Kamis, 30 Juli 2026

Ketika Bumi Mengerang: Peringatan Hari Pemborosan Bumi

Kita juga bisa memulai melakukan upaya kembali kepada pola hidup sederhana dengan tidak jor-joran menggunakan karbon dan budaya flexing yang merusak

 Oleh: Victor Rembeth *

30 JULI 2026 ditentukan oleh organisasi Global Footprint Network sebagai Earth Overshoot Day atau hari “Kelebihan Konsumsi Bumi”, (Atau tepatnya,– Peringatan Hari Pemborosan terhadap sumberdaya alam di bumi,— red)

Hari yang ditentukan dengan beberapa indikator ini diperingati sebagai penanda saat dimana kebutuhan manusia terhadap Sumber Daya Alam melampaui kemampuan bumi untuk memulihkannya kurun waktu 365 hari atau 1 tahun. Peringatan hari yang menandai kerakusan faktor manusia atau antroposene, yang melakukan eksploitasi bumi dan menyebabkan perubahan dalam iklim, kerusakan ekosistem bahkan anomali geologis.

Ketidakmampuan bumi dan kerusakan yang dialami menjadi penjawab nubuat yang pernah dibuat oleh Mahatma Gandhi pada awal abad ini.

Gandhi mengatakan, “Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk keserakahan setiap orang”.

Kecenderungan destrutif manusia yang eksponensial dalam merambah dan mengeksploitasi bumi sejatinya sudah menjadi kecenderungan yang terdeteksi sejak awal abad ini.

Gandhi sangat benar karena hal itu ditunjukkan dalam bentuk kolonialisme yang merampas tanah masyarakat inidigenous dan juga industrialisasi massif yang menjadi penanda “kemajuan” eksponensial umat manusia , alih alih menyejahterakan bumi tapi justru merusaknya dengan kepastian yang terus meningkat.

Indikator utama ketidakmampuan bumi melayani kerakusan manusia adalah berbasis pada fakta utama yaitu penggunaan sumber daya yang melampaui kapasitas. Ketika kebutuhan planet bumi sudah tidak bisa lagi disediakan untuk secara proporsional dan adil kepada manusia yang bermukim maka semua ekosistem sedang mengalami proses malpraktik yang akut.

Data menunjukkan bahwa manusia memakai sumber daya alam 73% lebih cepat daripada kemampuan pemulihan ekosistem. Hal ini ditambah dengan kenyataan terjadi Defisit Ekologis, yaitu Sisa waktu tahun berjalan dihabiskan dengan berutang pada cadangan alam dan menumpuk emisi karbon.

Manusia Aktor Kerusakan atau Penjaga Bumi

Kondisi bumi yang sedang merana dan menuju kehancuran ini mengingkari fitrah manusia sebagai mana dalam Islam manusia menjadi Khalifah fil ardh sebuah konsep yang menetapkan manusia sebagai pemimpin, pengelola, dan pemelihara di muka bumi. Alkitab Kristen memberikan mandat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang termulia, segambar dan secitra dengan Allah, dan sudah tentu termasuk dalam menjaga keutuhan ciptaan, telah dikhianati dengan peningkatan tingkat kerusakan yang dibuat oleh manusia.

Bumi sebagai ekosistem pendukung kehidupan yang seharusna menyejahterakan penduduk yang mendiaminya telah dianiaya oleh perilaku yang menggerus ketahanan sang ibu bumi untuk menyediakan sumber daya terbaik bagi anak anaknya.

Memperingati Hari Earth Overshoot Day ini adalah sebuah pecut dan hardikan kepada semua manusia yang selama ini menjadi penerima manfaat terbesar dari bumi. Mengapa demikian?

Kondisi Global menunjukkan bahwa tingkat konsumsi saat ini menunjukkan bahwa dunia memerlukan dukungan sekitar 1,7 hingga 1,8 planet Bumi untuk bertahan hidup secara berkelanjutan.

Sang Bunda Bumi sebagai penyedia kebutuhan manusia sedang terengah engah memberikan nutrisi terbaik kepada anak anak nakalnya yang dengan kesewanangan tak terbatas menganggap mendiami bumi sekedar eksploitasi mengambil keuntungan sesaat dengan secepatnya, yang bukan saja menciderai perasaan bumi tapi juga menyengsarakan. Sebagian besar umat manusia yang tidak bisa menikmati kue besar keuntungan yang hanya tersaji dengan paksa kepada segelintir umat manusia pemilik harta, tahta dan kuasa.

Dampak Kelebihan Konsumsi Bumi

Kondisi “kelebihan konsumsi bumi” ini telah secara kasat nyata menimbulkan korban yang tidak sedikit di negeri tercinta, bumi Nusantara.

Ketika rincian data tahunan Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat bencana tertinggi adalah bencana hidrometerologi, yang mencapai 98-99 persen di tahun 2025, maka kita sedang melihat dengan kasat mata dampak utama pengrusakan bumi.

Salah satu bencana terbesar dalam dekade ini adalah Siklon Senyar yang menghantam Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat di penghujung tahun 2025. Tidak ada yang bisa menampik bahwa ini adalah indikasi kegagalan ekologis yang bersangkut paut dengan pengrusakan hutan, penambangan massif dan secara nasional dan global kegagalan menurunkan emisi yang mempercepat dampak perubahan iklim.

Di bidang ekonomi data yang kerap dipakai untuk menjadi basis bukti (evidence based) perlunya mengingatkan warga bumi untuk memperingati Earth Overshoot Day adalah gangguan ketersediaan bahan baku dan peningkatan harga yang tidak terkendali.

Beberapa hal yang dijadikan indikasi adalah kenaikan harga komoditas dimana tejadi kelangkaan sumber daya air, tanah, dan hasil hutan memicu inflasi harga bahan baku di pasar internasional.

Selanjutnya ada kerusakan Aset produktif yang memicu peristiwa cuaca ekstrem dan degradasi ekosistem menurunkan produktivitas sektor pertanian, perikanan, dan infrastruktur fisik.

Indikasi lain juga adalah terjadinya disrupsi rantai pasok yaitu ketika ketergantungan pada pasokan lintas batas membuat ekonomi rentan terhadap krisis ekologis regional.

Sudah tentu kualitas hidup menjadi sangat menurun dalam semua segi kehidupan manusia baik secara global maupun nasional dan sub nasional karena ketidakmampuan bumi mengakomodasi keinginan manusia yang destruktif.

Sudah tentu bencana hidrometeorogis yang berulang dan tantangan ekonomi yang terjadi sangat bisa menggangu target pertumbuhan ekonomi Indonesia diarahkan mencapai ambisi besar hingga 8%, dengan kisaran target antara 7% hingga 8% dalam beberapa tahun mendatang serta target 5,8% hingga 6,5% pada tahun 2027.

Kalau pertumbuhan ekonomi berbanding setara dengan kemakmuran dan kesejahteraan penduduk, maka cita cita Indonesia Emas 2045 akan juga mengalami ketercekikan mulut botol (bottleneck challenge)

Pengingat dan Aksi Bersama

Apakah Indonesia perlu memperingati hari Earth Overshoot Day ini? Sudah tentu jawaban yang harus dengan jujur diberikan adalah YA, kita Harus memperingati dan atau paling tidak saling mengingatkan kepada semua pemangku kepentingan. Kita peringati karena ada keprihatinan ketika kita mengalami degradasi nilai sebagai pengejawantahan Pembukaan Undang Undang Dasaer 1945 yang mengamanatkan agar negara, “Melindungi bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,..”.

Kita juga wajib memperingati hari “Kelebihan Pemborosan Bumi” ini sebagai pecut pengingat akan kelalaian bahkan pengingkaran manusia terhadap panggilan menghargai keutuhan ciptaan. Kelalaian dan pengingkaran yang menyebabkan ketiidak adilan bahkan pengrusakan ekosistem, masyarakat adat dan hak hidup sesama ciptaan.

Sembari prihatin dan berupaya mengingatkan, kita juga disadarkan untuk melakukan aksi sebagai pengejawantahan Peringatan Hari Pemborosan Bumi ini.

Sebagai negara yang menganut sila pertama Pancasila, semua warga negara harus kembali kepada nurani berkeTuhanan yang perlu menghargai bukan Tuhan yang abstrak tapi bumi sebagai ciptaanNya yang dianugrahkan kepada kita.

Kita juga bisa memulai melakukan upaya kembali kepada pola hidup sederhana dengan tidak jor-joran menggunakan karbon dan budaya flexing yang merusak.

Sebagai pembuat kebijakan maka negara sebagai duty bearer sudah tidak bisa berdiam diri dengan alpa mengintegrasikan pembangunan HIJAU dan BIRU sebagai model pembangunan yang menjamin keberlanjutan.

Dengan kepala tertunduk, kita semua wajib memperingati sembari mengingat aktor Harrison Ford yang pada September 2013 sempat mewawancarai Menteri Kehutanan Republik Indonesia.

Ford sebagai aktor pejuang lingkungan menyatakan, “Nature doesn’t need people – people need nature; nature would survive the extinction of the human being and go on just fine, but human culture, human beings, cannot survive without nature.” ,– sangat pas dengan peringatan 30 Juli 2026 ini, Alam tidak memerlukan manusia, manusia memerlukan alam, Alam akan bertahan ketika manusia punah dan alam akan terus berjalan, tetapi budaya manusia, keberadaan manusia tidak dapat bertahan tanpa alam”.

Alam, bumi dan kita semua terikat satu dengan yang lain dan sudah selayaknya manusia baik akan menjaga bumi, untuk dirinya sendiri, keluarga, warga negara lain dan seluruh umat Manusia. Selamat memperingati Earth Overshoot Day 2026.

———-

*Penulis Victor Rembeth, seorsng pendeta.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles