SIAP PERANGI IRAN NIH..! AL Inggris Pimpin Koalisi untuk Buka Lagi Selat Hormuz

0
19

JAKARTA – Angkatan Laut Kerajaan Inggris sedang bersiap mengambil peran utama dalam potensi operasi koalisi untuk membuka kembali Selat Hormuz. Rencana itu diungkap dalam laporan The Times pada hari Selasa (24/3/2026).

Laporan tersebut menyebutkan pejabat pertahanan Inggris sedang bersiap mengerahkan kapal Angkatan Laut Kerajaan atau kapal komersial sewaan untuk berfungsi sebagai “kapal induk” bagi sistem otonom tanpa awak yang dirancang untuk mendeteksi dan menetralisir ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut.

Inisiatif ini akan menjadi bagian dari upaya multinasional yang lebih luas yang melibatkan sekutu, termasuk AS dan Prancis, untuk memastikan jalur aman bagi pelayaran komersial melalui selat tersebut, salah satu jalur transit terpenting di dunia.

Para pejabat yang dikutip The Times mengatakan operasi tersebut dapat berlangsung dalam beberapa fase. Tahap awal akan fokus pada perburuan ranjau menggunakan sistem otonom canggih yang diluncurkan dari kapal induk.

Fase kedua dapat melibatkan pengerahan kapal permukaan tanpa awak bersama dengan kapal perusak Tipe 45 Angkatan Laut Kerajaan, atau hanya kapal perusak, untuk melindungi kapal tanker yang melintasi area tersebut.

“Kami memiliki kemampuan terdepan di dunia dalam hal perburuan ranjau otonom, serta kemampuan kapal perusak yang fantastis dengan Type 45 kami, dan juga pengembangan konsep angkatan laut hibrida, yang memberi kami peluang untuk menghindari membahayakan orang demi mengamankan selat,” ungkap seorang pejabat.

Para pejabat pertahanan Inggris percaya ranjau laut telah ditanam di selat tersebut, meskipun masih ada “jalur yang jelas” karena kapal-kapal India, Pakistan, dan China terus melintasi jalur air tersebut.

Eskalasi regional di Timur Tengah terus berlanjut sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal berulang kali yang menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Selat Hormuz juga telah secara efektif dihambat sejak awal Maret. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati selat tersebut setiap hari, dan gangguan ini telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

Sekutu AS di Teluk Siap Terlibat Perangi Iran

Sementara itu kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu 25/3) dilaporkan, sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah dilaporkan semakin mendekati keputusan untuk terlibat dalam perang melawan Iran.

The Wall Street Journal melaporkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai condong bekerja sama dengan AS dan Israel setelah serangan Iran berulang kali mengganggu perekonomian mereka dan berpotensi memperkuat pengaruh Teheran atas Selat Hormuz.

Dilansir Anadolu Anjasi, langkah terbaru negara-negara Teluk dinilai memperkuat kemampuan AS melakukan serangan udara sekaligus membuka jalur baru untuk menekan sumber pendanaan Iran.

Meski begitu, mereka belum secara terbuka mengerahkan pasukan militer ke medan perang.

Negara-negara Teluk sebelumnya menyatakan enggan terlibat langsung dalam konflik dengan Iran, namun tekanan meningkat seiring ancaman Teheran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan kaya energi tersebut.

Arab Saudi dilaporkan mulai membuka akses bagi militer AS untuk menggunakan Pangkalan Udara King Fahd di wilayah barat Semenanjung Arab.

Sikap ini menandai perubahan setelah sebelumnya Riyadh menolak fasilitas dan wilayah udaranya dipakai untuk menyerang Iran. Perubahan posisi ini terjadi di tengah serangan rudal dan drone Iran terhadap Riyadh serta fasilitas energi Saudi.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, menegaskan kesabaran negaranya terhadap serangan Iran tidak tanpa batas.

Sementara itu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman disebut ingin memulihkan efek penangkal (deterrence) dan semakin dekat mengambil keputusan untuk bergabung dalam serangan.

Di sisi lain, UEA mulai menekan aset milik Iran, yang selama ini menjadi salah satu jalur penting bagi aktivitas ekonomi Teheran.

Dubai dilaporkan menutup Iranian Hospital dan Iranian Club sebagai bagian dari langkah yang menargetkan institusi yang dianggap terkait dengan pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

UEA, yang telah lama menjadi pusat finansial bagi bisnis Iran, juga memperingatkan bahwa mereka dapat membekukan miliaran dolar aset Iran.

Langkah tersebut berpotensi membatasi akses Iran terhadap valuta asing dan jaringan perdagangan global, sehingga dapat semakin menekan ekonominya yang sudah terdampak inflasi dan sanksi.

Serangan terbaru terhadap fasilitas energi di Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar meningkatkan kekhawatiran kawasan, sekaligus memperkuat sikap bersama negara-negara Teluk terhadap Iran.

Qatar bahkan mengecam serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan nasionalnya.

Para sekutu AS di Timur Tengah terus berkomunikasi dengan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai langkah selanjutnya dalam konflik dengan Iran.

Para analis menilai, jika serangan Iran terhadap negara-negara Teluk terus berlanjut, mereka kemungkinan akan terdorong untuk ikut terlibat langsung dalam perang. (Web Warouw)