Jumat, 23 Februari 2024

Menyoroti “Gibran Effect”

Oleh: Rio Ismail *

APA “Gibran Effect” dalam debat tadi malam? Analisis sentimen di Twitter/X yang dilakukan DroneEmprit dalam debat tadi malam menunjukkan, Gibran mendapatkan sentimen positif hanya 33% dan sentimen negatif malah 60%. Ini jauh di bawah Muhaimim dengan sentimen positif 80% (negatif 14%) dan Mahfud MD 79% (negatif 12%).

Sentimen negatif meningkat, bisa jadi karena tingkah Gibran yang makin tidak simpatik. Apalagi dari sisi penguasaan konten, dia tak mengalami perkembangan. Terkesan sangat menghafal banyak istilah dan angka, tapi bingung memformulasikan dan menjawab banyak masalah. Makin tergagap-gagap karena seakan mengalami information spillover. Mungkin terlalu banyak dicekoki data dan informasi oleh tim, yang tentu melebihi batas kemampuannya dalam mengolah.

Gibran bahkan makin terjebak pada gaya Donald Trump ketika berkampanye pilpres di USA pada 2016. Menolak kepercayaan publik yang rendah pada data/fakta yang dia klaim; menolak untuk berpikir rasional; dan seperti ayahnya Jokowi maupun Trump, Gibran juga lakukan kebohongan terang-terangan.

Kecerdasannya pun seperti terhambat oleh keinginannya yang lebih besar untuk pamer daftar istilah dan singkatan.

Seperti juga Trump, Gibran terlalu berhasrat untuk bertindak tidak etis dengan cara mempermalukan lawan politik, dalam hal ini Cawapres Mahfud dan Muhaimin.

Lalu dia kehilangan rasionalitas dan menutupi kegugupan dengan gerak tubuh yang meremehkan lawan debat. Mungkin dia mempelajarinya dari Prabowo yang suka melakukan “tarian gemoy” jika merasa tersudutkan oleh Ganjar atau Anies.

Mau mencapai “Gibran Effect” yang jitu, malah justru memamerkan “effek kedunguan”. Bisa jadi yang terbaca oleh publik adalah “Effect Gibran” adalah: sang Cawapres sepertinya mau mengatakan kekuasaan tak perlu didasari kecerdasan dan sikap etik yang baik.

Kekuasaan bisa bicara apa saja sesuka-suka dia (penguasa). Ngomong apa saja, yang penting viral dan dapat pujian di medsos dan mendapat posisi tertinggi dalam survei persepsi publik (seperti yang umumnya diyakini para penyokong post-truth).

Ini tentu berbeda dengan Jokowi saat mengawali jabatan Gubernur DKI maupun Presiden RI pada periode pertama. Saat itu saya menganggap sisi lain dari “Jokowi Effect” adalah: rakyat punya kecerdasan dan kesadaran baru dalam melihat kekuasan. Setidaknya kekuasaan dilihat lebih peduli pada rakyat; makin ditentukan oleh rakyat; dan kekuasaan itu bisa sedekat dan seerat jabatan tangan Presiden Jokowi.

Pun, saya yang lebih sering memusuhi kekuasaan, sejak Soeharto hingga SBY, akhirnya memutuskan mencalonkan diri ke parlemen sekaligus menjadi juru kampanye pak Jokowi.

Tapi akhirnya saya berhenti menjadi bagian dari ekor kekuasaan Jokowi setelah dia merekrut Prabowo,– orang yang mestinya diadili karena pelanggaran HAM berat/kejahatan kemanusiaan– dan sejumlah sosok yang korup dan merusak lingkungan. Mereka menjadi menteri dan membajak kebijakan negara. Urusan saya dengan Jokowi selesai sampai di situ.

Kini bandul politik berubah arah. Gibran Rakabuming Raka menjadi Cawapres mendampingi Prabowo dan meneruskan dinasti Jokowi.

Dalam debat Cawapres semalam, Gibran –putra presiden yang ingin berkuasa dengan memanfaatkan jabatan ayahnya ini– seakan mau mengulang “Jokowi Effect’. Tapi dia justru terperosok pada “efek kedunguan”.

Anda bisa bayangkan bagaimana nasib negara ini ke depan? Jika Prabowo-Gibran menang, dan bisa saja suatu saat ada sesuatu dengan kesehatan Prabowo, maka kita atau Anda semua akan dipimpin Gibran dengan kualitas seperti yang semalam. Lalu bagaimana Gibran mengelola warisan ekonomi, ekologi, politik dan hukum Presiden Jokowi yang porak-poranda?

*Penulis Rio Ismail, aktivis

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru