Selasa, 13 Januari 2026

PANGERAN REZA PAHLAVI SIAP KEMBALI PULANG..! Iran Tuduh Amerika Provokasi Kerusuhan

JAKARTA- Teheran menyalahkan Washington karena telah memicu aksi unjuk rasa dan mendorong terjadinya ketidakstabilan di negara tersebut, demikian disampaikan Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani dalam suratnya kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Dalam surat itu, Iravani menegaskan bahwa Iran mengecam “tindakan Amerika Serikat (AS) yang terus berlangsung, melanggar hukum, dan tidak bertanggung jawab, yang dilakukan bersama dengan rezim Israel, dalam mencampuri urusan dalam negeri Iran melalui ancaman, hasutan, serta dorongan yang disengaja terhadap ketidakstabilan dan kekerasan.”

Ia juga menyinggung perubahan aksi unjuk rasa damai di Iran menjadi kerusuhan disertai aksi vandalisme.

Unjuk rasa di Iran mulai terjadi pada akhir Desember seiring melemahnya mata uang setempat, rial Iran. Para pengunjuk rasa memprotes fluktuasi tajam nilai tukar dan dampaknya terhadap harga di tingkat grosir maupun eceran.

Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman terhadap otoritas Iran di tengah gelombang protes tersebut.

Pada Jumat (9/1), Trump mengatakan Washington akan turun tangan dan akan “memukul mereka sangat keras di titik yang paling menyakitkan” jika para pengunjuk rasa terbunuh dalam kerusuhan di Iran.

Sebelumnya pada hari yang sama, media Iran melaporkan terjadinya kerusakan pada properti milik warga dan negara di Teheran.

Wali Kota Teheran Alireza Zakani juga menyebut adanya serangan oleh peserta kerusuhan publik pada 8 Januari terhadap fasilitas aparat keamanan, pembakaran bus dan mobil pemadam kebakaran, serta penyerangan terhadap bank.

Sementara itu, televisi pemerintah melaporkan adanya korban dalam peristiwa tersebut, namun tidak merinci berasal dari pihak mana.

Pada Jumat malam, juru bicara Kepolisian Iran Saeed Montazer Al-Mahdi mengatakan bahwa situasi di seluruh Iran telah kembali kondusif, sehari setelah terjadinya kerusuhan publik secara meluas.

Mengecam Trump

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (11/1) dilaporkan, pemerintah Iran mengecam keras pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS), termasuk Presiden Donald Trump, yang berniat mengintervensi urusan dalam negeri Iran yang tengah dilanda unjuk rasa besar.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran mengatakan bahwa langkah tak bertanggung jawab tersebut adalah kelanjutan dan langkah ilegal dan perundungan AS terhadap bangsa Iran.

Pernyataan tersebut, selain melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional terkait kedaulatan negara, juga merupakan hasutan tindak kekerasan dan terorisme melawan rakyat Iran.

Kemlu Iran menyebut klaim AS “menyayangi” bangsa Iran sebagai ungkapan yang munafik serta upaya membohongi publik dan menutup-nutupi kejahatan yang telah dilakukan mereka terhadap Iran.

Iran kemudian menyoroti pentingnya peran dan tanggung jawab Sekretaris Jenderal PBB dan Dewan Keamanan PBB untuk melindungi perdamaian dan keamanan internasional menghadapi sikap sepihak AS.

Ditegaskan pula bahwa rakyat Iran tidak akan mengizinkan adanya intervensi dengan niat buruk dalam proses dialog untuk mengatasi masalah dalam negeri.

Kemlu Iran menyebut sejumlah peristiwa bersejarah yang memberi contoh jelas akan kebencian AS terhadap Iran, antara lain kudeta terhadap Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953, dukungan terhadap Irak dalam perang melawan Iran, serta penembakan pesawat penumpang di Teluk Persia pada 1988 yang menewaskan 300 orang.

Kemudian, dukungan terhadap Israel dalam serangan terhadap infrastruktur vital dan fasilitas nuklir pada 2025, pembunuhan dan teror terhadap rakyat Iran, serta sanksi berat selama puluhan tahun yang menyerang hak dasar dan kehidupan rakyat Iran.

Kemlu Iran juga memandang bahwa ancaman yang disampaikan pejabat AS terhadap negaranya adalah selaras dengan kebijakan rezim Zionis Israel yang ingin meningkatkan ketegangan di kawasan.

Republik Islam Iran akan merespons setiap agresi secara cepat, tegas, dan komprehensif, demikian Kemlu Iran.

Pangeran Reza Pahlavi Siap Kembali Iran 

Pangeran Iran Reza Pahlavi mengaku akan kembali ke Teheran. (Ist)

Terpisah dilaporkan, pangeran Iran Reza Pahlavi menyerukan para demonstran untuk melanjutkan demonstrasi jalanan mereka selama dua malam lagi dan merebut pusat-pusat kota, sambil mendesak para pekerja di sektor energi dan transportasi untuk memulai pemogokan nasional.

Dalam pesan yang ditujukan kepada para demonstran, Pahlavi memuji apa yang ia sebut sebagai “keberanian dan ketahanan” mereka setelah jutaan orang menanggapi seruannya untuk melakukan protes pada hari Kamis dan Jumat, mengatakan bahwa kehadiran massa mereka memberikan respons yang tegas terhadap ancaman yang dikeluarkan oleh kepemimpinan Republik Islam.

Ia mengatakan skala demonstrasi tersebut telah mengguncang pemerintahan dan mengungkap kerapuhan aparat keamanannya.

Melansir Iran International, Pahlavi mengatakan fase selanjutnya dari gerakan tersebut harus fokus pada kehadiran di jalanan yang berkelanjutan dan tekanan ekonomi, dengan alasan bahwa memutus jalur keuangan Republik Islam akan melumpuhkan kemampuannya untuk melanjutkan penindakannya.

Ia secara khusus menyerukan kepada para pekerja di sektor transportasi, minyak dan gas, dan sektor energi yang lebih luas untuk memulai pemogokan nasional.

Pangeran yang diasingkan itu mendesak para demonstran untuk kembali turun ke jalan pada Sabtu dan Minggu malam mulai pukul 6 sore, menyerukan mereka untuk membawa bendera, simbol, dan gambar nasional serta merebut kembali ruang publik.

Ia menekankan bahwa tujuan telah bergeser melampaui demonstrasi simbolis, dengan mengatakan bahwa para demonstran harus bersiap untuk merebut dan menguasai area pusat kota-kota besar.

Untuk mencapai hal ini, Pahlavi mendorong para demonstran untuk bergerak menuju pusat kota dari berbagai rute, menghubungkan kerumunan yang terpisah, dan mempersiapkan diri untuk tinggal lama di jalanan dengan mengatur persediaan dasar terlebih dahulu.

Menyampaikan pesan kepada anggota pasukan keamanan dan unit bersenjata yang telah menyatakan dukungan untuk platform pembelotan oposisi, Pahlavi mendesak mereka untuk lebih memperlambat dan mengganggu apa yang ia gambarkan sebagai “mesin penindasan” Republik Islam, dengan mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk melumpuhkannya sepenuhnya pada saat yang menentukan.

Ia juga mengatakan bahwa ia sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke Iran, berjanji untuk berdiri bersama rakyat Iran pada apa yang ia gambarkan sebagai kemenangan “revolusi nasional,” menambahkan bahwa ia percaya momen seperti itu akan segera tiba. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru