Selasa, 21 Mei 2024

Pemimpin Fatah: Hamas Didukung Iran dan Israel, Brigade Al-Qassam Berlindung di Balik Anak-anak

JAKARTA – Pemimpin gerakan Fatah yang juga mantan duta besar Palestina untuk Yordania, Osama Al-Ali, memercikkan kembali perbedaan sifat gerakannya dengan gerakan Hamas.

Dia mengatakan kalau gerakan Hamas mendapatkan dukungan dari Iran dan Israel.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya, Osama Al-Ali menjelaskan kondisi Gaza saat ini yang dikuasai Hamas seusai menerima gempuran agresi militer Israel selama enam bulan tanpa henti.

Seolah menjelaskan buah pilihan perjuangan Hamas, Osama Al-Ali menyebut tak ada lagi yang bisa dipertahankan dari Gaza.

“Apakah masih ada yang tersisa di Gaza yang bisa dipertahankan? Apa yang harus kita pertahankan? Tanah, bangunan, anak-anak, dan kelaparan… Gaza sudah berakhir.”

Osama Al-Ali secara sinis juga menyindir para pemuda Palestina yang masih berjuang bersama kelompok milisi pembebasan Palestina dengan bertanya

“Tahukah kalian arti kelaparan?” Ia melanjutkan: “Adakah yang memuji semangat? Adakah yang memuji jihad? Atau Iran?”.

Berlindung di Balik Anak-anak

Osama Al-Ali juga mengkritik cara Hamas dalam memperjuangkan pembebasan Palestina di Gaza melawan pendudukan Israel.

Dia menjelaskan kalau anggota Hamas menggunakan terowongan yang dibangun di bawah bangunan, dan mencatat bahwa bangunan dibom untuk mencapai terowongan tersebut.

Dia juga mengatakan Brigade Al-Qassam berlindung di balik anak-anak.

Osama Al-Ali bahkan mengatakan kalau Iran membayar Israel untuk mengirimkan senjata ke Tepi Barat.

Dilansir Khaberni, dalam pernyataan sebelumnya, Osama Al-Ali menegaskan Hamas jelas didukung oleh Iran dan Israel.

Al-Ali menyatakan dalam sebuah wawancara dengan Al-Arabiya kalau “Hamas adalah milisi di Palestina yang tidak mewakili negara (Palestina).”

Dia menekankan, Hamas tidak akan meninggalkan kekuasaan di Gaza kecuali jika dipaksa.

Dia menambahkan, “Hanya rakyat Gaza yang memutuskan siapa yang memerintahnya.”

Osama Al-Ali juga menilai kalau agresi Israel di Gaza akan berlangsung tahunan.

“Israel tidak akan meninggalkan Gaza selama dua tahun atau lebih,” katanya dilansir Khaberni.

Selain itu, ia mengungkapkan, “Kami berulang kali mengupayakan rekonsiliasi, namun Hamas menolak,” dan menjelaskan, “Kami meninggalkan Gaza secara sukarela agar tidak terlibat dalam perang saudara.”

Osama menegaskan, kalau “proses negosiasi dengan Israel tidak gagal’, menjelaskan upaya yang dilakukan Fatah sejauh ini.

Perbedaan Hamas dan Fatah

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Konflik Israel-Palestina yang berlangsung selama puluhan tahun, melibatkan dinamika kompleks dari dua kekuatan politik utama, yaitu Hamas dan Fatah.

Walaupun sama-sama berupaya mencapai kemerdekaan bagi masyarakat Palestina, tetapi ideologi dan tujuan kedua kelompok ini berbeda.

Fatah dikenal sebagai Gerakan Pembebasan Nasional Palestina. Organisasi ini merupakan entitas politik dengan afiliasi sosial demokrat nasionalis Palestina dan kantornya terletak di Gazza, Jalur Gaza.

Sebagai partai politik terbesar kedua di Dewan Legislatif Palestina (PLC), Fatah memiliki hubungan erat dengan Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, yang juga merupakan anggota partai ini.

Dengan slogan “Ya Jabal Ma yhezak Reeh” yang berarti Angin tidak dapat menggoyahkan gunung, Fatah telah menjadi pemain kunci dalam sejarah politik Palestina.

Identitas Fatah secara historis dikaitkan dengan Yasser Arafat, pendiri partai ini, yang menjabat sebagai ketua hingga kematiannya pada 2004.

Yasser Arafat sebagai salah satu pendiri dan pemimpin utama Fatah, secara historis menjadi simbol perjuangan Palestina melalui peranannya dalam perjuangan bersenjata, kepemimpinan di PLO, penandatanganan Perjanjian Oslo, dan pengakuan terhadap negara Palestina.

Posisi Arafat kemudian digantikan oleh Farouk Kaddoumi secara konstitusional dan kemudian oleh Abbas pada 2009.

Fatah memiliki sejarah keterlibatan dalam perjuangan resolusi dan dukungan terhadap kelompok perlawanan.

Namun, setelah kematian Arafat, terlihat semakin jelas adanya faksionalisme dalam gerakan ini dengan variasi ideologis yang beragam.

Dalam pemilihan Dewan Legislatif Palestina pada 2006, Fatah menghadapi kekalahan mayoritas dari Hamas yang kemudian memicu konflik antara kedua pihak.

Meskipun kehilangan mayoritas di tingkat nasional, Fatah mempertahankan kendali atas Otoritas Nasional Palestina di Tepi Barat dan tetap aktif mengontrol kamp-kamp pengungsi Palestina.

Dalam spektrum posisi politik, Fatah secara umum diklasifikasikan dari kiri-tengah hingga sayap kiri.

Sedangkan Hamas adalah organisasi fundamentalis Islam yang berbasis di Palestina, juga dikenal sebagai kelompok perlawanan dan nasionalis Sunni.

Hamas merupakan singkatan dari Harakat al-Muqawama al-Islamiya (Gerakan Perlawanan Islam).

Kelompok ini didirikan oleh Sheikh Ahmed Yassin, seorang ulama Palestina yang menjadi aktivis di cabang-cabang lokal Ikhwanul Muslimin setelah mengabdikan awal hidupnya untuk ilmu pengetahuan Islam di Kairo.

Mulai akhir tahun 1960-an, Yassin memberikan khotbah dan melakukan pekerjaan amal di Tepi Barat dan Gaza, yang kedua-duanya diduduki Israel setelah Perang Enam Hari pada 1967.

Sheikh Yassin mendirikan Hamas sebagai sayap politik Ikhwanul Muslimin di Gaza pada Desember 1987, setelah pecahnya intifada pertama yang merupakan sebuah perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur.

Hamas pada saat itu dibentuk untuk merespons ancaman dari kelompok Palestina Islamic Jihad (PIJ), yang keras berkomitmen melawan Israel dan berpotensi menggeser dukungan Palestina dari Ikhwanul Muslimin (The Muslim Brotherhood).

Mereka memiliki dua sayap utama, yakni sayap pelayanan sosial yang disebut Dakwah dan sayap militer yang dikenal sebagai Brigade Izz ad-Din al-Qassam.

Hamas menolak segala bentuk negosiasi yang bisa mengakibatkan pengorbanan tanah Palestina.

Dalam historisnya, Hamas memiliki afiliasi nasional dengan aliansi pasukan Palestina dan afiliasi internasional dengan Ikhwanul Muslimin.

Pada 2006, Hamas memenangkan pemilihan legislatif Palestina.

Setahun kemudian, mereka menguasai Jalur Gaza setelah pertempuran yang disebut Pertempuran Gaza. Hamas juga memiliki mayoritas di parlemen Otoritas Nasional Palestina.

Pemimpin Hamas, seperti Khaleed Mashaal dan Ismail Haniyeh berbasis di Qatar.

Sayap militer Hamas kerap melancarkan serangan, terutama sebagai balasan atas tindakan Israel.

Selama sejarahnya, Hamas juga menentang perjanjian damai, seperti Perjanjian Oslo tahun 1993 antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Perbedaan Antara Fatah dan Hamas

Perbedaan antara kedua organisasi ini mencakup sejumlah aspek yang mencerminkan perbedaan ideologis, strategi, dan tujuan politik mereka.

Tujuan politik Fatah telah secara resmi mengakui keberadaan Israel dan memiliki tujuan untuk membentuk negara Palestina di wilayah perbatasan pada 1967.

Di sisi lain, meskipun Hamas menerima gagasan negara Palestina, mereka tidak mengakui kedaulatan Israel.

Ideologi yang Berbeda

Perbedaan ideologis antara Fatah dan Hamas sangat mencolok.

Fatah menganut nilai-nilai demokrasi sosial, solusi dua negara, nasionalisme Palestina, dan sekularisme.

Sementara itu, Hamas memiliki ideologi yang mencakup unsur-unsur Islami, sikap anti-Zionisme, nilai-nilai agama, dan bahkan pandangan yang mencirikan antisemitisme.

Para Pendiri

Tokoh-tokoh kunci yang membentuk Fatah adalah Salah Khalaf, Yasser Arafat, Khalil al-Wazir, dan Khaled Yashruti.

Adapun Hamas didirikan oleh figur-figur seperti Hassan Yousef, Mahmoud Zahar, Ibrahim Quba, dan Mohammad Taha.

Afiliasi yang berbeda
Secara historis, Fatah memiliki afiliasi dengan Organisasi Pembebasan Palestina (nasional), partai sosialis Eropa, dan aliansi progresif sosialis internasional (internasionale).

Sementara itu, Hamas terhubung dengan aliansi pasukan Palestina (nasional) dan Ikhwanul Muslimin (internasional).

Strategi yang berbeda Fatah memilih jalur diplomatis dengan bernegosiasi dengan Israel, sedangkan Hamas mengadopsi strategi perlawanan bersenjata sebagai tanggapan terhadap ketegangan dengan Israel. (Iqbal)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru