Kamis, 30 Juli 2026

KPK PERLU SEGERA PERIKSA NIH..! Ini Alasan Bos Adhi Karya Penyebab LRT City Milik ADCP Mangkrak, Tapi Pembeli Tetap Wajib Mencicil

JAKARTA – Manajemen PT Adhi Karya (Persero) Tbk atau ADHI menjelaskan sebagian proyek LRT City kini mandek pembangunannya. Hal ini membuat ribuan konsumen apartemen tersebut meluapkan emosi. LRT City sendiri merupakan proyek apartemen berkonsep Transit Oriented Development (TOD) yang dibangun di dekat stasiun LRT.

Pengembangnya adalah PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), anak usaha ADHI.

Para konsumen yang terlanjur kecewa menuntut uang pembelian yang sudah bayarkan dikembalikan. Namun hal itu sulit direalisasikan lantaran keuangan ADCP dalam kondisi negatif alias minus.

Melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko ADHI sebagai induk dari ADCP, Rozi Sparta, menyampaikan permohonan maaf kepada ribuan konsumen yang merasa dirugikan.

“ADCP menyampaikan permohonan maaf kepada para konsumen atas keterlambatan penyelesaian kewajiban serah terima unit,” jelas Rozi, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Penyebab Sebagian LRT City Mangkrak

Rozi mengungkapkan, ada beberapa faktor yang membuat pembangunan fisik sebagian apartemen LRT City mandek di tengah jalan. Perusahaan diketahui tengah mengalami masalah keuangan.

“Saat ini, ADCP menghadapi tantangan likuiditas yang berdampak pada penyelesaian proyek,” jelas Rozi.

Disampaikannya, dalam pipeline business yang berbasis pengembangan kawasan TOD, mengharuskan korporasi untuk menyediakan kawasan lahan di sekitar area stasiun transportasi umum seperti Commuter Line, LRT, dan BRT.

Dengan skema mendekatkan hunian vertikal dengan akses transportasi publik, ADCP juga harus merogoh dana tak sedikit guna membangun beberapa infrastruktur pendukungnya.

“Termasuk menyediakan fasilitas infrastruktur pendukung,” ujar dia.

Namun meski menghadapi kendala keuangan di mana arus kas sampai negatif, ADCP maupun Adhi Karya tetap berupaya melanjutkan pembangunan melalui beberapa skema pendanaan.

“Sementara itu, pengembangan hunian dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana pengembangan,” beber Rozi.

Properti Lesu

Rozi mengungkapkan, masih lesunya industri properti semakin membuat kinerja PT Adhi Commuter Properti Tbk babak belur. Masih belum pulihnya sektor properti, lanjut dia, ikut berdampak pada arus kas ADCP.

Kondisi ini membuat perseroan kesulitan menyelesaikan pembangunan LRT City di sejumlah lokasi.

“Di sisi lain, kondisi pasar properti dalam beberapa tahun terakhir yang belum sepenuhnya pulih turut mempengaruhi tingkat penjualan produk,” ucap dia.

“Sehingga (kondisi lesunya properti) berdampak pada penerimaan kas dan kemampuan pendanaan penyelesaian proyek,” tutup Rozi.

Kerugian Para Pembeli LRT City

Sebelumnya diberitakan, salah satu pembeli apartemen LRT City Ciracas bernama Tomy mengaku memutuskan membeli unit di proyek tersebut karena percaya terhadap reputasi ADCP sebagai anak usaha BUMN. Namun, harapan itu berubah menjadi kekecewaan setelah proyek yang dibelinya tak kunjung selesai sesuai jadwal.

“Menyesal mempercayakan properti ke pihak ADCP. Adhi karya (induk ADCP) amat sangat tidak profesional,” kata Tomy.

Menurut Tomy, saat melakukan pembelian, pihak pengembang menjanjikan unit apartemen akan diserahterimakan pada 2021. Akan tetapi, hingga enam tahun berselang, janji tersebut belum juga terealisasi.

“Saya konsumen LRT Ciracas Urban Signature Tower Azure, merasa sangat dirugikan. Dijanjikan serah terima tahun 2021, sampai sekarang tidak kunjung terealisasi,” ucap dia.

Selama menunggu kepastian, Tomy mengaku telah berulang kali menghubungi manajemen ADCP untuk meminta informasi mengenai jadwal serah terima. Namun, ia menilai jawaban yang diterima hanya berupa janji-janji baru tanpa realisasi yang jelas.

“Saya sudah menghubungi manajemen untuk kejelasan kapan serah terima, namun hanya janji tanggal baru. Bahkan sampai saya minta surat sah kejelasan serah terima pun tidak ditepati serah terimanya sampai saat ini,” beber Tomy.

Ia juga mengungkapkan bahwa pembayaran unit apartemen yang dibelinya telah diselesaikan sepenuhnya sejak 2022. Meski demikian, unit tersebut hingga kini belum dapat diterima.

Bagi Tomy, kerugian yang dialami bukan hanya berupa dana yang telah dikeluarkan, tetapi juga waktu, tenaga, serta tekanan psikologis selama menunggu kepastian.

“Pembayaran sudah dilunasi sejak tahun 2022,” ucap Tomy.

Tetap Wajib Mencicil

Pengalaman serupa juga dirasakan pembeli lain, Esthi.

Ia mengatakan, keyakinannya membeli unit apartemen LRT City muncul karena proyek tersebut dikembangkan oleh ADCP yang merupakan anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

“Salah satu hal yang meyakinkan saya untuk mengambil unit ini adalah karena pengembangnya merupakan perusahaan milik BUMN, yang saya percaya tidak akan mangkrak,” ungkap Esthi.

Meski hingga kini unit apartemen belum juga diserahterimakan, Esthi tetap harus membayar cicilan kredit bank setiap bulan.

Kewajiban tersebut terus berjalan sejak 2021, sementara kepastian penyelesaian proyek belum juga diperoleh.

“Setiap bulan sedih banget lho mesti bayar ke bank Rp 18 juta sejak Mei 2021. Karena saya ambil 2 unit, tipe studio dan 2 bed room, yang barangnyanya belum ada sampai dengan saat ini,” ucap Esthi.

Dua unit apartemen yang dibelinya dibiayai melalui fasilitas kredit perbankan. Karena itu, meskipun pembangunan belum selesai dan unit belum diterima, cicilan beserta bunga pinjaman tetap harus dibayarkan sesuai jadwal.

Esthi mengatakan, apartemen tersebut dibeli bukan semata-mata untuk investasi, melainkan juga sebagai persiapan masa depan bagi keempat anaknya.

“Saya seorang ibu dengan 4 orang anak, mesti pergi pagi pulang malam untuk bekerja dan melewatkan banyak momen dengan anak-anak. Demi bisa memberikan peninggalan terbaik untuk mereka,” ungkap Esthi.

“Tujuan saya membeli unit itu adalah untuk investasi dan persiapan untuk anak-anak saya ketika mereka akan menikah nantinya,” tambahnya.

Meski telah menunggu sejak 2021, Esthi mengaku masih berharap proyek LRT City dapat diselesaikan sehingga seluruh pembeli memperoleh unit yang telah mereka bayarkan.

Namun, apabila proyek tidak dapat dilanjutkan, ia berharap pengembang bersedia mengembalikan dana para konsumen. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles