Kamis, 29 Januari 2026

Nah! Mantan Kabais TNI: Tak Salah Jadi Radikal, Asal Tidak Punya Bom

JAKARTA- Terorisme kerap dikaitkan dengan agama tertentu. Upaya deradikalisasi untuk memerangi terorisme hanya akan sia-sia karena berhadapan dengan ajaran agama. Hal ini disampaikan oleh Mantan kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS) TNI, Soleman B. Ponto kepada Bergelora.com, di Jakarta, Kamis (3/3). Baru kali ini ada seorang purnawirawan intelejen yang menepis program de-radikalisasi untuk memerangi terorisme yang sudah dikampanyekan secara internasional.

“Bicara teroris bukan bicara cara berpikir tapi bicara meledaknya bom. Teroris ditakuti karena mereka bisa melakukan pengeboman,” jelasnya.

“Seradikal apapun pemikiran mereka bila mereka tidak memiliki bom atau tidak terlatih atau tidak punya tempat sembunyi maka mereka hanya akan dianggap orang yang sakit jiwa saja,” ujarnya.

Menurutnya orang-orang yang punya pikiran dan keyakinan radikal lebih baik diawasi dengan ketat agar tidak bisa mengakses bahan peledak untuk digunakan dalam aksi terorisme.

“Biarin dia radikal, yang penting dia tidak bisa punya bom. Itu yang penting. Nah yang harus dijaga agar setiap orang tidak bisa memiliki bom,” jelasnya.

Orang yang memiliki keyakinan atau pikiran yang radikal bukanlah sebuah kejahatan. Selama tidak memiliki bahan peledak dan kemudian menggunakannya untuk menteror maka orang tersebut tidak bisa disebut sebagai teroris.

“Biar lei radikal maar kalau nyandak punya bom (Walaupun dia radikal tapi kalau tidak punya bom) kan bukan teroris jadinya,” katanya.

Untuk mengontrol bahan peledak agar tidak bisa disalahgunakan maka, pemerintah harus memperketat peredaran bahan-bahan tersebut.

“Kalau itu, ya tempat latihannya diawasi. Networkingnya juga bisa diawasi. Kan kalau itu yang diawasi gak ada masalah baru kan,” katanya.

Sebelumnya, menurutnya, teroris itu ditakuti karena bisa meledakkan bom. Untuk mencegah dan memberantas terorisme adalah mencegah mereka supaya tidak bisa melakukan hal itu. Rumusan mencegah terorisme secara sederhana ini dikemukan oleh Mantan Kabais TNI, Laksda TNI (purn) Soleman B Ponto saat menjadi pembicara di seminar yang diadakan oleh Majalah Suara Muhamadiyah, Senin (29/2).

Menurut Soleman B Ponto, setidaknya ada 9 unsur yang membentuk terorisme yaitu adanya pemimpin, tempat latihan, jaringan, dukungan logistik, dukungan keuangan, pelatihan, komando dan pengendalian, rekrutmen, serta daya pemersatu.

Apabila satu dari sembilan unsur diambil, maka terorisme akan dapat dimatikan. Program de-radikalisme yang sekarang dilakukan, adalah untuk memperlemah unsur kesembilan yaitu daya pemersatu. Dalam hal ini adalah pemahaman agama.

Oleh karena selama ini terorisme seringkali dikaitkan dengan agama tertentu, maka ketika deradikalisme ini digunakan untuk pemberantasan terorisme maka tidak terelakkan akan berhadapan dengan agama. Ini bisa dipahami sebagai upaya melemahkan ajaran agama.

“Walaupun lebih soft, moderasi pun juga akan mengalami hal yang sama. Moderasi akan dianggap sebagai upaya melemahkan ajaran agama. Karena selama ini organisasi terorisme pada umumnya menggunakan agama sebagai daya pemersatu,” katanya.

Oleh karenanya, kalau hanya berkutat di deradikalisme saja, maka masalah pemberantasan terorisme ini hanya akan berputar-putar ditempat.

Menurut Soleman, orang yang berpikir dan berprinsip radikal itu tidak akan menakutkan siapapun selama dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ada delapan unsur lain yang bisa digarap untuk mencegah mereka bisa berbuat.

“Biarkan saja dia berteriak-teriak tentang apa saja, selama dia tidak berbuat yang membahayakan maka orang-orang pasti hanya akan menganggap dia itu sebagai orang gila,” tegasnya. (Web Warouw)

 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru