Kamis, 29 Februari 2024

Resensi Buku : Alam Semesta Bukan Ciptaan Tuhan

JAKARTA- “Apakah anda percaya alam semesta diciptakan oleh Tuhan? Apakah anda percaya manusia pertama adalah Adam dan Hawa? Setelah membaca buku ini, boleh jadi apa yang anda percayai sebagai kebenaran selama ini akan Berubah! Apakah anda ingin mengetahui siapa dan bagaimana Orang Jawa? Apakah anda ingin mengetahui asal usul Orang Jawa sejak alam semesta terjadi? Apakah anda ingin mengetahui kepercayaan dan sejarah leluhur Jawa? Apakah anda tahu orang Jawa dan Sunda itu bersaudara? Setelah membaca buku ini, semua pertanyaan anda akan terjawab,”  demikian Sigit Wibowo, mantan Wartawan Sinar Harapan menantang Bergelora.com lewat pesan Whatsapps nya.

Sigit Wibowo dan Eko Teguh Widodo baru saja menerbitkan buku berjudul “Sejarah Perjalanan Orang Jawa (230 SM-1292 M)” dengan anak judul “Alam Semesta Bukan Ciptaan Tuhan”  Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Jawa Kanung ini bersumber dari tulisan-tulisan kuno yang umurnya lebih dari 2.000 tahun.  Buku ini boleh jadi akan merubah total tentang apa yang anda anggap sebelumnya sebagai kebenaran yang anda yakini.

Dalam pengantarnya, Buku ini menyampaikan perjalanan Orang Jawa dari masa ke masa telah direkam dan dicatat dengan baik, lalu disimpan secara rapat-rapat oleh Keluarga Badra.  Babad Kanung ini merupakan upaya dari generasi penerus yang masih tersisa untuk mengabadikan catatan-catatan sejarah mengenai peristiwa-peristiwa penting sejak kedatangan para leluhur dari China dan India ke Pulau Jawa (Zhou Hwa).  Penduduk Jawa adalah campuran dari orang-orang Lingga yang ada sebelum orang-orang dari China berpindah ke Pulau Hainan menuju ke Nusa Baru Nai (Kalimantan) dan pada perjalanan terakhir tiba di Nusa Kendheng (Zhou Hwa/Jawa).

Zhou Hwa adalah sebutan yang berasal dari orang-orang keturunan China sedangkan Jawa adalah sebutan dari orang-orang India untuk menyebut lima gugusan pulau yang dipenuhi gunung-gunung berapi.  Pada waktu rombongan Kie Seng Dhang yang berjumlah 15 orang datang ke Jawa, kondisinya belum seperti sekarang tapi merupakan gugusan pulau-pulau dengan hamparan gunung-gunung berapi yang menjulang ke langit.

Manusia akan melihat dirinya sebagai mata rantai dalam proses sejarah yang terus berjalan sehingga manusia hidup dalam gerakan yang terus-menerus, bahkan ketika manusia tidak memiliki perspektif sejarah sekalipun.  Manusia tetap akan berada diantara masa lalu dan masa depan.  Masa lalu dibutuhkan sebagai kaca benggala bagi masa depan, sehingga pemahaman sejarah di masa lalu akan menentukan apa yang akan terjadi di masa depan.

Buku ini ditulis oleh anak keturunan leluhur Jawa yang memiliki tekad agar orang Jawa tetap “Jawani”.  Orang Jawa agar tidak menjadi “Jawal” atau benalu yang hidup tanpa arah dan tidak mengetahui jati dirinya.  Buku ini dibuat dalam semangat maju terus pantang mundur untuk membangkitkan kembali nilai-nilai luhur budaya Jawa yang mulai ditinggalkan orang-orang Jawa.  Banyak orang Jawa telah kehilangan arah dan tak tahu harus melangkah kemana.  Lebih dari 2.000 tahun lalu, para leluhur Jawa telah bersumpah setia bahwa mereka tidak akan meninggalkan identitas Kejawaannya.

Maka mengenal orang Jawa dimulai dengan mengetahui asal-usulnya, kepercayaannya, adat istiadatnya, nilai-nilai yang diyakininya dan sejarah perjalanan orang Jawa itu sendiri.  Setelah mengetahui dan mengenal dirinya sendiri maka orang Jawa akan yakin dengan jati dirinya dan tidak terombang-ambing oleh pengaruh budaya dari luar yang tidak cocok dengan kepribadian orang Jawa.

Dalam Bab I buku ini memang membutuhkan pemahaman mendalam dan terasa berat karena berupaya menjelaskan awal mula alam semesta sebelum ada kehidupan.  Pembaca perlu berhati-hati memahaminya karena ini bukanlah perkara mudah untuk dituliskan, bahkan oleh penulis sendiri pada awalnya.  Penulis perlu berkali-kali memilih kata-kata yang tepat guna melukiskan apa yang terjadi pada awal mula kehidupan di dunia, sebuah proses panjang untuk melakukannya.

Bab II hingga Bab XVII berisi uraian sejarah yang lebih mengalir dan diungkapkan dengan bahasa dan penuturan yang sederhana agar pembaca bisa memahaminya dengan mudah.  Sejarah yang ditulis memang tidak menyuguhkan data lengkap dengan persaratan ilmiah, melainkan disajikan serangkaian kisah sejarah dalam garis besar yang sambung-menyambung antara satu kejadian dengan kejadian yang lain.  Tulisan dibuat secara ringkas dan disertai uraian yang memadai.  Tidak semua kejadian sejarah ditulis secara mendetil, namun dengan mempertimbangkan penting tidaknya suatu kejadian sejarah.  Semua peristiwa penting yang pernah terjadi di Jawa pasti ditulis dalam Babad Kanung ini.

Penulis berharap buku ini bisa membantu generasi sekarang dan mendatang mampu bersikap arif dan bijaksana dalam memahami sejarah.  Pencerahan akan terbit di ufuk cakrawala pada saat Orang Jawa sadar akan Kejawaannya.  Akal budi, hati dan kehendak jiwa akan menjadikan nilai-nilai luhur budaya Jawa sebagai hembusan nafas dalam kehidupan sehari-hari.  Agama Budhi yang mengedepankan kesadaran bahwa semua bagian di alam semesta ini adalah mitra setitah akan selalu terpatri di hati Orang-Orang Jawa.

Adapun persaingan politik yang melibatkan keturunan Chandra (Chandra Manu) dan keturunan Surya (Surya Manu) yang menghiasi perubahan kekuasaan selama berabad-abad di Jawa harus dimaknai sebagai pembelajaran.  Konflik politik secara turun-temurun ini memang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Orang Jawa itu sendiri tapi bukan berarti untuk dibesar-besarkan melainkan menjadi cermin guna menengok masa lalu. (Web Warouw)

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru