JAKARTA- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan sebanyak 52% dari total jumlah badan usaha milik negara (BUMN) mengalami kerugian sekitar Rp20 triliun.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyebutkan saat ini jumlah perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Danantara sebanyak 1.074 perusahaan. Dengan demikian, jumlah BUMN yang merugi sekitar 558 perusahaan.
“[Sebanyak] 52% dari 1.074 perusahaan itu merugi Rp20 triliun atau US$1,5 miliar setiap tahun,” ujarnya di Jakarta, dikutip Bergelora.com (27/10).
Tak hanya itu, Danantara juga menemukan adanya praktik transaksi berlapis antar perusahaan BUMN yang membuat biaya operasional membengkak.
Dony menjelaskan setiap perusahaan mengambil keuntungannya sendiri di setiap praktik operasional.
“Sebagian besar perusahaan itu, mereka beroperasi sebagai layering companies. Sebagian besar perusahaan, Anda tahu, mereka mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri,” katanya.
Dony yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN ini memberi contoh pada salah satu emiten peat merah PT. Telkom Indonesia Tbk (TLKM), yang mana pembangunan serat optik di lingkungan untuk layanan Indihome harus melewati empat perusahaan berbeda. Masing-masing perusahaan mengambil keuntungan, sehingga biaya akhirnya disebut 150% lebih tinggi dibandingkan para pesaing.
“Jadi, jika dibandingkan dengan para pesaing, biaya kami 150% lebih tinggi daripada mereka. Ini adalah fakta,” ungkapnya.
Pola serupa ditemukan di Pertamina, melalui Patra Niaga, memegang kepemilikan produk, sementara perusahaan pelayaran grup bertugas mengangkutnya. Perusahaan pelayaran itu kemudian menyewa pihak swasta untuk membawa produk tersebut.
“Dapatkah Anda bayangkan? Jadi perusahaan pelayaran tersebut mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri. Dan banyak dari kasus ini, ucapnya.
Sehingga, Danantara menggabungkan tiga perusahaan hilir Pertamina, yakni Patra Niaga, PIS, dan satu entitas internasional, kini digabung menjadi satu. Penghematan dari penggabungan itu disebut sudah terlihat dalam enam bulan.
Secara agregat, inefisiensi akibat transaksi berlapis ini diperkirakan mencapai US$2 miliar per tahun.
700 BUMN Ditutup Tahun Ini, Danantara Targetkan Laba Rp 334 Triliun

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melaporkan telah merampingkan atau menutup 364 perusahaan di bawah pengelolaannya. Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengatakan, angka itu ditargetkan melonjak menjadi 700 perusahaan pada akhir Desember 2026.
“Sudah mencapai 364 perusahaan yang yang sudah kita lakukan streamlining atau penutupan,” ujarnya di Istana Negara, dikutip Sabtu (24/10/2026).
Rosan yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi mengatakan, target tersebut menjadi bagian dari program streamlining yang dijalankan dalam rangka meningkatkan efisiensi, meningkatkan produktivitas, dan juga mengoptimalisasi aset saat ini.
“Dan angka ini akan terakselerasi sampai dengan bulan Desember, sehingga target kami untuk bisa melakukan streamlining, insyaallah mencapai 700 perusahaan itu bisa terwujud di akhir bulan Desember,” tuturnya.
Selain itu, dari sisi pertumbuhan profitabilitas perusahaan pelat merah juga meningkat cukup signifikan. Danantara menargetkan laba perusahaan BUMN tahun ini dapat mencapai Rp 334 triliun.
“Dari segi pertumbuhan profitabilitas juga meningkat cukup signifikan, Bapak, sehingga pada target di akhir tahun ini bisa mencapai Rp 334 triliun,” tutupnya. (Web Warouw)

