dalam TNI. Masih banyak orang-orang pintar yang lebih jahat dari itu semua,” ujarnya.

 

Bukan Aib

Menurutnya, menjelang Pilpres 2014, rakyat menyoroti para capres dan cawapres. Rakyat berhak mengetahui secara transparan rekam jejak para capres dan cawapres, termasuk pada cawapres mantan perwira tinggi. Letjen (Purn) Prabowo Subianto.

“Tapi kalau tidak tahu sebaiknya diam. Jangan ditambah atau dikurangi. Karena rakyat berhak tahu siapa yang dipilihnya secara objektif dan benar. Itu bukan aib. Kita perlu segera memperbaiki diri untuk bisa melanjutkan tugas bernegara kita,” tegasnya.

Menurut Saurip Kadi, semua persoalan ada dimuara dan sudah tidak bisa diselesaikan  secara satu persatu dan tambal sulam.

“Koruptor, bandit dan berandal itu semua ada di muara sungai, tidak mungkin diselesaikan tanpa menyelesaian hulunya, penyebabnya, sumbernya,” ujarnya.

Ia memberi contoh tentang berbagai kasus korupsi yang terbongkar ditindak belakangan ini yang seperti tidak pernah habis-habisnya. 

“Tanpa penerapan pembuktian terbalik dan tanpa pemisahan jabatan dan karir, masalah korupsi tidak akan pernah habis. Kita butuh sebuah sistim yang menutup kemungkinan korupsi. Kalau belum ada perubahan platform dan paradigma, semua itu omongkosong,” tegasnya. (Tiara Hidup)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru