JAKARTA- Sejak 10 tahun terakhir anak-anak Indonesia sudah sering melihat dan mendengar siar kebencian, penghinaan, penghasutan dan penyerangan yang dibiarkan berlarut-larut. Pelaku dibiarkan bebas berkeliaran dan mengulangi perbuatannya, walaupun sudah melanggar hukum. Demikian dr. Maria Mubarika dari Parade Bhinneka Tunggal Ika, di Jakarta, Sabtu (19/11) malam.“Ini semua sangat menyedihkan. Di Youtube banyak pidato mereka yang bisa ditonton dan dicontoh anak-anak kita dengan bebas. Dan orang-orang itu berapi-api eksis. Jangan lagi menyiarkan kebencian pada anak-anak kita,” ujarnya disebuah stasiun televisi.
Padahal, menurutnya bangsa ini dilahirkan untuk hidup bersama, bersatu dalam berbagai perbedaan.
“Justru kita seharusnya saling menguatkan untuk hidup berdampingan dalam berbagai perbedaaan. Hidup bersama itu universal. Dengan bersatu bangsa kita pasti akan lebih siap. Semua upaya untuk kebhinnekaan harus kita dukung,” tegasnya.
Dr Mariya Mubarika yakin parade yang baru dilakukan Sabtu (19/11) akan diikuti oleh kelompok dan daerah-daerah lainnya untuk membela kebhinnekaan yang terganggu akibat sekelompok orang.
“Selama ini kita mayoritas diam, tapi sekarang kita sadar keadaan sudah seperti ini, oleh karenanya kita tidak akan diam,” ujarnya.
Sementara Ketua Umum dari Wahid Foundation, Yenny Zannuba Wahid menjelaskan bahwa pihak kepolisian terlihat gamang dalam menangani siar kebencian penghinaan dan penghasutan yang selama ini sudah beredar di masyarakat karena tidak ada payung hukum yang jelas dan tegas untuk menertibkan.
“Banyak yang mengeluh, setelah diprovokasi aparat kebingungan memilih antara agama dan tugas negara. Padahal ajaran agama tidak pernah bertentangan dengan negara ini,” ujarnya.
Putri Presiden RI Ketiga, Abdurrachman Wahid ini yakin pasti ada juga kelompok dan kepentingan politik yang menggunakan kelompok-kelompok radikal dan memberikan ruang bicara.
“Ada orang-orang yang dengan sengaja memfasilitasi dengan memenuhi panggung dan mimbar. Mereka yang anti NKRI diberikan panggung oleh birokrasi dan lembaga pemerintah, dikantor-kantor, di polres dan kodim setiap khotbah jumat. Negara seperti kehilangan kontrol terhadap mimbar-mimbar seperti itu,” ujarnya.
Padahal menurutnya, Pancasila yang didalamnya memastikan kebhinnekaan juga dipelopori oleh kaum ulama sejak Republik Indonesia Berdiri.
“Oleh karena itu kita tidak boleh ragu karena ini hal yang mendasar. Sudah waktunya untuk kembali guru agama dan kyai dalam khotbahnya mengajarkan penghormatan terhadap sesama. Anak didik jangan lagi dibedakan berdasarkan agama dan mengucil kan agama lain, apalagi dengan mengatakan mereka kafir,” jelasnya.
Dalam Parade Bhinneka Tunggal Ika itu, anggota DPR-RI dari PDI-Perjuangan, Budiman Sujatmiko mengingatkan bahwa bangsa Indonesia lepas dari kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang lewat perjuangan berbagai macam suku dan agama yang ada di Indonesia pada saat ini.
“Oleh karenanya, semua rakyat dari berbagai macam suku dan agama serta keyakinan yang telah ada di Indonesia berhak hidup di Indonesia. Indonesia bukan hanya milik satu suku atau satu etnis atau satu agama saja. Kitalah Indonesia dalam keberagaman tapi tetap bersatu juga,” tegasnya. (Web Warouw)

