JAKARTA- Pemasangan thermo scanner seharusnya juga dilakukan di tempat-tempat pengambil kebijakan vital seperti dipintu-pintu Istana Negara dan pintu DPR-RI. Karena corona virus menular human to human (manusia ke manusia). Hal ini disampaikan Mantan Kepala Pusat Krisis dan Bencana Departemen Kesehatan, Dr. Rustam Pakaya, kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (28/1).
“Jangan sampai lengah karena ini human to human. Saya belum lihat thermo scanner di DPR dan Istana. Itu penting untuk melindungi pengambil kebijakan tertinggi, jika dalam keadaan darurat,” tegasnya.
Ia mengingatkan walaupun sudah dipasang di seluruh bandara dan pelabuhan tapi thermoscanner harus dipasang berlapis karena penularan dari manusia kemanusia bisa lewat udara.
“DPR dan Istana tempat yang banyak dikunjungi orang secara terbuka. Jangan sampai ada kejadian dahulu, kemudian kita nanti panik,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa di bandara pun seharusnya thermoscanner lapis tiga. Meskin angka kematian dari corona virus kurang dari 5% yaitu 2.000 kasus bagi 81 kematian x 100%.
“Lapis pertama dalam pesawat yang datang. Petugas kesehatan masuk untuk memeriksa terlebih dahulu. Cek semua penumpang dan semprot pesawatm dengan obat. Lapis kedua masuk terminal dan lapis ketiga..setelah check paspor. Baru clear,” jelasnya.
Rustam menjelaskan, dibandingkan dengan berbagai penyakit menular seperti SARS, Flu Burung dan Flu Babi, Corona Virus dan Flu Babi sudah dapat menular human to human (dari manusia ke manusia). Tetapi case fatality rate tertinggi adalah flu burung (Avian Flu) bisa lebih dari 50%,–meski belum terbukti menular human to human.
Dari pengalamannya sebagai Kepala Pusat Krisis dan Bencana Kesehatan 2006-2010 dibawah Menteri Kesehatan semua menjadi lebih mudah untuk koordinasi dan bertindak
“Apalagi pada saat Flu Babi ada hajatan besar di Bali yang dihadiri 6.500 bankir dan ekonom dunia,” jelasnya.
Saat itu menurutnya ia memberlakukan 4 Undang-Undang yaitu UU Kesehatan, Undang-Undang Karantina, Undang-Undang Wabah dan Undang—Undang Bencana.
“Maka semua pesawat yang lewati hongkong atau dari Brazil dan lainnya kita isolasi malam itu. Sampai 15 penerbangan disiloasi jauh dari terminal. Petugas kesehatan masuk dulu periksa semua penumpangan. Yang dicurigai segera diisolasi. Badan luar pesawat disemprot desinfektan,” katanya.
Sedangkan bagi penumpang lainnya masuk terminal seperti biasa dengan dua lapis thermoscanner
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai Indonesia melakukan persiapan yang baik dan komprehensif untuk menghadapi penyebaran virus corona tipe baru yang berasal dari Kota Wuhan di China.
Kesiapan menghadapi pandemi virus corona tipe baru atau 2019-nCoV telah dilakukan di 135 titik masuk ke Indonesia baik di bandara, perbatasan darat, maupun pelabuhan dengan menyediakan alat pemindai suhu tubuh dan pemeriksaan lanjutan.
“Jadi pemeriksaan bekerja dengan baik. Indonesia memiliki sistem peringatan dini yang berfungsi dan 100 rumah sakit yang tersebar di banyak tempat, yang dapat menangani kasus rujukan dengan cara yang tepat dan ukuran pengendalian serta pencegahan infeksi yang juga tepat,” kata Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Navaratnasamy Paranietharan di sela-sela peluncuran Keketuaan Indonesia untuk Foreign Policy and Global Health (FPGH) Initiative di Jakarta, Selasa.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, sudah ada 13 orang yang diobservasi terkait dengan virus corona. Sebanyak 11 orang diantaranya dinyatakan negatif, sedangkan dua orang lainnya masih diperiksa.
Sejumlah kasus yang dicurigai penularan virus corona ditemukan antara lain di Jakarta, Bali, Manado, dan Sorong.
Namun, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono menegaskan hingga Senin (27/1), belum ada pasien di Indonesia yang terkonfirmasi terinfeksi virus corona tipe baru.
Petugas kesehatan di Tanah Air juga dipastikan mengikuti standar prosedur operasi sesuai mekanisme pemeriksaan laboratorium WHO.
“WHO menilai Indonesia sudah berada di jalur yang tepat dalam hal kesiapan (menghadapi penyebaran virus corona). Tentunya ini akan tergantung pada jumlah kasus yang ada di Indonesia dan seberapa besar wabahnya,” tutur Paranietharan.
Hingga Selasa pagi WIB, korban meninggal dunia akibat infeksi virus corona tipe baru telah mencapai 106 dengan lebih dari 1.200 kasus.
Virus yang diyakini berasal dari sebuah pasar ikan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China ini, juga telah menjangkiti penduduk di sejumlah negara seperti Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Amerika Serikat, Kanada, Prancis, dan Australia. (Web Warouw)

