Selasa, 6 Oktober 2026

Mengenang Nuraini, Kakak yang Ngayomi dan Pejuang Sejati

Diantara mereka bertiga, Nuraini lah yang membuatku nyaman untuk nginthil. Termasuk maen ke kosannya dan numpang tidur.

Oleh: Isti Komah, S. Fil *  

TIDAK banyak yang bisa kukenang dari Nuraini. Tapi ada beberapa kenangan hangat yang mendalam.

Nuraini adalah salah satu dari 3N (Nining, Nuraini dan Norhiqmah) legenda Filsafat UGM yang sudah kuanggap sebagai kakak sekaligus guruku disaat pertama kali aku masuk kampus.

Nining kukenal disaat ospek 1996. Sementara Nuraini kukenal setelah ospek kelar. Norhiqmah kukenal saat gabung pendidikan Majalah Pijar Filsafat.

Diantara mereka bertiga, Nuraini lah yang membuatku nyaman untuk nginthil. Termasuk maen ke kosannya dan numpang tidur.

Berbeda dengan Nining dan Norhiqmah yang tampak begitu maskulin dan ingin mengenalkan arti kesetaraan dari awal kenal, Nuraini merupakan kakak senior yang ngemong dan membuatku nyaman untuk bertanya apapun dan memanggilnya Mbak Nur di awal kami kenal.

Dia juga mau mengajakku maen. Salah satunya saat Mono alias AJ Susmana ke kampus untuk ujian skripsi. Kelar ujian Mono, Nur pun langsung mengajakku ikut maen ke sekretariat KPRP (Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan), yaitu organisasi mahasiswa di Yogyakar tajaman masih dipimpin Haris Rusly Moti.

Kami bertiga pun meluncur ke sekretariat dekat ringroad utara. Satu hal yang kukenang diantara dua senior itu: sebuah persahabatan yang hangat dan indah.

Mono terlihat menyayangi Nur, begitupun Nur juga terlihat menyayangi Mono. Mereka terlihat akrab dan hangat sebagai kawan seperjuangan. Saat itu aku masih aktivis KMF(Keluarga Muslim Filsafat) yang belum paham apapun tentang PRD (Partai Rakyat Demokratik) dan gerakan kiri di Indonesia. Kecuali hanya sedikit dari bacaan selebaran yang rajin dibagikan dan dijual oleh Norhiqmah di kampus. Khususnya tabloid Pembebasan.

Sekitar tahun 2000-an saat aku ke Jakarta untuk mencari bahan skripsi, selain kawan-kawan STN (Serikat Tani Naional), aku juga menghubungi Nur. Di moment itu, aku sempat diajak pulang ke kontrakan Nur di Kampung Melayu. Rupanya itu kontrakan bersama 2 pasangan legend lainnya, yakni mas Petrus dan mbak Naning juga Aan dan mbak Murni.

Tengah malam saat mereka pulang, mereka langsung nonton TV acara pertunjukan sepakbola. Disaat jagonya kalah, Aan sampe nangis gedruk-gedruk kaki seperti anak kecil untuk mengekspresikan kekecewaan.

Melihat peristiwa itu, bagiku sangat berkesan. Karena para senior ini tampak begitu akrab, hangat dan ekspresif meskipun ada aku, tamu tak dikenal, anak kemarin sore. Itulah pertama kali aku berjumpa secara langsung dengan para aktivis kiri legend yang sebelumnya cuma kukenal namanya di bacaan dan koran.

Khususnya mas Petrus dan Aan. Karena mereka bukan dari kolektif Jogja, tapi Semarang. Di Jakarta pun aku sempat nginthil Nuraini yang seingatku saat itu sedang sendiri. Tidak seperti kawan sekontrakannya yang berpasangan.

November 2002, saat aku mulai tergabung di KPW PRD DIY, aku ditugaskan partai untuk membangun SEKAR alias Senjata Kartini wilayah Jogja. Sebuah LSM perempuan yang dipimpin oleh Nuraini dan Tunggal Pawestri di Jakarta. Saat itulah awal-awal aku mengenal Tunggal yang ditugaskan membantu pembentukan SEKAR Jogja sebagai utusan pusat.

Tunggal membantu SEKAR Jogja membuat workshop tentang pangan bekerjasama dengan IGJ atau Institut Global Justice. Narasumber yang kuingat saat itu adalah mbak Arimbi Heroeputri atau lebih dikenal dengan sebutan mbak Bimbi.

Sayangnya Nuraini tidak ikut datang ke Jogja, baik saat launching dengan pembicara Revrisond Baswir ataupun saat workshop. Sehingga Nur tidak ikut menyaksikan bagaimana semangatnya aku dan kawan-kawan SEKAR Jogja membangun organisasi ini.

Hingga kubela-belain organisasi menggadaikan anting dan menyerahkan KTPku sebagai jaminan ke hotel karena belum bisa melunasi biaya sewa hotel di waktu yang sudah ditentukan.

Bersyukur, akhirnya semua beres. KTP pun kembali.

April 2003, tidak lama setelah berhasil membangun SEKAR Jogja, aku ditugaskan partai sebagai Sekjend untuk memimpin Serikat Tani Nasional (STN) di Jakarta. Saat itulah aku kembali berjumpa dan tinggal bersama Nuraini di sekretariat INCREASE Tebet.

Tidak cuma pejuang yang militan dan kakak yang ngemong, Nuraini kulihat juga seorang pribadi yang well manage atas barang-barangnya.

Disaat yang laen tidur dan meletakkan barang pribadi secara kolektif dan asal-asalan, Nuraini sudah menempati kamar tersendiri yang sangat bersih dan rapi. Ini bener-bener membuatku kagum dan terkesan. Nur tetap rapi dan punya privacy diantara lingkungan para lelaki yang mayoritas jauh dari kata rapi. Mayoritas para perokok sembarangan dan hobby menaruh barang asal-asalan.

Bagiku, di sekretariat itu Nur menjadi seperti anomali penyegar mata dan hati.

2024, suatu ketika Nuraini dan Norhiqmah mengontakku untuk terlibat dalam program penulisan buku Memori Perempuan Berjuang Melawan Tiran. Tentu aku sangat senang dan semangat untuk terlibat. Hingga berhasil diterbitkan dan dilaunching di Jakarta. Ini adalah sebuah karya dan kenangan dari Nuraini yang sangat berharga dan tak terlupakan.

2024, disaat bersamaan Nuraini dengan penuh semangat terlibat dan mendukungku untuk membuat arisan bagi para mantan aktivis kiri DIY.

Dengan tertib Nur membayar setoran dan sempat bercanda saat dapat arisan. Tidak kusangka, seorang komisaris sebuah perusahaan BUMN masih mau terlibat dalam kegiatan recehan sebagai upaya membangun gerakan solidaritas antar kawan.

Selamat jalan sang Kakak, Guru dan Pejuang Sejati. Rest in Power, kawan Nuraini! ✊🌹

Bogor, 3 Oktober 2026.

——

Penulis Isti Komah, S. Fil mantan Ketua Umum Serikat Tani Nasional  (STN), alumni Fakultas Filsafat UGM.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles