JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut dirinya sebagai “Presiden Sementara Venezuela” melalui unggahan di platform Truth Social. Klaim itu disampaikan lewat gambar tiruan halaman Wikipedia yang menampilkan Trump dengan potret resmi kepresidenannya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan politik setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus AS pada awal Januari.
Pemerintah sementara Venezuela membantah keras klaim Trump dan menegaskan tidak ada kekuatan asing yang memerintah negara itu.
Pada Senin (12/1/2026) pagi waktu setempat, Trump mengunggah gambar tiruan halaman Wikipedia di akun Truth Social miliknya yang menyebut dirinya sebagai “Acting President of Venezuela”.
Unggahan tersebut mendapat lebih dari 24.000 likes dan menjadi lanjutan dari serangkaian klaim Trump bahwa Washington kini memegang kendali atas negara Amerika Selatan itu setelah penangkapan Nicolas Maduro pada 3 Januari.
Dalam operasi militer kilat semalam yang dipimpin pasukan khusus AS, Maduro dan istrinya disebut ditangkap dari kompleks mereka di Caracas dan diterbangkan ke Amerika Serikat.
Sejak saat itu, Trump berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “menjalankan” Venezuela.
Pekan lalu, Trump bahkan menyebut AS dapat mengelola Venezuela dan memanfaatkan cadangan minyaknya selama bertahun-tahun.
Dalam wawancara dengan The New York Times, ia mengatakan, “Hanya waktu yang akan menentukan” berapa lama Washington akan menuntut pengawasan langsung atas negara berpenduduk sekitar 28,5 juta jiwa tersebut.
Ketika ditanya apakah itu berarti tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun, Trump menjawab, “Saya kira jauh lebih lama.”
Bantahan Pemerintah Venezuela
Kepada Bergelora
Com di Jakarta.dilaporkan, Klaim Trump langsung dibantah oleh Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez. Ia menegaskan bahwa tidak ada kekuatan asing yang memerintah negaranya.
“Siapa yang memerintah Venezuela? Kekuatan rakyat dan pemerintahan konstitusionalnya, jadi tidak ada keraguan, tidak ada ketidakpastian,” kata Rodriguez pada Sabtu.
Ia menambahkan, “Rakyat Venezuela yang memerintah di sini dan ada sebuah pemerintahan, pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, dan saya memiliki tanggung jawab untuk memimpin negara ini sementara dia ditahan.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Caracas tetap mengakui Maduro sebagai presiden sah meski saat ini berada dalam tahanan AS.
Sehari sebelum pernyataan Rodríguez, pemerintah Venezuela mengumumkan telah memutuskan untuk memulai “proses eksplorasi yang bersifat diplomatik” dengan AS, dengan tujuan memulihkan kembali misi diplomatik di kedua negara. Pemerintah yang dipimpin Rodriguez juga mengonfirmasi bahwa pejabat Departemen Luar Negeri AS tengah mengunjungi ibu kota Venezuela dan Caracas sedang menjajaki kunjungan balasan ke Washington. Trump, di sisi lain, mengeklaim Rodriguez “sepenuhnya” bekerja sama dengan AS dan bahwa Caracas memberikan Washington “segala sesuatu yang kami rasa perlu.”
Penyitaan Kapal Minyak
Ketegangan juga meningkat di sektor keamanan dan energi. Pekan lalu, AS menyita dua kapal tanker minyak lain yang terkait dengan Venezuela karena berusaha menerobos blokade laut terhadap negara tersebut.
Kapal pertama disita di Atlantik Utara setelah pengejaran selama berminggu-minggu, sementara kapal kedua dinaiki di kawasan Karibia.
Operasi penangkapan Maduro menuai kritik dari sejumlah pemimpin di Amerika Selatan. Sejak itu, Trump juga memperluas ancaman terhadap negara-negara lain di kawasan.
Tiga hari lalu, ia mengumumkan bahwa pasukan AS akan memulai operasi darat di Meksiko untuk menargetkan kartel narkoba, setelah berbulan-bulan melakukan serangan laut di Pasifik timur dan Karibia.
“Kami akan mulai sekarang menyerang di darat terkait kartel. Kartel-kartel itu yang menjalankan Meksiko,” ujar Trump dalam wawancara dengan pembawa acara Sean Hannity di Fox News.
Meski demikian, Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai waktu maupun cakupan operasi darat yang direncanakan tersebut. (Web Warouw)

