Jumat, 23 Februari 2024

TNI Dilarang Masuk, Sri Edi Swasono Serukan Boikot Pilipina

JAKARTA- Kasihan benar nasib orang Indonesia yang saat ini disandera oleh teroris Abu Sayyaf di kepulauan di Pilipina. Sampai hari ini Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak diberi ijin oleh Pemerintahan Pilipina untuk melakukan operasi pembebasan. Ini bukti bahwa kerjasama Asean ataupun Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) adalah percuma, karena hanya diatas kertas tanpa realisasi. Hal ini ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi, Prof Sri Edi Swasono kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (10/4)

“TNI kita tidak diizinkan Pilipina masuk ke territori Pilipina untuk bebaskan para tersandera bangsa kita. Gila! mana semangat Asean? Mana ruh MEA?” demikian tegasnya.

Anggota Presidium Komite Kedaulatan Rakyat (KKR) ini juga mempertanyakan kepemimpinan Indonesia dalam kerjasama anti teroris yang selama ini digalang diantara negara-negara Asean, namun tidak berkutik melawan kelompok teroris Abu Sayyaf.

“Mana komitment antiterrorisme Pilipina dan Asean. Mana leadership Indonesia terhadap Asean? Indonesia diremehkan. Dianggap gedhe-gombong doang. Boikot Pilipina!” ujarnya.

Ia mengingatkan  bahwa larangan Pilipina pada TNI untuk masuk ke teritori Pilipina adalah bentuk kejahatan dan tidak bisa dibiarkan oleh Pemerintahan Joko Widodo.

“Filipina tidak kasih izin TNI masuk territori Filipina adaIah kejahatan persahabatan Asean. Makanya jangan sok MEA-MEA-an. Waspadai pasar-bebas,” ujarnya.

Menurut Sri Edi Swasono, ternyata benar bahwa Asean dan MEA hanyalah alat eksploitasi kapitalisme Internasional di Indonesia dan tidak akan pernah menjadi wadah kerjasama seperti yang ia inginkan.

“(Seharusnya-red) MEA bukan ajang penyerahan kedaulatan, apalagi jual beli kedaulatan. Indonesia jangan mau  jadi bodo dan blo’on dalam menghadapi negara-negara Asean predatorik dan tidak bersahabat,” ujarnya.

Sri Edi Swasono juga membenarkan pernyataan Menhan Ryamizard Ryacudu beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa kelompok Abu Sayyaf hanya sekelompok orang lapar yang merampok demi perutnya sendiri.

“Menhan benar. Abu Sayyaf gerakan Islam begal gombal. Nggak papa picu kemarahan Abu Sayyaf,” ujarnya.

Pernyataan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu ‎yang menyebut kelompok Abu Sayyaf kelaparan semakin memicu kemarahan kelompok milisi tersebut. Pernyataan Menhan itu dianggap bisa menimbulkan masalah baru.

Wakil Ketua Komisi I DPR, Meutya Hafid mengingatkan, pemerintah harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan demi keselamatan 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Sebelumnya Menhan Ryamizard Ryacudu menyebut kelompok Abu Sayyaf kurang makan. Persoalan ini diduga ikut mendorong mereka untuk menyandera 10 WNI dan meminta tebusan.

Sampai hari ini belum ada kepastian dari Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI soal pembebasan sandera di Pilipina tersebut. (Web Warouw)

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru