Rabu, 28 Januari 2026

WASPADA…! Tersebar di Seluruh RI, Varian Baru Corona Dominan Ada di Kota Besar

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito (Ist)

JAKARTA – Varian baru Covid-19 sudah tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Temuan ini berdasarkan mekanisme whole genome sequencing (WGS) yang dilakukan pemerintah untuk memetakan sebaran varian mutasi Covid-19.

 
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, setidaknya ada tiga varian Covid-19 yang terdeteksi di Indonesia, di antaranya varian mutasi B117 dan E484K. Ia juga menyampaikan, temuan varian baru virus corona paling banyak ditemukan di provinsi-provinsi dengan kota besar berpenduduk padat, terutama Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur.
 
“Kita perlu terus mempertebal dinding pertahanan negara. Pada prinsipnya mekanisme penapisan yang akan dilalui WNI yang masuk ke Indonesia akan dilakukan secara berlapis. Di tempat pemeriksaan imigrasi atau pos lintas batas baik tradisional atau internasional,” kata Wiku dalam keterangan pers, Kamis (22/4).
 
Kepada Bergelora.com dilaporkan, berdasarkan SE Satgas nomor 8 tahun 2021, seluruh pendatang baik WNA atau WNI yang baru masuk ke Indonesia harus menjalani pemeriksaan berlapis. Di antaranya, pemeriksaan suhu tubuh, pengecekan dokumen perjalanan berupa pengisian e-HAC, surat tanda negatif Covid-19 dengan masa berlaku 3×24 jam sebelum keberangkatan, dan dokumen perjalanan internasional pendukung.
 
“Serta melakukan PCR ulang. Melakukan karantina selama 5×24 jam dari waktu kedatangan, dan tes PCR ulang kedua,” kata Wiku.
 
Bagi WNI atau WNA yang berhasil melewati penapisan di pintu kedatangan pun, ujar Wiku, masih wajib tunduk pada aturan perjalanan dalam negeri yang juga tak kalah ketat. 
 
“Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan WNI di luar ngeri bersikap bijak dalam memutuskan kembali ke Indonesia khususnya di masa Ramadhan dan Idul Fitri, khususnya yang tidak mendesak,” kata Wiku.
 
Wiku mengingatkan, meski seorang pelaku perjalanan telah mengantongi surat negatif Covid-19, hal itu tidak menjamin dirinya terbebas dari infeksi virus corona. Penularan masih bisa terjadi di sepanjang perjalanan.
 
“Atau alasan lain, seperti alat tes covid tidak akurat, cara pengambilan spesimen yang tidak tepat, sulitnya menentukan masa inkubasi covid yang presisi dan akurat terdeteksi alat tes. Dengan begitu, tidak ada testing dapat menjamin kita bebas covid selamanya, kata Wiku.
 
Sebagai informasi, pemerintah memperluas aturan peniadaan mudik Lebaran 2021. Jika sebelumnya pemerintah hanya melarang perjalanan jarak jauh pada 6-17 Mei 2021, maka dalam aturan terbaru ini ditambah pengetatan syarat perjalanan sejak H-14 dan H+7 periode peniadaan mudik, yakni 22 April-5 Mei dan 18-24 Mei 2021. 
 
Vaksinasi Mudahkan Penularan 
 
Beberapa penelitian menunjukkan antibodi yang dipicu oleh paparan dominan varian virus Corona lebih tinggi. Studi dari Israel menemukan bahwa proporsi orang yang divaksinasi dengan Pfizer ternyata mencapai 8 kali lebih mungkin terinfeksi virus varian Afrika Selatan dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi.
 
Seperti dilansir dari Daily, seiring percepatan proses produksi vaksinasi di Amerika Serikat, jumlah kasus positif terinfeksi virus komunis Tiongkok atau COVID-19 yang baru di Amerika Serikat juga ikut meningkat. Di Michigan, salah satu negara bagian yang terkena dampak paling parah, tingkat diagnosis positif terinfeksi telah mencapai 18%. BACA JUGA- Fenomena Astronomi Sepekan ke Depan, Ada Hujan Meteor Lyrid
 
Dalam sepekan terakhir, jumlah warga Amerika Serikat yang divaksinasi dalam sehari adalah 4,6 juta jiwa lebih, kembali mengukir rekor baru.
 
Jumlah kasus baru dan rawat inap di Amerika Serikat masih terus meningkat. Diantaranya, wilayah tengah barat Amerika Serikat merupakan daerah yang paling parah.
 
Menurut data dari Universitas Johns Hopkins, pekan lalu rata-rata setiap harinya ada lebih dari 68.000 orang didiagnosis terinfeksi virus komunis Tiongkok. Angka itu naik 20% dibandingkan dengan sebulan yang lalu.
 
Sementara itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv, Israel yang dirilis pada 10 April menemukan bahwa varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan dapat menerobos pertahanan vaksin Pfizer sampai batas tertentu.
 
Kesimpulan menemukan bahwa dari jumlah orang yang terinfeksi virus komunis Tiongkok, hanya 1% yang terinfeksi varian virus Afrika Selatan. Namun, setelah menerima dua dosis suntikan vaksin Pfizer, malahan jumlah terinfeksi varian virus Afrika Selatan naik menjadi 5,4%, sementara bagi mereka yang belum menerima vaksinasi, hanya 0,7% yang terinfeksi varian virus Afsel ini.
 
Kepada Bergelora.com  dilaporkan, kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa vaksin Pfizer kurang efektif dalam melawan varian virus Afrika Selatan dibandingkan dengan melawan virus COVID-19 dan varian virus Inggris – B 1.1.7.
 
Penny Moore, seorang profesor di National Institute for Communicable Diseases, mengatakan, respons antibodi dari varian 501Y.V2 hanya berkurang tiga kali lipat terhadap virus gelombang pertama. Sedangkan respons dari virus gelombang pertama berkurang sembilan kali lipat dibandingkan 501Y.V2.
 
“Bukan karena antibodi yang dipicu oleh 501Y.V2 entah bagaimana ajaib, ada penurunan, … tapi tidak seperti antibodi yang dipicu oleh varian aslinya, mereka tampaknya memiliki keluasan yang lebih besar,” katanya lagi.
 
Salim Abdool Karim, penasihat pemerintah tertinggi untuk COVID-19, mengatakan, produsen vaksin besar termasuk Pfizer, AstraZeneca dan Johnson & Johnson sudah membuat vaksin berdasarkan varian 501Y.V2. “Moderna telah mengadaptasi bidikannya dan memasukkannya ke dalam studi manusia,” tambahnya.
 
Dia memperkirakan pada akhir tahun 2021 sebagian besar produsen vaksin akan menyesuaikan suntikan mereka. “Bukan karena mereka secara khusus mengkhawatirkan virus yang datang dari Afrika Selatan … tetapi karena mutasi kunci pada 501Y.V2 sebenarnya juga ada di banyak varian lainnya,” klaim Salim.
 
Kepada Bergelora.com dilaporkan, Afrika Selatan sejauh ini mencatat infeksi dan kematian COVID-19 terbanyak di benua Afrika. Negara ini memiliki 1,5 juta kasus dan lebih dari 50.000 kematian hingga saat ini. (Enrico N. Abdielli)
 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru