JAKARTA- Sentimen Suku, Agama dan Ras (SARA) merebak dimana-mana terutama dalam merespon kasus pengungsi dari Rohingya, Myanmar. Mantan Menteri Keuangan, Fuad Bawasir, menegaskan agar tidak menutupi masalah SARA dan segera melawannya.
“Itulah kenyataannya yaitu masalah SARA masih nyata merebak di banyak tempat dan itu harus dicegah atau dilawan. Jangan ditutup-tutupi dengan berbasa-basi mengatakan itu bukan masalah SARA khususnya perbedaan agama,” demikian Fuad Bawasir, Mantan Menteri Keuangan kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (7/9).
Ia mengingatkan agar tidak naif dalam mengomentari krisis di Rohingya yang berlatar belakang SARA.
“Banyak orang naif atau bodoh yang asal komentar tentang Krisis Rohingya dg mengatakan apa yang terjadi, pembunuhan, pengusiran, pembakaran, penyiksaan dan lainnya di Myanmar itu tidak ada hubungannya dengan perbedaan agama dan etnis. Pertanyaan saya sederhana saja yaitu apakah apabila orang-orang Rohingya itu beragama Budha dan berkulit serta wajah sama dengan orang-orang Myanmar yang yang menyiksa, tragedi itu akan terjadi? Tentu Tidak,” katanya.
Dengan analisa yang benar maka menurut Fuad Bawasir, permusuhan dan sentimen karena Faktor SARA bisa diatasi.
“Jadi logikanya tragedi kebiadaban itu karena perbedaan agama dan etnis. Dan permusuhan atau sentimen karena faktor SARA inilah yang memang harus kita perangi,” katanya.
Ia juga mengingatkan, Paus Fransiskus dari Vatikan juga tegas mengatakan karena unsur perbedaan agama. Bahkan lebih jauh lagi ini adalah soal pelanggaran HAM berat.
“Jadi jangan biasakan menutupi kebenaran karena justru akan menyulitkan solusinya. Alhamdullilahnya Menlu Retno bergerak cepat dan pro aktif untuk membantu Rohingya. Semoga saja negara-negara Asean lainnya dan dunia pada umumnya tidak berdiam diri atas tragedi kemanusiaan (kebiadaban) di Myanmar,” tegasnya. (Web Warouw)

