JAKARTA – Keluarga Bakrie menjadi salah satu konglomerasi bisnis paling menonjol selama kehadiran BPI Danantara dua tahun terakhir.
Banyak proyek strategis Danantara yang juga melibatkan Grup Bakrie.
Proyek teranyar yang menyita perhatian publik terkait dengan investasi BPI Danantara untuk sebagian saham HighPeak Energy, Inc. (Nasdaq:HPK), pengelola blok migas di Midland Basin, West Texas.
BPI Danantara menggandeng lengan bisnis migas Keluarga Bakrie PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) untuk mengambil sebagian saham HighPeak Energy.
BPI Danantara mengeluarkan dana sekitar US$250 juta dan ENRG menyiapkan US$200 juta untuk mengambil bagian saham pengelola migas di West Texas tersebut.
Dengan demikian, kongsi Danantara & ENRG secara keseluruhan membeli 450.000 saham dari seri baru saham preferen konversi HighPeak senilai US$450 juta, yang akan ditetapkan sebagai Saham Preferen Konversi Perpetual Seri A 6%.
HighPeak juga mendapat komitmen pendanaan dari Citibank dan Fifth Third Bank untuk fasilitas kredit berbasis cadangan atau fasilitas kredit berbasis cadangan (RBL) baru senilai US$800 juta.
Direktur Utama ENRG Syailendra S. Bakrie menuturkan investasi itu menjadi perseroan strategis untuk mengerek nilai jangka panjang yang signifikan bagi para pemegang saham perseroan.
“Kami berharap dapat memperoleh sinergi dalam bentuk transfer pengetahuan teknis maupun nilai tambah antara portofolio perseroan yang ada dengan aset-aset HighPeak,” kata Syailendra dikutip dari keterbukaan informasi, Rabu (7/10/2026).

Lokasi penambangan migas milik PT Energi Mega Persada Tbk atau ENRG (Ist)
Untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026, HighPeak mencatat rata-rata volume penjualan harian sekitar 45.456 barel setara minyak per hari (BOEPD).
ENRG akan mendapat eksposur terhadap sejumlah aset berkualitas tinggi HighPeak di Midland Basin, termasuk kepemilikan lahan yang signifikan, inventarisasi lokasi pengeboran berkualitas tinggi, serta sistem infrastruktur yang seluruhnya berada di salah satu cekungan hidrokarbon paling produktif di dunia.
“Perusahaan investasi akan didanai oleh perseroan secara independen, sehingga kami tetap dapat mengoptimalkan peluang reinvestasi ke depan sekaligus menjaga disiplin dalam alokasi modal,” kata Syailendra.
ENRG & Danantara dapat menunjuk satu direktur untuk duduk di dewan arah HighPeak.
Chief Executive Officer Danantara Investment Management Pandu Sjahrir menerangkan investasi pada HighPeak sejalan dengan mandat Danantara untuk masuk ke sektor strategis yang memberikan imbal hasil berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Posisi strategi HighPeak di salah satu pasar hulu minyak dan gas bumi paling maju di dunia menjadikannya peluang investasi yang potensial seiring dengan upaya kami membangun platform investasi yang terdiversifikasi secara global,” kata Pandu lewat keterangan resmi.
Peluang VKTR
Sebelumnya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) tengah menjajaki peluang pendanaan jumbo dari PT Danantara Investment Management (DIM).
Penjajakan itu tercermin dari penandatanganan dokumen indicative non-binding term sheet antara kedua perusahaan pada 28 Agustus 2026.
Pembahasan opsi pinjaman lengan investasi Danantara itu juga melibatkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), holding bisnis keluarga Bakrie sekaligus pengontrol VKTR.
“Penandatanganan term sheet tersebut merupakan bagian dari proses penjajakan dan pembahasan awal sehubungan dengan potensi kerja sama pendanaan untuk mendukung pengembangan dan ekspansi kegiatan mobilitas-as-a-service ( MaaS) yang dilakukan perseroan,” kata Direktur VKTR Indah Permatasari Saugi, Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan indikasi awal yang tercantum dalam term sheet, potensi penyediaan benih dilakukan dalam jumlah pokok indikatif sebanyak-banyaknya Rp2 triliun.
Rencananya, VKTR akan menggunakan utang itu untuk membiayai pengadaan bus listrik dan tujuan lainnya yang akan disepakati dengan Danantara dalam dokumen definitif.
“Investasi pada elektrifikasi mobilitas komersial merupakan investasi pada transisi energi jangka panjang yang dapat membawa dampak positif pada adopsi kendaraan listrik nasional,” kata Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir melalui siaran pers, Rabu (2/9/2026).
Pandu menerangkan non-binding term sheet yang sudah ditandatangani itu merupakan kerangka awal. Keputusan Investasi Danantara akan tetap melewati proses uji menyeluruh yang komprehensif.
Proyek Sampah
Selain itu, entitas BNBR PT Bakrie Power masuk ke dalam proyek Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) milik Danantara bersama konsorsium Mentari Citra Lestari.
Bakrie Power membentuk usaha patungan bersama dengan PT Acritas Karya Persada dan SUS Indonesia Holding Limited.
Sebagai anggota konsorsium, Bakrie Power akan berperan dalam pemilihan kontraktor EPC, membantu menyediakan ketentuan komponen lokal bagi SUS Indonesia, pemeliharaan fasilitas PSEL, serta pendanaan proyek.
“Bisnis PSEL ini juga sangat terkait dengan pengalaman dan kapabilitas Bakrie Power dalam membangun pembangkit listrik untuk PLN,” kata Sekretaris Perusahaan BNBR Christofer Alexander Uktolseja dalam keterangan resmi.
Kendati demikian, BNBR menegaskan, penetapan sebagai mitra PSEL Danantara itu masih bersifat persyaratan. Bakrie Power dan konsorsium harus memenuhi seluruh persyaratan dalam conditional letter of award.
“PT Bakrie Power bersama anggota konsorsium dan Danantara masih dalam tahap akan melaksanakan studi kelayakan untuk memunculkan aspek teknis, komersial dan proyek finansial,” tuturnya. (Web Warouw)

