Sabtu, 15 Juni 2024

Semua Bunga Pun Bernyanyi Jenderal!

Oleh: Martinus Ursia *

VIDEO seorang Brigadir Jenderal TNI Angkatan Darat memimpin paduan suara dengan lagu Semua Bunga Bernyanyi menarik banyak komentar positif.

Brigjen Joao Xavier Bareta Nunes (lahir tahun 1967) yang menjabat komandan Korem 161 Wira Sakti Kupang tampaknya secara spontan  memimpin paduan suara dengan tongkat komando ganti tongkat dirigen paduan suara dan orkesta. Ini keunikan pertama,– memimpin paduan suara dengan tongkat komando. Tongkat yang biasa dipakai dengan otoritatif kemiliteran, melakukan tindakan ofensif,–dipakai mengarahkan lagu paduan suara pujian kepada karya Tuhan yang Maha Esa.

Tonton Brigjen Joao Xavier Bareta Nunes pimpin paduan suara:

Komentar di video mengatakan momen ini terjadi saat pentahbisan Uskup Agung Kupang. Semangat Brigjen Joao dengan tongkat komando memberi arahan lagu bukan pada prajuritnya, tapi kepada sekumpulan ibu dan bapak anggota paduan suara.

Keunikan kedua, adalah lagu Semua Bunga Bernyanyi yang dinyanyikan paduan suara yang syairnya berisi ucapan syukur serta ketundukan segala mahluk ciptaan pada Allah pencipta yang mencintai umat manusia.

Lagu Semua Bunga mengajak Anda dan saya, tanpa melihat latar ekonomi, Anda kopral atau jenderal, status sosial selebriti atau selegram, profesor atau guru honorer yang bayarannya masih belum jelas. Lagu ini melantun, semua bunga (juga mahluk) turut bernyanyi… Tuhan sumber gembiraku.

Nafas hidup bisa berhenti kapan saja, lalu kita terbujur kaku dan roh jiwa kembali pada Tuhan Pencipta. Ketundukan kepada Allah menegasi semua pencapaian, karenanya tunduk tahluklah pada pemberi hidup. Hormatilah sesama mahluk ciptaan.

Brigjen Joao Xavier Bareta Nunes pimpin paduan suara. (Ist)

Keunikan ketiga, Brigjen Joao adalah putera asli Timor Leste (waktu lalu provinsi 27 NKRI disebut Timor-Timur). Perwira tinggi ketiga asal Timor Leste yang adalah warga negara Indonesia pembela merah putih.

Jenderal Joao masih SMA ketika peristiwa Santa Cruz 1983 terjadi. Media nasional menyebut sebagai kerusuhan Santa Cruz ditunggangi Fretelin pimpinan Xanana Gusmao, sementara media internasional menyebut sebagai pembantaian (massacre).

Ia tentunya sebagai pemuda yang tumbuh dalam pemerintahan Orde Baru, kenyamanan pendidikan sekaligus kegelisahan sebagai satu generasi yang mulai terbuka informasi dengan internet terbatas, tapi bisa diakses. Pemuda seperti Joao, segenerasi dengan penulis,– menyelami sekian banyak pertanyaan. Tapi Joao Xavier Nunes memilih jalannya sendiri sebagai prajurit TNI.

Joao lulus AKMIL tahun 1991 dan sebagai perwira dalam penugasan operasi militer di Papua dan di penghujung operasi Seroja di Timor Timur juga berbagai penugasan lainnya.

Dengan sedikit info karier militer jenderal Joao maka saya takjub ketika Brigjen Joao memimpin paduan suara Semua Bunga Ikut Bernyanyi

Dalam kitab Injil, Yesus dan kemudian para muridnya bergaul dengan prajurit dan perwira militer. Bahkan seorang perwira Romawi penjaga kubur Yesus menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus dari kubur. Relasi gereja awal dan para murid dengan prajurit maupun perwira militer tidak menjadikan gereja terlindungi (kata orang betawi ada beking-nya), terbukti aniaya tetap dialami gereja. Walaupun relasi sosial para murid dengan beberapa perwira militer terjalin, namun tidak serta merta terjalin relasi kuasa, dimana gereja dibekingi militer.

Yesus tidak menganjurkan kekerasan, Dia berkata pada murid yang menghunus pedang,– “Sarungkan pedangmu!” . Yesus juga tidak meminta perwira maupun prajurit yang bertemu denganNya untuk meninggalkan karier militernya. Semuanya berjalan biasa saja, setiap pengikutNya tetap terlibat dalam tanggungjawab dan peran sosial.

Yesus Kristus dan juga seharusnya gereja, hidup dalam cinta kasih yang nyata, yang memanggil tiap orang masuk dalam kerajaan cinta kasih Allah.

Karena apapun pangkat, status sosial, status digital, status ekonomi Anda, kita hanya ciptaan dari debu tanah. Maka layaklah kita berdendang bersama Brigjen Joao dan perempuan ibu tangguh anggota paduan suara,– “semua bunga ikut bernyanyi, gembira hatiku, segala rumput pun riang-ria Tuhan sumber gembiraku”

*Penulis Martinus Ursia, pendeta Gereja Baptis Indonesia

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru