Minggu, 26 Mei 2024

SELAMATKAN RAKYATNYA..! Tank-Tank IDF Menyemut, AS: Israel Kerahkan Kekuatan Besar-besaran Menyerang Rafah

JAKARTA – Amerika Serikat (AS) memperkirakan Israel mengerahkan ‘cukup’ pasukan IDF di pinggiran Rafah, selatan Jalur Gaza, untuk melanjutkan invasi besar-besaran ke kota tersebut dalam beberapa hari, menurut jaringan berita Amerika CNN.

Retorika kata ‘cukup’ yang dimaksud oleh AS bisa ditinjau lewat sebuah gambar yang menunjukkan kalau tank-tank IDF seperti menyemut, saking banyaknya, jelang invasi besar-besaran ke Rafah.

Israel memang sudah menyatakan akan menggempur Rafah dengan kekuatan besar karena mereka anggap sebagai benteng terakhir pertahanan Hamas.

Namun, meski Israel sudah menyiapkan pasukan skala besar, dua pejabat senior AS tidak yakin apakah Tel Aviv telah membuat keputusan akhir untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Rafah.

Tenda didirikan di sepanjang pantai di Deir el-Balah di Jalur Gaza tengah oleh warga Palestina yang meninggalkan Rafah di bagian selatan wilayah Palestina pada 12 Mei 2024, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Hamas. (Ist)

Kalau memang Israel sudah final memutuskan menggempur Rafah habis-habisan, maka dua narasumber pejabat AS tersebut menggambarkan tindakan tersebut sebagai “tantangan langsung terhadap Presiden Joe Biden.”

Salah satu pejabat memperingatkan, Israel belum melakukan persiapan yang memadai, termasuk membangun infrastruktur pangan, kebersihan dan tempat tinggal, sebelum mengevakuasi lebih dari satu juta warga Gaza yang saat ini tinggal di Rafah.

Amerika Serikat berulang kali mengeluarkan peringatan kepada Israel agar tidak melancarkan serangan besar di Rafah yang padat penduduknya.

Pekan lalu, Biden sendiri menyampaikan peringatan ini lewat cara yang paling jelas, ketika berbicara kepada CNN tentang niat Amerika Serikat untuk menahan sejumlah pengiriman senjata tambahan ke Israel jika Israel memutuskan untuk menyerang Rafah.

Tentara IDF beroperasi di Jalur Gaza, Januari 2024. /Kredit foto: IDF (Ist)

Aksi Biden ini membuat friksi AS-Israel, khusunya hubungan sang presiden dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, semakin tajam.

“Presiden sudah jelas bahwa dia tidak akan menyediakan senjata ofensif tertentu untuk operasi semacam itu jika hal itu terjadi,” kata Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan kepada wartawan di Gedung Putih, Senin.

Ketika perang memasuki bulan kedelapan, para pejabat Amerika mempertanyakan pendekatan Israel terhadap perang tersebut, termasuk secara terbuka menunjukkan bahwa Israel tidak mungkin mencapai tujuan yang dinyatakan untuk menghancurkan Hamas dan menghilangkan kepemimpinannya.

Pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken memperingatkan bahwa “pendekatan sembrono terhadap Rafah dapat menimbulkan konsekuensi yang mengerikan,” mempertanyakan kemungkinan melenyapkan Hamas.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, orang kedua di Departemen Luar Negeri AS, Kurt Campbell, juga mengatakan pada hari Senin bahwa ada ketegangan yang jelas dengan Israel mengenai “definisi kemenangan.”

Dia berkata: “Kadang-kadang ketika kita mendengarkan dengan seksama para pemimpin Israel, mereka sering berbicara tentang gagasan untuk mencapai semacam kemenangan yang luar biasa dan penuh,” sambil menekankan: “Kami tidak percaya bahwa hal ini mungkin terjadi.” (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru