test
Minggu, 26 Mei 2024

Wow! Bank Dunia: Kemiskinan Indonesia Turun 0,4%

JAKARTA- Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama triwulan, Oktober 2016 menunjukkan optimisme. Tingkat kemiskinan turun 0,4% menjadi 10,9% pada kuartal pertama tahun 2016. Ini adalah penurunan tahunan terbesar dalam tiga tahun terakir. Kebijakan pemerintah yang berkontribusi termasuk upaya menstabilkan harga beras serta perluasan bantuan sosial. Demikian laporan World Bank (Bank Dunia) dalam http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2016/10/25/improved-fiscal-management-strengthens-indonesias-economic-resilience yang dikutip Bergelora.com, di Jakarta, Kamis (3/11).

Dalam laporan World Bank yang berjudul “Laporan Triwulan Ekonomi Indonesia, Oktober 2016-Tekanan Menurun” disebutkan pertumbuhan yang tangguh dan reformasi kebijakan reformasi telah membantu upaya mengurangi kemiskinan. Tingkat kemiskinan di Indonesia turun 0,4 persentase poin pada kuartal pertama tahun 2016. Ini merupakan penurunan tahun-ke-tahun terbesar dalam tiga tahun terakhir. Kebijakan yang mendorong penurunan tersebut adalah upaya menstabilkan harga beras termasuk manajemen impor beras dan operasi pasar oleh Bulog dan perluasan program-program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan, yang menyalurkan bantuan tunai bersyarat. Perluasan program tersebut mencakup 3,5 juta rumahtangga baru dan berkontribusi terhadap hampir sepertiga dari total penurunan kemiskinan.

Selanjutnya, koefisien GINI – yaitu salah satu cara menilai ketimpangan — turun 1,1 poin ke 39,7. Meskipun angka ketimpangan ini tetap tinggi, ini merupakan penurunan tahunan terbesar sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1997-1998.

Perbaikan pengelolaan fiskal mendukung pertumbuhan PDB di Indonesia, yang diproyeksikan 5,1 persen untuk 2016, menurut laporan baru Bank Dunia.

Namun risiko eksternal seperti pertumbuhan global yang lebih lamban dari yang diharapkan serta ketidakpastian pasar keuangan global membawa risiko turunnya ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini, seperti yang diulas dalam Indonesia Economic Quarterly Report atau IEQ edisi Oktober 2016 .

Ilustrasi Kemiskinan di Indonesia (Ist)Amnesty Pajak

Penerimaan program amnesti pajak yang lebih besar dari perkiraan awal telah membantu mengurangi risiko fiskal, begitu juga dengan beberapa penyesuaian belanja pemerintah. Program amnesti pajak telah meraup 56,6 persen dari target pada akhir fase 1. Penerimaan tambahan ini diharapkan dapat menambah belanja modal sehingga membawa dampak positif pada pertumbuhan.

“Perbaikan tata kelola fiskal, kebijakan publik yang lebih kuat serta reformasi struktural, termasuk tanggapan tepat waktu terkait harga pangan, telah memberikan hasil positif. Risiko telah menurun dan beberapa indikator membaik. Ke depan, kami optimis bahwa upaya berkelanjutan untuk mengembangkan pariwisata dan manufaktur akan menghasilkan lebih banyak pekerjaan, meningkatkan pendapatan ekspor, dan semakin mendukung pertumbuhan,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves dalam rilisnya, Selasa (25/11) lalu.

Laporan IEQ edisi Oktober ini juga memaparkan potensi sektor pariwisata Indonesia untuk membuka investasi swasta, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan ekspor, dan memandu investasi infrastruktur yang ditargetkan di daerah tujuan pariwisata.

“Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan industri pariwisata kelas dunia. Namun untuk menghasilkan tujuan industri pariwisata,  perlu lebih banyak pembangunan infrastruktur, yang memerlukan koordinasi yang lebih baik antara instansi pemerintah dan sektor swasta,” kata Ndiame Diop, Practice Manager Bank Dunia untuk Makroekonomi dan Manajemen Fiskal di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik.

Kementerian Pariwisata telah menetapkan target untuk menarik US$ 10 miliar investasi swasta guna perkembangan 10 tujuan wisata pada tahun 2019. Menurut World Travel and Tourism Council, setiap US$ 1 juta yang dikeluarkan untuk melakukan perjalanan dan wisata di Indonesia akan membiayai 200 pekerjaan.

IEQ yang kali ini berjudul ‘Tekanan Menurun’ juga menganalisa pentingnya akses layanan air bersih, sanitasi dan kebersihan di Indonesia untuk meningkatkan indikator-indikator kesehatan dan gizi. Terbatasnya akses layanan sanitasi dasar telah mempengaruhi tingginya tingkat stunting di Indonesia, di mana sekitar 1 dari 3 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia mengalami stunting atau menderita tinggi badan rendah untuk usia mereka.

Selain itu, laporan ini melihat kebijakan ketahanan pangan, termasuk dampak dari subsidi pemerintah untuk produk pertanian dan evaluasi program sertifikasi guru di Indonesia yang menunjukkan bahwa peningkatan kualifikasi guru tidak cukup untuk memperbaiki  capaian belajar siswa.

Laporan ini telah memasuki tahun keenam, dan disusun dengan dukungan dari Pemerintah Australia. (Calvin G. Eben-Haezer)

 

 

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru