Karate bukan soal menang atau kalah, namun yang terpenting adalah mengajarkan manusia agar bisa bersikap Mizuno Kokoro atau mengalir dan tenang seperti air mampu masuk kepada keadaan seperti apapun, menerima dan waspada pada setiap keadaan serta bisa menjadi sangat perkasa bila diperlukan.
Oleh: Sensei Laksda Dr. Ivan Yulivan, S.E., M.M., M.Tr (Han), M.Tr (Opsla) *
SEJARAH telah membuktikan bagaimana Karate sebagai salah satu beladiri yang berkembang sangat cepat ke seluruh dunia karena sarat dengan philosopy dan History nya. Meskipun di negara asalnya yaitu Jepang (khususnya di Okinawa ), Karate memiliki berbagai jenis aliran (Ryu Ha) antara lain Shotokan, Shito Ryu, Goju Ryu, Wado Ryu,Isshin Ryu, Kobayashi Ryu, Kyokushin, dll sama halnya silat di Indonesia ada aliran Cimande, Cikalong, Syahbandar, Silat Harimau, Kari Madi, dll.
Khusus untuk Karate yang telah masuk ke Indonesia di era tahun 1960 hingga 1970 an dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Jepang atau orang orang Jepang yang sedang bertugas di Indonesia dan mengajarkannya kepada masyarakat yang ada.
Kini terdapat 25 Perguruan sejak tahun 1972 dibawah Naungan PB FORKI (Federasi Olah Raga Karatedo Indonesia). Namun hampir dipastikan apapun alirannya Karate memiliki kesamaan yaitu kesamaan prinsip untuk membangun karakter para praktisinya utamanya sikap sabar, tangguh, rendah hati dan menjauhi kekerasan.

Suatu hal yang menarik karena dalam karate justru kita dilatih dengan Keras akan jurus jurus Karate baik KIHON (Bentuk teknik), KATA (Rangkaian Jurus) dan KUMITE (Pertarungan). Semua itu diajarkan dan dilatihkan sesungguhnya justru untuk menghindari perkelahian itu sendiri.
Maka dikenal dengan istilah Karate Ni Sente Nashi (Tidak ada serangan pertama dalam karate). Itulah sebabnya kenapa KATA selalu diawali dengan tangkisan.
Latihan secara terus menerus sedikit demi sedikit (Nichi Nichi Keiko) akan menimbulkan sifat sabar dan Ikhlas terhadap beratnya latihan agar para praktisinya selalu disiplin dan tidak cengeng.
Sesama Karateka wajib saling menghormati (Rei) dan bersikap santun pada siapapun. Tak heran bila kemudian diantara mereka selalu mengucapkan salam Karate yaitu Oss.– singkatan dari Oss dan Shinobu yang artinya menekan diri untuk kuat berlatih dengan sabar.

Karate pada jamannya sangat dipengaruhi prinsip-prinsip kelas Samurai sehingga mampu bertahan hingga sekarang karena dimilikinya semangat Bushido (Gi = Kesungguhan, Yu= Keberanian, Jin = Kebijaksanaan, Rei = Penghormatan, Makoto= Kejujuran, Meiyo= Kehormatan diri dan Chuji= Loyalitas.
Maka tak heran bila negara Jepang meskipun telah maju dan modern saat ini namun tetap memegang nilai budaya dan nilai bushido ini hingga sekarang yang kemudian dikenal dengan Istilah Karatewa Kunshi No Bugei (Karate adalah Seni Beladiri Berbudi Luhur).
Para karateka saat akan memasuki Dojo fedung atau bangunan tempat berlatih, selalu diawali penghormatan sambil menghadap Bendera Merah Putih, Bendera PB FORKI dan Bendera Perguruan, sebagai wujud kecintaan pada karate serta tanah air yang harus kita pertahankan.
Beranggotakan 2 Juta Orang
INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) sendiri telah berdiri sejak 15 April 1971, yang kini telah beranggotakan 2 Juta orang dengan sekitar 50 ribu karateka sabuk hitam yang tersebar di 36 propinsi di seluruh tanah air.
INKAI sejak berdirinya telah banyak menorehkan prestasi baik nasional maupun internasional seperti Advent Bangun dan para Dewan Guru INKAI Sihan Nico Lumenta (Sekarang Majelis Tinggi Dewan Guru), Sihan Abdul Kadir, Sihan Ery Sadewo, Sihan Christin Taroreh, Sihan Abdullah Kadir, Sihan Syamsuddin dan Sihan Baron Bahar. Generasi masa kini antara lain Zigi Zaresta, Coki, dll.
PP INKAI sendiri saat ini selain Ketum PP INKAI juga para Waketum Prof Benny Riyanto, Sensei Zul Purba dan Sekjen Ahmad Falcony yang semuanya juga para mantan Atlit Nasional INKAI..
Dalam aturan ketat mengharuskan ketika di Dojo harus fokus dan serius berlatih, dilarang bersenda gurau serta menekankan pentingnya arti kesehatan dan keselamatan para anggotanya.
Para karateka harus disiplin saat mulai menaruh alas kaki secara teratur menghadap keluar ditangga luar Dojo, mengepel dan membersihkan lantai sebelum dan sesudah berlatih sebagai wujud rasa mengabdi dan tidak adanya perbedaan sesama karateka.
Latihan selalu diawali dan diakhiri dengan Tradisi Karate yang di dalamnya disebutkan Sumpah Karate 1. Sanggup Memelihara kepribadian, 2. Sanggup Patuh Kepada Kejujuran 3. Sanggup Mempertinggi Prestasi, 4. Sanggup Menjaga Sopan Santun dan 5. Sanggup Menguasai Diri,–apapun sulitnya dan bagaimanapun keadaannya
Para karateka harus mampu mengendalikan dirinya dari sifat sombong, takabur, egois, pemarah, dan pantang menyerah.
Latihan dimulai dengan Taiso (senam peregangan). Barulah kemudian latihan inti baik berupa Kihon, Kata atau Kumite kemudian penutup berupa pelemasan dan meditasi (Mokuso).
Para karateka ada umumnya juga dapat mengikuti pertandingan baik di kelas Kata maupun Kumite dengan berbagai kelas sesuai keadaannya masing masing, baik perorangan maupun beregu.
Karate bukan soal menang atau kalah, namun yang terpenting adalah mengajarkan manusia agar bisa bersikap Mizuno Kokoro atau mengalir dan tenang seperti air mampu masuk kepada keadaan seperti apapun, menerima dan waspada pada setiap keadaan serta bisa menjadi sangat perkasa bila diperlukan.
Kita telah belajar bagaimana unggas terbang, bagaimana, hewan berjalan dan bagaimana ikan berenang. Maka dalam karate kita perlu belajar bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai layaknya seorang manusia dimuka Bumi. Oss!
—–
*Penulis Sensei Laksda Dr. Ivan Yulivan, S.E., M.M., M.Tr (Han), M.Tr (Opsla) adalah Ketua Umum INKAI dua periode sejak tahun 2018 sampai sekarang.
Penulis sebagai praktisi Karate INKAI tingkatan DAN 7 INKAI serta DAN 7 JTKA (Japan Traditional Karate Do), yang telah berlatih sejak tahun 1976, selama 50 Tahun,
Penulis juga sebagai pemilik Budo Seishin Dojo yang berarti tempat berlatihnya para karateka ksatria yang berpikiran jernih.Â
Penulis merupakan Professor Beladiri External Degree Kehormatan dari World Martial Art Philosopy And Science di tahun 2014, karena mempelajari juga bela diri lainnya antara lain Silat Maenpo Cikalong, Judo, MMA (Sub Mission) dan IAIDO.
Penulis adakah pencetus INKAI Goes To Sensei yaitu Gashuku atau penggemblengan mental karatedo para sabuk hitam di alam terbuka di Gunung atau air terjun digembleng dari pagi siang hingga malam hari selama 5 hari untuk meraih predikat Sensei atau pelatih dan sebagai guru di INKAI.
Penulis telah menulis beberapa buku berjudul “Petuah sang Guru”, “The Way Of Karate Do”, “Karate wa Kunshi No Bugei” (Karate Seni Beladiri Berbudi Luhur) dan Budo Rei Spirit, dll

