Minggu, 21 Juli 2024

Oh, Palestina dan Israel

Oleh: Rio Ismail *

PERANG? Untuk apa? Hamas meroket Israel, lalu Israel merudal kawasan Gaza. Lebih dari 1000 orang dilaporkan tewas. 700-an orang di Israel, 400 ratusan di Gaza. Israel menganeksasi, Hamas terus-menerus memompa perang dan kekerasan, bahkan menjadikan warga Gaza/Palestina sebagai tameng dan bara.

Para prosdusen dan pedagang senjata sibuk bergembira sambil berdebat soal kecanggihan senjata dan efektifitas serangan. “Penjual agama” di berbagai belahan dunia –termasuk yang di Indonesia– sibuk memompa sentimen primordial untuk alasan yang seolah atas nama agama harus menggempur Israel. Atau sebaliknya harus menggempur dan melenyapkan Palestina.

Apa artinya kemenangan, heroisme, nasionalisme dan klaim agama apapun, bila perang semacam ini justru hanya menghancurkan kemanusiaan dan keberlanjutan hidup?

Apa artinya pembelaan terhadap kematian bila kemudian menghadirkan kematian yang lebih besar?

Apa pentingnya klaim para pengusung perang bahwa serangan dan ancaman militer akan memaksa musuh untuk berunding dan berdamai?

Apa pentingnya klaim jihadis bahwa bertarung nyawa berujung di pintu surga?

Kekerasan dan perang akan selalu melahirkan rangkaian kekerasan berikutnya. Semuanya akan berujung pada “spiral kekerasan” (spiral of violence) seperti yang disebut tokoh agama, pekerja sosial, dan pejuang perdamaian, Dom Helder Camara.

Kekerasan yang bersifat personal, institusional, dan struktural yang didukung dengan pengerahan mesin perang yang canggih, sudah bisa dipastikan –bahkan selalu dibuktikan dalam sejarah– selalu berujung pada kematian, penghancuran keberlanjutan hidup, pemusnahan peradaban, ketidakadilan, bencana sosial, dan represi yang berkelanjutan.

Bagi saya, perang untuk alasan apapun dan dengan cara apapun, mestinya dianggap sebagai kejahatan. Spiral kekerasan yang dipertunjukkan Israel dan Hamas selama betahun-tahun, adalah kejahatan tak termaafkan, yang mestinya dihentikan oleh masyarakat internasional. Siapapun yang mendukung kekerasan dan perang di kawasan ini –atas nama agama sekalipun– mestinya diperlakukan sebagai penjahat.

*Penulis Rio Ismail, pengamat ekonomi politik, aktivis HAM dan mantan Direktur LBH Manado

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru