Kaum pergerakan era 1980 anti Orde Baru Soeharto dan pendukung.Presiden Jokowi masih berduka atas kepergian Dedy Mawardi beberapa waktu lalu. Iman Masfardi kawan seperjuangannya menulis penghormatan terakhir dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh: Iman Masfardi
JANGANLAH membayangkan Dedy Mawardi sebagai seorang pengacara kondang, kayaraya, dan selalu tampil ke publik dengan kemewahan. Benar dia punya klien yang ribuan banyaknya. Tapi itu adalah rakyat miskin yang sengsara, yang lahan pertaniannya dirampok oleh perusahaan besar untuk dijadikan kebun sawit, kebun tebu, tambak udang, atau buruh yang di PHK, atau aktivis yang digaruk aparat.
Klien Dedy Mawardi bukanlah orang berduit yang siap memberikan fasilitas dan pelayanan kelas satu kemanapun dia pergi. Kliennya adalah orang desa yang kalau datang menemuinya harus disediakan Dedy makan minumnya, tempat menginapnya, bahkan tak jarang pula harus dibayarkan ongkos mereka pulang ke dusun.
Lebih dari duapuluh tahun lamanya, Dedy Mawardi menjadi pengacara rakyat miskin seperti itu. Urusannya bukan urusan meeting dari gedung ke gedung, melainkan dari satu dusun ke dusun lainnya. Itupun masih diselingi dengan hadangan preman bayaran perusahaan, yang tidak senang melihat Dedy membela rakyat.
Di masa itu, di mana rezim Orde Baru sedang ganas2nya, pekerjaan membela rakyat kecil itu, dengan mudah dicap PKI dan karenanya bisa “hilang” begitu saja, tidak terlacak. Tapi Dedy tidak pernah mau surut. Baginya, bekerja membela rakyat kecil itu adalah pekerjaan yang terhormat. “Bukan cuma gua yang punya rasa takut, orang yang berniat jahat ke gua mungkin rasa takutnya justeru lebih gede,” begitu ia meyakinkan kawan2nya.
Sadar akan berat dan besarnya resiko pekerjaannya sebagai pembela rakyat, di pertengahan tahun 90 an, Dedy merintis berdirinya LBH YLBHI di Bandarlampung. Tidak butuh waktu lama, “kantor” itu segera saja menjadi pusat gerakan.
Kantor LBH itu tidak pernah sepi. Kapanpun orang datang ke kantor itu, akan melihat diskusi yang tak jarang sangat panas. Kantor LBH yang menempati bangunan ruko milik orang tua Dedy Mawardi itu juga menjadi Sekretariat Gerakan Petani dan Nelayan, Sekretariat Gerakan Mahasiswa, dan Sekretariat Gerakan Buruh.
Berbeda dengan pengacara pada umumnya, yang membela orang miskin sekedar untuk membangun citra, atau
dengan maksud membasuh dosa sebagai pengacara yang oleh profesi tidak dibenarkan “menolak klien”, betapapun bejatnya klien itu. Dedy membela kliennya yang ribuan itu dengan hati. “Tanpa idealisme mana kuat gua berperkara setiap minggu sepanjang tahun; mau duit dari mana,” katanya.
Sebenarnya agak aneh mendengar panggilan “boss” di kalangan aktivis gerakan atau NGO. Tapi sapaan itu melekat pada Dedy. Hampir “semua orang” di Lampung menyapanya dengan boss. Entah siapa yg memulai menyapanya dgn sapaan boss itu, entahlah.
Tapi melihat cara Dedy memperlakukan kliennya (petani/ nelayan/ buruh miskin), dan melihat fakta dia secara pribadi banyak memfasilitasi (membiayai) sendiri pengorganisasian gerakan, agaknya sebutan boss itu berasal dari kaum miskin (termasuk aktivis) yg “hidupnya” pernah diselamatkannya.
Pengalaman Dedy Mawardi didalam membangun perlawanan kaum miskin terhadap ketidakadilan, mendorong koleganya di propinsi lain di Sumatera, untuk membentuk organisasi yang dimaksudkan untuk menggerakkan, mengkoordinasikan memfasilitasi gerakan protes khususnya di Sumatera.
Pembentukan organisasi gerakan di tingkat regional Sumatera itu, beriringan dengan semakin meningkatnya gerakan protes dari hampir seluruh elemen di Sumatera, terhadap kekuasaan Orde Baru yg mulai membusuk. Dedy Mawardi dan kawan2 mendirikan Kantor Bantuan Hukum di setiap propinsi di Sumatera.
Kalau dulu Dedy bekerja untuk mengelola LBH di bawah koordinasi YLBHI, setelahnya Dedy Mawardi bertugas mengkordinasikan KBH2 sebagai Sekjend Yayasan Pendidikan & Bantuan Hukum Indonesia (YPBHI).
Sesuai dengan maksud diadakannya KBH di setiap propinsi di Sumatera, dalam sekejap KBH2 itupun berobah menjadi “pusat gerakan” di propinsi yang bersangkutan. Ini jelas membuat Dedy sibuk luar biasa. Dia harus bolak balik mengunjungi setiap KBH itu, memberikan arahan secara langsung, karena memang hanya dialah yang paling berpengalaman mengoperasikan Kantor Bantuan Hukum merangkap pusat gerakan perlawanan.
Rasanya, tidak ada pemimpin perlawanan di akar rumput di Sumatera — pada periode akhir Orde Baru dan masa awal Orde Reformasi — yang tidak mengenal Dedy Mawardi. Di penghujung tahun 90 an itu, adalah puncaknya gerakan perlawanan rakyat Sumatera terhadap kekuasaan Orde Baru. Pemimpin petani/ rakyat/ buruh, hampir setiap hari ditangkapi di hampir semua daerah. Dedy Mawardi memimpin dan menggerakkan semua KBH YPBHI untuk mendampingi rakyat dan mahasiswa yang ditangkapi karena melakukan demonstrasi.
Banyak yang menduga, setelah gerakan rakyat berhasil menjatuhkan Soeharto, pada 1998, Dedy Mawardi akan pensiun dari urusan membela rakyat miskin. Tapi ternyata tidak. Sejarah mencatat, dia hanya bergeser saja sedikit dari pekerjaan tidak enak itu, ke pekerjaan lain yang juga tidak enak.
Kejatuhan Orde Baru meninggalkan luka yang menganga lebar dalam Demokrasi. Lebih dari tigapuluh tahun bangsa ini dicekoki dengan cara bernegara yang sesat oleh Orde Baru. Dedy Mawardi dan kawan2nya yang ada di YPBHI melihat perlunya langkah kongkrit untuk memperkenalkan kembali bagaimana seharusnya hidup bernegara.
Bertahun-tahun pula lamanya dia berkeliling Sumatera — dengan bendera KBH YPBHI — melakukan “Pendidikan Kewarganegaraan.’ Di level organisasi masyarakat sipil, diperkenalkan kembali tentang hak dan kewajiban warga dalam bernegara. Di level legislatif, KBH – YPBHI dengan dukungan Fredirich Nauman Stiftung (NGO Jerman) dan Uni Eropa, melakukan pelatihan berjenjang untuk meningkatkan kapasitas anggota parlemen.
Dengan jejak panjang seperti itu, rasanya hampir tidak mungkin membicarakan “gerakan” di Sumatera (bahkan mungkin di Indonesia — karena dia juga salah seorang tokoh yang turut membidani lahirnya Konsorsium Pembaharuan Agraria, KPA) tanpa menyebut nama Dedy Mawardi. Tapi, demikianlah takdir … menjelang zhuhur dalam Waktu Indonesia Barat, rabu 07/07/2021, tanpa tanda2 sama sekali, kabar kepergian Dedi Mawardi, sambung menyambung di semua media sosial.
Sekarang, dan untuk selamanya, tidak akan terdengar lagi ajakannya untuk ngopi2 sambil dengan enteng membahas perangai para pengelola republik dari Dedy Mawardi. Dia yang selalu “menyapa” dengan riang dan tawa berderai, telah pergi untuk selamanya. Dia pergi dengan meninggalkan jejak perjuangan yang meski berliku, tapi indah dan penting di Sumatera.
Selamat jalan kawan ….
Tidak pernah aku membayangkan harus menulis tentang kepergianmu.
Batin kami cabik.

