JAKARTA – Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), Yohanes Rumat, menyoroti kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mboeng di Desa Kaju Wangi, Kecamatan Elar, Manggarai Timur, NTT. Sekolah berdinding bambu itu sebelumnya viral lantaran kondisinya memprihatinkan dan belasan tahun tidak direnovasi.
Yohanes menyebut kondisi sekolah berlantai tanah tersebut sebagai bentuk kelalaian pemerintah daerah dalam memenuhi hak dasar pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Ia mempertanyakan inisiatif kepala sekolah hingga Bupati Manggarai Timur dalam upaya renovasi gedung.
“Kami mempertanyakan kepala sekolahnya. Berarti dia tidak mampu memberi informasi melalui proposal untuk mendatangkan keuangan negara, itu kelemahan pertama,” kata Yohanes di Kupang, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Yohanes lantas menyentil Bupati Manggarai Timur lantaran tidak mengetahui permasalahan fasilitas di lembaga pendidikan tersebut. Menurutnya, jika pemerintah daerah benar-benar turun ke lapangan, kondisi SDN Mboeng seharusnya sudah menjadi prioritas perbaikan.
“Kalau sekolah seperti itu dimana posisi pemerintah, ketika kasat mata dia turun ke sana sekolah ini tidak betul. Dia lihat ke lapangan, namun tidak ada perubahan pada fisik gedung, maka itu pemerintah yang tidak bagus,” sentil Yohanes.
“Bupatinya tidak betul. Saat kampanye mungkin propagandanya enak-enak, tapi saat dia jadi (terpilih), nonton sekolah yang begitu reot,” imbuh politikus PKB itu.
Yohanes menggambarkan kondisi SDN Mboeng sangat memprihatinkan. Selain berdinding anyaman bambu, sekolah tersebut juga tidak dialiri listrik. Padahal, sekolah itu mendapat bantuan televisi layar sentuh dari pemerintah.
“Miris juga, kalau gedung masih pakai dinding bambu, tapi ada TV layar yang bagus. Lebih miris lagi tidak ada listrik di sana,” kata Yohanes.
Yohanes mengatakan pemerintah memiliki beberapa sumber anggaran untuk perbaikan sarana pendidikan seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU). Ia meminta DPRD maupun Bupati Manggarai Timur hadir menyelesaikan permasalahan tersebut.
“Kalau kepala sekolahnya tidak mampu, maka bupati untuk harus anggarkan. Dan jika kepala sekolahnya yang tidak mampu, maka harus digantikan,” pungkasnya.
Sebelumnya, salah satu guru SDN Mboeng, Selviana Lantuk, mengungkapkan sekolah itu dibangun pada 2008. Menurutnya, ruang kelas darurat di SDN Mboeng tak pernah diperbaiki sejak dibangun 18 tahun lalu.
Dua ruangan darurat di SDN Mboeng digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa kelas 5 dan 6. Ruangan lain digunakan untuk kantor dan guru. (Enrico N. Abdielli)

