JAKARTA- Mahasiswa Indonesia di Wuhan mulai drop mentalnya dan pasrah bahkan pesimis ada evacuation plan dari pemeritah. Hal ini dilaporkan Khoirul Umam Hasbiy, Ketua Ranting PPIT (Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok) di Huazhong University of Science dan Technology di Wuhan, China kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (29/1)
“Saya gak bisa sebut namanya karena belum confirm. Ada WNI Kita yang ada gejala batuk lebih dari 2 minggu dan takut untuk periksa ke dokter setempat karena takut dikarantina dan ditelantarkan karena semakin membludaknya pasien dari klinik dan rumah sakit. Jadi mereka mengambil keputusan untuk diam dan berharap bisa pulang dan diperiksa di Indonesia. Risky choice!,” jelasnya lewat pesan Whatsapp grup.
Hasbiy menceritakan bahwa pada hari Selasa (28/1) kemarin, para warga Indonesia diberikan bantuan dari pihak KBRI.
“Kami diberi bantuan dari pihak KBRI sebesar 280 RMB atau sekitar Rp 560,000 per orang untuk seminggu. Ada beberapa Bantuan yang ditawarkan kepada kami tapi bersifat ‘kedaerahan’ artinya untuk daerah dan kepada warga daerah itu sendiri. Saya menolak,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan harusnya bersifat 1 Indonesia bukan hanya menyelamatkan golongan atau kelompok tertentu.
Ia meminta pada pemerintah agar ada rencana evakuasi, walaupun menurutnya percuma dalam kondisi saat ini.
“Tapi at least ada harapan bagi kami untuk keluar dari Wuhan, Hubei province. Sudah kami informasikan di grup kami bersama KBRI,” ujarnya.
Wuhan Ditutup
Sementara itu sebelumnya, Nugraha Kris, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Central China Normal University. Mahasiswa yang mengambil School of foreign languages. Jurusannya Linguistics ini melaporkan saat ini kota Wuhan masih ditutup.
“Tidak sembarangan orang bisa masuk atau keluar Wuhan. Untuk masuk atau keluar, mereka harus melalui pemeriksaan yang ketat,” jelasnya dari Wuhan secara terpisah lewat Whatsapp. kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (28/1) malam.
Pemerintah China di Wuhan menurutnya meminta masyarakat menjaga kesehatan, pakai masker ketika di luar.

“Diharap tidak keluar bila tidak penting. Cuci tangan dengan sabun bila selesai beraktivitas di luar. Mengukur suhu tubuh setiap hari dan melaporkan ke pejabat yang berwenang (kampus) bila mengalami gangguan seperti flu. Dan Jangan panik,” jelasnya, sambil menambahkan bahwa sampai hari ini suplai logistik tercukupi.
Mantan mantan penasihat PPIT (Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok) periode 2017-2018 ini menjelaskan sampai saat ini situasi di kota Wuhan cukup tenang bahkan sepi.
“Sampai saat ini kami masih bisa mengatasi rasa takut dikalangan mahasiswa Indonesia,” jelasnya.
Wuhan, adalah ibu kota Provinsi Hubei di Tiongkok Tengah, adalah pusat komersial yang dibagi oleh sungai Yangtze dan Han. Kota ini luasnya 8,494 km2, memiliki banyak danau dan taman, termasuk Danau Timur yang luas dan indah. Di dekatnya adaMuseum Provinsi Hubei menampilkan peninggalan dari periode negara-negara berperang, termasuk peti mati Marquis Yi dari Zeng dan lonceng musik perunggu dari abad ke-5 SM-nya. makam. Populasi di Wuhan sebanyak: 11,08 juta (2018). Kemenlu menyebutkan 60 orang mahasiswa Indonesia dari 93 WNI ada di Wuhan. Sementara itu Menkes Terawa menyebut jumlahnya WNI di Wuhan sebanyak 243 dan saat ini kondisinya masih sehat. (Web Warouw)

