Jumat, 23 Oktober 2026

KEMENKES SIAPKAN RUMAH OKSIGEN..! 75.712 Balita Terjangkit ISPA Karena Karhutla, IDAI Desak Negara Beri Perlindungan

JAKARTA,  – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak agar negara memberikan perlindungan kepada anak-anak korban pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Terlebih, data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan ada 75.712 balita yang terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“Mereka tidak bisa melindungi diri sendiri, tugas kita lah orang dewasa dan negara, untuk memastikan mereka terlindungi,” kata Ketua Pengurus Pusat IDAI, Pripim Basarah Yanuarso dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (23/10/2026) dikutip Bergelora.com di Jakarta.

Primpin mengatakan, anak-anak adalah kelompok paling rentan dalam bencana pencemaran asap Karhutla. Namun suara mereka sering tak terdengar.

Padahal, kata dia, anak-anak dan balita khususnya dengan asma, penyakit jantung atau paru kronik dan disabilitas sering bergantung pada oksigen dan alat medis risiko tinggi.

IDAI juga mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat bila muncul tanda kegawatan: sesak napas berat, tarikan dinding dada, bibir membiru, kesadaran menurun, atau anak tidak mampu minum.

“Lindungi anak sebelum muncul keluhan. Kenali tanda gawat dan segera cari pertolongan. Evakuasi bila lingkungan tidak lagi aman. Dahulukan kelompok rentan dan lindungi hak anak,” katanya.

Pripim mengajak agar semua pihak baik keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan dan pemerintah bersiaga.

“Setiap keputusan—dari menutup jendela hingga memilih evakuasi—adalah bentuk nyata perlindungan terhadap hak anak atas udara bersih dan kesehatan,” tandasnya.

ISPA tembus 333.470 Kasus, 75.712 Balita

Sebagai informasi, akumulasi kasus ISPA akibat cemaran asap Karhutla mencapai 333.470 per tanggal 21 Oktober 2021.

“Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, akumulasi kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla telah menembus angka 333.470 kasus,” kata Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti.

Dari total angka tersebut, sebanyak 258.298 kasus dialami warga berusia di atas lima tahun. Sisanya, yakni 75.172 kasus terjadi pada anak berusia nol hingga lima tahun (balita).

“Sebaran kasus ISPA yang tercatat berada pada 68 kabupaten/kota di 7 provinsi. Lonjakan drastis penderita ISPA ini sejalan dengan pekatnya kabut asap yang mencemari udara,” ungkap dia.

Sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah baik penyiapan fasilitas kesehatan, penyediaan rumah oksigen hingga pengerahan belasan ribu petugas kesehatan.

Kemenkes Siapkan Rumah Oksigen

Sementara itu dilaporkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan ratusan fasilitas rumah oksigen dan layanan mobil keliling untuk memberikan pertolongan cepat bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan.

Langkah ini dilakukan di tengah penurunan kasus ISPA harian akibat karhutla menjadi sekitar 3.000 kasus per 22 Oktober 2026.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebagai upaya penanganan, pihaknya mengirimkan masker, di mana terdapat total kebutuhan sebanyak 1,6 juta, yang ditargetkan sudah selesai dikirimkan pada minggu depan.

“Kalau dia sudah pakai masker, dia terekspos, harus rawat, rawat pertamanya dengan oksigenasi. Kita harus kasih tabung oksigen dengan selangnya atau kita kasih oxygen concentrator. Itu juga akan kita kirim dalam seminggu dua minggu ini ke daerah-daerah,” ujar Budi Gunadi seperti dilansir Antara, Jumat (23/10/2026).

Dia menargetkan agar semua daerah-daerah dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terindikasi merah atau hitam untuk memiliki fasilitas itu. Selain itu, pihaknya juga mengirimkan obat-obatan untuk penanganan bagi yang sakit.

Budi mengatakan, penurunan terlihat dari jumlah kabupaten/kota yang ISPU-nya masuk kategori merah dan hitam. Dari sebelumnya 50 kabupaten/kota, kini turun menjadi 22 kabupaten/kota.

Meski demikian, dia mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati karena kualitas udara di sejumlah wilayah masih berbahaya bagi kesehatan. Pihaknya terus memantau perkembangan kasus ISPA dan dampak kesehatan lainnya di daerah terdampak.

Menurut Budi, langkah pencegahan utama yang perlu dilakukan masyarakat adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker.

“Nomor satu paling baik stay at home. Mau pakai apa pun kata-katanya, stay at home. Jangan keluar kalau kondisinya jelek. Kalau toh pun harus keluar, pakai masker,” katanya.

Kemenkes juga terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah untuk memantau perkembangan kasus serta mengidentifikasi kebutuhan logistik di masing-masing wilayah.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Dr. dr. Ten Suyanti mengatakan, Kementerian Kesehatan menyiapkan ratusan fasilitas rumah oksigen serta layanan mobil keliling guna memberikan pertolongan cepat bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Then mengatakan di Jakarta, Kamis, rumah oksigen dihadirkan dalam bentuk ruangan atau bangunan khusus yang dilengkapi dengan pasokan oksigen, baik menggunakan oksigen konsentrat maupun tabung oksigen konvensional.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles