Jumat, 17 April 2026

Rumah Bersama Indonesia – Pemulihan Bencana Milik Semua

Dalam pemulihan Bencana berlaku adagium, “Pulih lebih baik, lebih kuat, lebih tangguh dan berkelanjutan

Oleh: Pdt Victor Rembeth *

PADA tanggal 14 April 2026, di desa 𝗧𝗼𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗝𝘂𝗹𝘂 , Kecamatan Sayur Matinggi Kabupaten Tapanuli Selatan diselenggarakan peletakan baru pertama 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮. Bangunan yang dibangun di lokasi Hunian Sementara warga penyintas bencana yang akan ditingkatkan menjadi Hunian Tetap ini berupa aula yang akan dipakai untuk kegiatan bersama seluruh warga.

Kata 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 bukan hanya bermakna pemakaian gedung itu, tetapi dimulai dari pembangunan yang dilaksanakan secara bersama. Yayasan Kristen 𝗣𝗲𝗻𝗮𝗯𝘂𝗿 dari Jakarta mendonasikan dana pembangunan yang kemudian difasilitasi oleh Yayasan Katolik 𝗞𝗮𝗿𝗶𝘁𝗮𝘀 Indonesia, di lokasi yang akan di bangun bersama dalam areal Hunian dan Rumah Ibadah oleh lembaga zakat 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗭𝗮𝗸𝗮𝘁 Indonesia.

Ini merupakan sebuah kolaborasi bersama yang indah, dimana tanah diberikan oleh kepala desa dan pembangunan difasilitasi oleh negara melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (𝗕𝗡𝗣𝗕) Indonesia. Sebuah kebersamaan yang apik sebagai wujud rasa dan karsa kemanusiaan berbela rasa dengan warga penyintas bencana yang sekaligus menunjukkan indahnya kebhinekaan.

Hal ini menjadi manifestasi dari istilah 𝗩𝗲𝗿𝘁𝗶𝘇𝗼𝗻𝘁𝗮𝗹, yang dipopulerkan oleh Kepala BNPB pertama, Syamsul Maarif. Ini adalah sebuah pemaknaan kerja bersama semua pihak baik secara vertikal, pemerintah pusat sampai ke desa, dan semua pihak masyarakat secara horisontal antar suku, agama dan lembaga menghadirkan kemanusiaan dalam kebencanaan. Dalam hal inilah masyarakat yang diwakili oleh Kepala Desa Fuad Daulay merasakan hadirnya negara yang majemuk dalam kekhasan masyarakat yang Islami ketika bersama dalam aksi nyata keberagaman.

Untuk itu Direktur BNPB Nelwan Harahap, sebagai penanggung jawab Kabupaten Tapanuli Selatan, menyatakan, “Rumah ini menyimpulkan keberagaman Bangsa, sekaligus tetap konsisten dengan keimanan masing-masing”. Sebuah sapaan yang menjadikan warga Tolang Julu tidak merasakan kesendirian dan memiliki saudara yang berbeda tapi saling memperhatikan.

Sebagai anggota Unsur Pengarah, penulis yang sekaligus mewakili Yayasan Penabur, menyatakan bahwa karya ini, “menunjukkan kasih sesama manusia yang melewati batas suku, agama atau apapun, sehingga Yayasan Penabur dapat berkarya bersama dengan semua pihak untuk pemulihan warga Tolang Julu”. Praktik baik yang menjadi etalase kemanusiaan dan sekaligus memantapkan rasa keindonesiaan dalam bencana.

Dalam pemulihan Bencana berlaku adagium, “Pulih lebih baik, lebih kuat, lebih tangguh dan berkelanjutan”. Hal inilah yang sedang dirajut dalam pembangunan 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 di Tolang Julu. Dari bencana ekologis yang menghancurkan semua, kebersamaan dapat dibangun kembali untuk kebaikan semua.

——-

*Penulis Pdt Victor Rembeth, Ketua DPP PIKI Bid Mitigasi Bencana, Komisi PRB PGI, Pengarah BNPB

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles