JAKARTA – Besarnya jumlah warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri membuat potensi ekonomi dari layanan kesehatan ikut mengalir ke negara lain. Nilainya diperkirakan mencapai Rp 170 triliun per tahun.
Setiap tahun, sekitar 1 juta hingga 2 juta warga negara Indonesia (WNI) diperkirakan pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan medis. Bahkan, berdasarkan data industri yang disampaikan Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI), sekitar 50-60 persen pasien asing yang menjalani perawatan di rumah sakit Malaysia dan Singapura merupakan warga Indonesia.
Ketua Umum AWMI Taufik Jamaan mengatakan, kemampuan fasilitas kesehatan dalam menarik pasien tidak semata-mata bergantung pada teknologi dan fasilitas medis yang tersedia.
“Keputusan pasien untuk berobat tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas fisik atau kecanggihan alat medis semata. Kepercayaan, kualitas pelayanan, efisiensi waktu tunggu, kemudahan akses, serta rekam jejak pengalaman pasien (patient experience) adalah kunci keberhasilan yang sebenarnya,” ujar Taufik dalam keterangan tertulis, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Rabu (26/8) dalam group discussion (FGD) yang diprakarsai Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) bersama AWMI dan didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada akhir Agustus 2026 di Menara Kompas.
Forum tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan dari industri kesehatan dan pariwisata, antara lain asosiasi pariwisata nasional ASTINDO, Alpha IVF, Helene Clinic, Mandaya Hospital, RS Bethsaida, Ciputra Hospital, dan Bali International Hospital.
FGD itu mengidentifikasi persoalan wisata medis Indonesia tidak hanya berkaitan dengan teknologi ataupun kemampuan teknis medis. Kepercayaan masyarakat dan belum adanya pengelolaan alur pelayanan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir juga menjadi persoalan yang dibahas.
Salah satu tantangannya datang dari komunikasi digital melalui rekomendasi atau electronic word of mouth (e-WOM).
Dalam forum tersebut disebutkan bahwa narasi negatif dapat menyebar lebih cepat dibandingkan keberhasilan layanan medis di dalam negeri yang tidak terdokumentasikan.
Selain itu, layanan pendampingan pasien dinilai masih belum terintegrasi, mulai dari concierge di bandara, penjemputan privat, hingga jalur cepat ketika pasien menjalani pelayanan di rumah sakit.
Rumah Sakit Dinilai Perlu Bersinergi Group CEO Mandaya Hospital Anastina Tahjoo mengatakan, rumah sakit di Indonesia masih banyak yang bergerak sendiri dalam memperkenalkan kemampuan layanan medisnya.
“Saat ini rumah sakit di Indonesia masih banyak berjalan masing-masing dan belum bersinergi secara optimal dalam mempromosikan kemampuan medis kita. Padahal, kita memiliki banyak dokter dan tenaga medis dengan kemampuan yang sangat baik,” kata Anastina.
“Rumah sakit perlu bersatu dan berkolaborasi untuk bersama-sama mempromosikan keahlian serta layanan medis Indonesia ke pasar internasional,” lanjut dia.
Persoalan tersebut menjadi perhatian seiring pengembangan wisata medis yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sebagai salah satu program prioritas nasional.
Sebanyak 18 rumah sakit nasional juga telah ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan nasional dalam proyek percontohan atau pilot project wisata medis Indonesia.
Program tersebut diarahkan untuk membangun kesiapan fasilitas kesehatan domestik sekaligus reputasinya di mata masyarakat.
Menjawab persoalan fragmentasi layanan tersebut, AWMI bersiap mengambil peran sebagai pengelola atau orchestrator ekosistem wisata medis dengan menyusun standar layanan terintegrasi.
Skema tersebut akan menghubungkan sejumlah pihak yang terlibat dalam perjalanan pasien, mulai dari pengelola bandara, penyedia transportasi, hingga fasilitas kesehatan.
AWMI juga tengah mengembangkan platform digital Wisata Medis Indonesia yang direncanakan diluncurkan dalam waktu dekat. Platform tersebut disiapkan sebagai sarana informasi satu pintu yang memuat informasi layanan, profil tenaga medis, hingga estimasi biaya.
Selain mengintegrasikan informasi, platform tersebut diarahkan untuk mendokumentasikan pengalaman keberhasilan pasien atau success stories sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan medis di dalam negeri.
Pengembangan ekosistem tersebut melibatkan kebijakan pemerintah, riset perguruan tinggi melalui MNP dengan dukungan Kemdiktisaintek, serta keterlibatan AWMI dan pelaku industri kesehatan.
AWMI sendiri merupakan organisasi yang memiliki lebih dari 1.500 anggota di Indonesia. Keanggotaannya mencakup unsur rumah sakit, tenaga medis, pelaku pariwisata, serta pemangku kepentingan lain yang berkaitan dengan pengembangan wisata medis.
AWMI juga mengajak pelaku wisata medis di Indonesia berkolaborasi melalui sekretariat asosiasi untuk memperkuat pengembangan dan promosi layanan medis Indonesia ke pasar internasional.
KIS Tak Aktif, Pasien Tumor Telantar di Selasar
Seelumnya beredar sebuah foto yang memperlihatkan seorang pasien wanita terbaring lemas beralaskan kain seadanya di lantai selasar rumah sakit beredar luas dan memicu keprihatinan masyarakat.
Pasien tersebut diketahui bernama Ade (52), warga Kampung Cicariang, Desa Ridogalih, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Ibu rumah tangga yang didiagnosis mengidap mioma (tumor rahim) ini terpaksa bertahan di selasar luar RSUD Palabuhanratu dalam kondisi pendarahan hebat.
Pihak rumah sakit menyarankan pasien untuk pulang terlebih dahulu lantaran kartu BPJS Kesehatan/KIS miliknya baru akan aktif pada tanggal 1 Juli mendatang. Dalam foto yang beredar, tampak Ade yang mengenakan jilbab ungu terbaring lemas beralaskan kain bermotif batik di atas lantai keramik selasar.
Tiga orang anggota keluarganya terlihat duduk melingkar di atas lantai sambil menjaganya di antara botol-botol air mineral dengan raut wajah cemas.
Menantu pasien, Budiman (38), membenarkan situasi pilu yang dialami mertuanya tersebut. Ia menceritakan, Ade sebenarnya sempat dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu (20/6/2026) malam karena mengalami pendarahan. Setelah kondisinya sempat dinilai stabil, mereka sempat diminta pulang.
“Namun sampai di rumah, kondisi Ibu kembali memburuk. Pendarahannya terjadi lagi. Makanya tadi pagi-pagi sekali langsung saya bawa lagi ke sini untuk berobat,” kata Budiman saat ditemui di selasar RSUD Palabuhanratu, Senin (22/6/2026).
Setelah kembali dibawa ke Poliklinik Kandungan dan menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG), dokter menegaskan bahwa tumor di perut Ade sudah harus segera diangkat melalui tindakan operasi. Namun, rencana tindakan penyelamatan nyawa itu terbentur masa aktif jaminan kesehatan.
“Hasil dari berobat di-rontgen katanya ini tumor harus diangkat. Sedangkan saya kan enggak punya biaya, terkendala biayanya KIS-nya enggak aktif. Katanya harus pakai BPJS, sedangkan BPJS mertua saya enggak aktif, aktif tanggal 1 gitu kan. Terus ya udah disuruh pulang aja sama dokter,” ujar Budiman lesu sembari memperlihatkan kertas hasil USG.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin megap-megap. Selain diminta pulang, mereka hanya dibekali resep dokter tanpa jaminan obat gratis.
“Tadi dikasih obat juga beli di luar. Cuma dikasih resep-resep doang, cuma obat beli di luar saya,” ucapnya.
Pihak keluarga kini memilih nekat bertahan di emperan terbuka rumah sakit karena tidak berani membawa Ade pulang ke Kampung Cicariang lantaran jarak tempuh yang jauh dan kondisi fisik Ade yang terus menurun drastis.
“Karena kalau saya dibawa pulang lagi mertua saya, karena udah repot, saya kasihan, karena dari sini ke rumah jauh perjalanan juga. Sedangkan ini di sini pun juga masih pendarahan. Takut ada apa-apa di rumah,” tutur Budiman cemas.
Penjelasan Pihak RSUD Palabuhanratu
Merespons hal tersebut, Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD Palabuhanratu, dr. Rizky Tanzil, memberikan klarifikasi terkait kondisi medis pasien dan prosedur administrasi jaminan yang sedang berjalan.
Menurutnya, pasien Ade sudah diperiksa secara komprehensif oleh dokter spesialis kandungan di poliklinik.
“Ibu Ade ini tadi sudah diperiksa oleh spesialis kandungan di poli kandungan. Bahwa pasien kondisinya stabil, tanda vital bagus, dan pendarahan minimal. Sehingga sementara ini bisa untuk berobat jalan,” ujar Rizky.
Terkait keberadaan pasien di selasar rumah sakit, Rizky menjelaskan bahwa hal itu didasari oleh rasa kekhawatiran dan kebingungan dari pihak keluarga, bukan karena pihak rumah sakit menelantarkan mereka.
“Mereka itu memang khawatir terhadap keluhan yang akan terjadi, karena sebelumnya pernah ada pendarahan yang agak banyak, sehingga pasien itu bingung. Sebenarnya pendarahannya minimal, jadi secara medis belum perlu untuk dirawat inap karena kondisi pasien stabil,” jelasnya.
Pihak RSUD Palabuhanratu menegaskan tidak tinggal diam dan telah melakukan atensi serta edukasi kepada keluarga pasien beserta aparatur desa setempat. Berdasarkan pengecekan data jaminan, Ade sebelumnya memiliki fasilitas BPJS KIS namun statusnya dinonaktifkan.
“Sudah dipanggil pihak keluarga dan pihak desa, juga sudah dijelaskan bagaimana prosedurnya untuk bisa mengaktifkan kembali BPJS-nya. Kami sudah koordinasi dengan pihak desa untuk mengusahakan dan membantu pengaktifan kembali KIS pasien. Nanti kalau sudah aktif, bisa segera direncanakan untuk tindakan operasi sesuai keluhan pasien,” pungkas Rizky. (Web Warouw)

