Rabu, 28 Januari 2026

Segera..! Persatuan Retak, Sesepuh Bangsa Desak Pemerintah Segera Selamatkan Negara

Forum Sesepuh Bangsa untuk Perdamaian Indonesia, di Bulaksumur, Universitas Gadjahmada, Yogyakarta, Jumat, (26/5). (Ist)

YOGYAKARTA- Pemerintah diminta segera bersikap tegas dan bijaksana dalam menanggapi situasi yang menjurus pada keretakan persatuan dan segera bertindak mengutamakan keselamatan bangsa dan negara. Hal ini disampaikan oleh Forum Sesepuh Bangsa untuk Perdamaian Indonesia, di Bulaksumur, Universitas Gadjahmada, Yogyakarta, Jumat, (26/5).

“Pendidikan politik dan sejarah kebangsaan perlu dikuatkan kembali, baik kepada para politisi maupun semua elemen bangsa, demi keselamatan dan masa depan bangsa,” demikian seruan para Sesepuh Bangsa.

Sesepuh yang datang berkumpul diantaranya, Buya Ahmad Syafii Maarif, KH Ahmad Mustofa Bisri, Kardinal Julius Dharmaatmadja, Prof M. Quraish Shihab, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Bhikku Nyana Suryanadi, Mohamad Sobary, Pendeta Gomar Gultom, Prof Abdul Munir Mulkan, KH Imam Azis, dan lain-lain.

Sesepuh Bangsa  ini menegaskan kembali bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk bukan secara alami melainkan sebuah kesepakatan dari banyak elemen generasi muda tercerahkan yang pada awalnya berkumpul dalam sebuah momen yang dikenal sebagai Konggres Pemuda dan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Indonesia menurut mereka, diciptakan dengan sengaja melalui toleransi dan persatuan ketika para pendiri negara ini, para ulama, pendeta, kepala suku, cendekiawan, dengan sukarela melepas bajunya demi persatuan NKRI.

Para pendiri bangsa telah menjadikan kredo persatuan sebagai senjata yang paling ampuh untuk meraih cita-cita nasional sekaligus tujuan bernegara sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Perbedaan pendapat di antara mereka cukup tajam dan sering terjadi, namun perbedaan sesungguhnya merupakan khazanah yang memperluas perspektif kebangsaan asalkan dapat disiasati dalam sebuah permusyawaratan keadilan.

“Akan tetapi, selama berbulan-bulan terakhir, kehidupan berbangsa kita sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Proses mengupayakan negara demokrasi yang matang diguncang oleh situasi politik yang tampak jauh dari kesantunan dan adab mulia,” demikian kesimpulan para sepuh.

“Kita disuguhi berbagai manipulasi yang tidak memberikan pendidikan politik yang layak dianuti, melainkan sajian drama saling serang antar kubu yang berseberangan. Masyarakat menjadi tidak tabu pada ujaran kebencian serta tidak malu-malu lagi untuk adu caci maki di hadapan publik yang luas,” lanjut mereka.

Situasi yang sarat muatan kecurigaan dan ketakutan antar kelompok tersebut tentu tidak boleh terus dilanggengkan. Momen suasana keagamaan menjelang Ramadan yang selayaknya penuh kedamaian ini adalah waktu yang tepat untuk bersama-sama berupaya mengambil jeda, menciptakan jarak pandang agar dapat menoleh ke belakang merenungi persatuan yang koyak akibat fitnah, adu domba, dan kepentingan politik serta keinginan berkuasa secara tamak yang berjalin-kelindan.

Para sesepuh bangsa yang telah mengikuti perjalanan bangsa, menyampaikan keprihatinan dan seruan atas kondisi kebangsaan saat ini. Kesadaran ini didukung kerinduan untuk bertemu bersama dalam sebuah Forum Sesepuh Bangsa untuk Perdamaian Indonesia.

“Para sesepuh bangsa ini telah mengikuti perjalanan kehidupan berbangsa, melampaui beberapa momen sejarah. Dalam kondisi saat ini, kita membutuhkan percikan kearifan dan inspirasi dari beliaubeliau, agar perjalanan sejarah bangsa kita bisa tetap dijaga pada arahnya,” demikian pernyataan para penggagas forum ini Jeirry Sumampouw, Defy Indiyanto Budiarto, Romo Benny Susetyo, dan Alissa Wahid.

Dibawah ini seruan Sesepuh Bangsa yang diterima Bergelora.com,

  1. Semua elemen bangsa, khususnya Pemerintah, harus melakukan penyadaran bagi semua pihak tentang pentingnya persatuan dalam Indonesia yang bhinneka, dan mendudukkan Pancasila sebagai kepribadian bangsa untuk semua generasi.
  2. Pemerintah harus bersikap tegas dan bijaksana dalam menanggapi situasi yang menjurus pada keretakan persatuan dan segera bertindak mengutamakan keselamatan bangsa dan negara.
  3. Pemerintah harus memiliki sikap dan bahasa yang sama dalam menghadapi berbagai tantangan hidup berbangsa dan bernegara.
  4. Pendidikan politik dan sejarah kebangsaan perlu dikuatkan kembali, baik kepada para politisi maupun semua elemen bangsa, demi keselamatan dan masa depan bangsa.
  5. Perlu dibangun persaudaraan sejati dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, demi terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan kepada semua makhluk ciptaan Tuhan, bahkan semua agama mewajibkan penerimaan dan penghormatan kepada orang lain.

Yogyakarta, 26 Mei 2017

Buya Ahmad Syafii Maarif,

KH Ahmad Mustofa Bisri,

Kardinal Julius Dharmaatmadja,

Prof M. Quraish Shihab,

Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid,

Bhikku Nyana Suryanadi,

Ida Bagus Agung,

Engkus Ruswana

Mohamad Sobary,

Pendeta Gomar Gultom,

Prof Abdul Munir Mulkan,

KH Imam Azis,

Budi Suniarto.

(Hari Subagyo)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru