JAKARTA- Sudah 2 tahun Presiden Prabowo Subianto memerintahkan agar Kementerian Kesehatan bisa mengatasi semua keluhan masyarakat,– namun belum ada tanda-tanda perbaikan layanan kesehatan bisa kembali baik seperti tahun 2004-2009.
Selama 5 tahun Departemen Kesehatan yang dipimpin, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.J(K), –.seluruh rakyat miskin dan tak mampu di Indonesia pernah mendapatkan pelayanan kesehatan maksimal, tanpa biaya, di semua rumah sakit pemerintah, dimanapun. Dalam program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
Menkes dokter ahli jantung pembuluh itu selama lima tahun mengatur penyebaran dokter sampai ke daerah melayani masyarakat di semua desa terpencil dan tersolir. Di setiap.desa ada Puskesdes (Pusat Kesehatan Desa) dengan dokter yang langsung dibawah binaan puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di kecamatan.
Menkes Fadilah memberikan setiap dokter yang bertugas di dearah terpencil dan terisolir mendapat insentif gaji yang layak,– sehingga tidak ada kekurangan dokter di daerah.
Setiap rumah sakit pemerintah bisa berkembang dalam sistim BLU (Badan Layanan Umum) sehingga pendapatan keuntungan RS tidak disetor menjadi pendapatan asli daerah (PAD). Keuntungan dikelola RS untuk meningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, kesejahteraan dokter, perawat dan semua dan pegawai RS. Sehingga pelayanan rumah sakit kepada masyarakat menjadi semakin baik.
Semua bidan desa aktif dipelayanan Posyandu sebulan sekali memantau kesehatan masyarakat menurunkan angka gizi buruk dan gizi kurang. Tingkat kematian ibu melahirkan dan bayi bisa terkendali dibawah pengawasan bidan yang bertugas di posyandu dan Puskesmas.
Di bidang farmasi, program obat serba seribu dibuat untuk mudah dijangkau masyarakat dengan harga murah Rp 1,000 di Apotik Rakyat yang berdiri di setiap desa. BUMN farmasi.yang bertugas mendapatkan keuntungan besar dari pengadaan obat seribu ini.
Harga obat menjadi transparan karena fabrikan wajib mencantumkan Harga Eceran Tertinggi (HET) disetiap kemasan obat bersama dengan nama generik obat. Sehingga masyarakat tidak terkecoh oleh kibusan pedagang obat dan bisa memilih obat generik yang jauh lebih murah tapi sama manjur.
Saat itu adalah awal pemerintah belajar mengatasi bencana alam. Setiap kejadian bencana alam, Pusat Penanganan Krisis dan Bencana, Departemen Kesehatan selalu berada lebih dahulu di tempat kejadian dan terdepan dalam mengatasi korban bencana,– dari bencana alam gempa Nabire, tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, gempa Pangandaran, gempa Kotacane, gempa Padang dan gempa Palu.
Saat itu Siti Fadilah memimpin perbaikan sistim kesehatan berlangsung secara sistimatis dan terukur. Departemen kesehatan bekerja tidak sendirian, namun melibatkan masyarakat di akar rumput yang tergabung dalam Dewan Keseharan Rakyat (DKR). Organisasi ini dibentuk oleh menteri kesehatan, dengan tugas memantau dan mendampingi dan mengadvokasi semua kebijakan bisa dirasakan langsung oleh rakyat.
Secara khusus DKR memastikan semua pasien mendapatkan pelayanan kesehatan maksimal untuk semua penyakit di kelas 3 rumah sakit pemerintah dan biayanya ditanggung oleh pemerintah dalam Jamkesmas. Sistim ini berlaku untuk seluruh rakyat khususnya yang miskin dan tidak mampu tanpa harus membayar iuran bulanan.
Menteri Kesehatan membuka hotline nomor pribadi selama 24 jam untuk menerima laporan masalah dari DKR, masyarakat dan petugas kesehatan,– untuk ditangani langsung saat itu juga oleh menteri kesehatan dan pejabat yang bertanggung jawab.
DKR dan Departemen kesehatan bersama-sama membangun desa dan kelurahan siaga untuk memastikan rakyat sadar dan ikut membangun sistim kesiap siagaan dalam menghadapi bencana alam dan bencana penyakit.
Di pertengahan tahun 2009, menteri kesehatan sudah mempersiapkan revolusi putih untuk memastikan peningkatan gizi masyarakat dengan menyediakan susu segar bagi masyarakat khususnya buat ibu dan anak. Sudah direncanakn agar Indonesia memiliki BUMN Susu lagi seperti SGM di masa lalu. Peternakan sapi perah akan dihidupkan kembali untuk menyokong produksi susu untuk rakyat.
Menteri Fadilah berharap, perbaikan gizi masyarakat menjadi fondasi penting untuk melawan berbagai penyakit, agar menjadi bangsa yang sehat dan kuat. Oleh karenanya panji utama dari Departemen Kesehatan saat itu adalah “Rakyat Sehat, Negara Kuat,”
Arus Balik Kemorosotan
Ternyata perjuangan dibidang kesehatan telah mengganggu kepentingan bisnis besar menyebabkan Siti Fadilah melewati 4 tahun penjara akibat fitnah yang tak memiliki bukti.
Masyarakat akhirnya harus kembali menghadapi nasib sial. Pada tahun 2009, setelah Menkes Siti Fadilah diganti,– semua upaya yang sudah dilakukan di atas harus kandas dan runtuh setelah menteri pengganti menjalankan SJSN dan menyerahkan pembiayaan kesehatan rakyat kepada BPJS.
Tak perlu lagi ditulis bagaimana nasib rakyat dan pasien dalam sistim kesehatan yang ada hari.ini!karena semuanorang sudah mengetahuinya dan menyadarinya. Namun tak seorangpun sanggup mengatasi dan memperbaiki kerusakan sistim ini.
Yang pasti, Arus balik kemerosotan layanan kesehatan dimulai sejak BPJS Kesehatan mulai dijalankan mulai tahun 2011.
SJSN dan BPJS telah berhasil merusak 5 tahun sistim kesehatan yang berorientasikan kepentingan rakyat kembali mengabdi kepada kepentingan bisnis elit.
Dan hari ini Presiden Prabowo masih harus cuci piring akibat carut marut sistim kesehatan yang ambruk akibat SJSN dan BPJS.
Sebagai seorang pemimpin, presiden Prabowo membutuhkan seorang menteri kesehatan yang bisa secara cepat memperbaiki sistim kesehatan agar kembali berorintasi pada kepentingan rakyat. Tapi apakah ada orang yang mampu dan berani seperti Siti Fadilah? Karena sejak 2009 sampai hari ini, hampir dua dekade, sistim kesehatan semakin jauh dari cita-cita Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo tahu bahwa kesehatan rakyat, adalah soal nyawa orang sakit, soal hidup dan mati pasien yang tidak bisa diletakan di meja perjudian. Ini adalah pertempuran yang harus dimenangkan. Oleh karenanya dibutuhkan panglima perang yang berani dan berpengalaman dalam pertempuran di medan kesehatan. Karena kelambatan dan penyelewengan yang terjadi dalam penanganan masalah kesehatan telah banyak memakan korban.
Rakyat Indonesia berharap punya kesempatan sekali lagi untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang maksimal seperti periode 2004-2009. Ini hanya bisa terjadi, apabilia Prabowo tidak salah pilih menteri kesehatan pengganti Menkes Budi Gunadi Sadikin di reshuffle akan datang.
Siti Fadilah Tetap Melayani
Panji “Rakyat Sehat Negara Kuat” tetap dikibarkan oleh DKR sampai hari ini. Walaupun harus berjuang sendiri tanpa dukungan Kementerian Kesehatan lagi Siti Fadilah dan DKR tetap berjuang melayani masyarakat yang sakit.
Sebagai Ketua Dewan Pembina DKR Siti Fadilah tetap mendapatkan kepercayaan rakyat untuk menyelesakan berbagai persoalan rakyat yang semakin komplex akibat runtuhnya sistim kesehatan nasional.
“Kita percayakan saja semoga pak Prabowo tidak salah pilih Menkes,” kata Siti Fadilah memanggapi.reshuffle menteri kesehatan yang sedang mencalonkan diri menjadi Ditjen WHO.di Jenewa. (Calvin G. Eben-Haezer)

