Sabtu, 15 Juni 2024

Panglima TNI Ajak Rakyat Melawan ISIS

JAKARTA- Panglima TNI Moeldoko menegaskan bahwa kebersamaan segenap rakyat dan komponen bangsa akan dapat memelihara dan menjaga NKRI dari ancaman Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

 

Dalam rilis kepada Bergelora.com Sabtu (1/11) Panglima menjelaskan bahwa ISIS bergerak menggunakan strategi terselubung bernama ‘the hornet’s nest’ atau strategi sarang lebah hornet, yaitu strategi yang bertujuan membawa semua ekstrimis-ekstrimis utama dunia, untuk bergerak ke satu tempat atau tujuan. Sebagian besar untuk mengguncang stabilitas negara yang dianggap musuhnya.

“Melalui manusia-manusia bergaris keras ini maka akan memunculkan paham-paham yang juga bergaris keras, pelan namun pasti, ajaran ditekuk, dipelintir, digeser, disalah-artikan, lalu merekrut pengikut yang juga bergaris keras.   Kemudian ratusan bahkan ribuan orang yang memiliki naluri “satu species” ini pun menjadi alat untuk mencapai tujuan ISIS,” ujarnya dalam acara International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Pesantren Al-Hikam, yang dipimpin KH. Hasyim Muzadi, Depok, Jawa Barat, Kamis (30/10). Acara itu juga mengundang tokoh dari Irak dan Syiria untuk membahas persoalan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Jenderal TNI Moeldoko menambahkan, konflik timur tengah secara spesifik telah melahirkan ancaman global baru, yaitu lahirnya kelompok radikal ISIS. Berkembangnya kelompok radikal ISIS telah menjadi kegelisahan internasional, disebabkan oleh, fenomena meningkatnya warga negara di kawasan Eropa, Amerika dan Asia serta  kawasan Asia Pasifik, dengan kelompok negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Organisasi teroris ISIS lebih buruk dibandingkan Al Qaeda, dengan tentara yang dilengkapi persenjataan yang telah banyak korban atas kebrutalan ISIS,” ujarnya.

Perkembangan keanggotaan ISIS dari warga negara asing ini menurut Panglima, telah menjadi kekhawatiran negara yang bersangkutan. Karena dipastikan akan berdampak pada tumbuhnya jaring kelompok ISIS di negara asal, yang akan membahayakan ketentraman, kerukunan etnis dan agama, serta keberagaman masyarakat suatu negara.

“ISIS telah jelas menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia.  Untuk itu, Indonesia harus kuat, rakyatnya harus bersatu, harus membangun ketahanan umat dan membangun ketahanan nasional, karena kita tidak ingin  ingin menjadi jawaban who the next ? dari perkembangan timur tengah,” ujarnya.

Membentuk SUMUK

Dalam pelaksanaan tugas tersebut,  khususnya tugas militer selain perang, TNI menggunakan pendekatan preventif atau pencegahan.   Untuk itu, selaku pimpinan TNI, Panglima TNI menegaskan bahwa TNI tidak memberikan toleransi dan akan mencegah berkembangnya kelompok radikal ISIS di Indonesia.

“Saya yakin para kyai dan segenap santri sependapat, bahwa ISIS tidak boleh hidup di muka bumi Indonesia. Guna mencegah berkembangnya ISIS, mari kita hadapi ISIS dengan “SUMUK”, yaitu Solidaritas Umat Muslim Untuk Ke-Bhineka-an, yang kekuatannya dilandasi oleh Pancasila, NKRI harga mati, masyarkat Indonesia yang terbuka dan toleran, serta kebersamaan rakyat-para kyai dan santri dengan TNI,” tegasnya.

Di akhir kuliahnya Panglima TNI mempersilahkan para kyai membentuk “SUMUK” dengan TNI, karena TNI juga memiliki perwira tinggi pembinaan mental di bidang kerohanian Islam.

“Pada sisi lain, saya persilahkan para kyai membangun kerjasama dengan aparat komando kewilayahan TNI, Kodam, Korem, Kodim dan Koramil, guna membina kerukunan umat serta membina kebersamaan antar umat beragama dan etnis. Kebersamaan rakyat-para Kyai dan santri dengan TNI harus terus dibangun, karena itulah totalitas kekuatan negara, dalam mencegah dan mengatasi ancaman, seperti halnya ISIS dan radikalisme lainnya,” ujarnya.

Dalam konteks hubungan internasional dan membangun kerjasama antar angkatan bersenjata, selaku Panglima TNI akan membawa masalah ISIS dan isu radikalisme global dan regional lainnya ke dalam forum konfrensi antar Panglima Angkatan Bersenjata se Asia dan Asia Pasifik, sebagai bagian dari masalah keamanan regional.

“Dalam kaitan tersebut, kiranya para Kyai dapat membantu TNI, terkait pengumpulan informasi perkembangan kelompok radikal di Indonesia dan regional, terutama yang terkait dengan perkembangan ISIS,” tegasnya.

Penanganan terorisme menurut Panglima mempengaruhi hubungan antar negara dengan semakin menguatnya kerja sama di bidang pertahanan yang menempatkan penanganan isu terorisme sebagai agenda utama.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa dampak serangan teroris 11 September 2001 telah membawa beberapa implikasi. Pertama, terorisme merupakan ancaman nyata yang mengancam jiwa manusia dan mengancam seluruh negara. Kedua,  sebagai ancaman nyata, isu terorisme menghadirkan ketidakpastian tentang kapan dan dimana aksi terorisme akan terjadi, sehingga menuntut kesiapsiagaan yang prima,” jelasnya.

Menurut Panglima, penanganan terorisme memaksa adanya peningkatan kerjasama pertahanan menjadi lebih intensif dan progresif.

“Penanganan terorisme dengan menggunakan kekuatan militer menjadi salah satu pilihan strategi pertahanan, sehingga harus ada aturan yang jelas agar tidak berbenturan dengan norma-norma demokrasi dan hak asasi manusia,” ujarnya (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru