Kamis, 29 Oktober 2026

Sudah Saatnya Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Dikelola sebagai Satu Lanskap Peradaban Bersama Candi-Candi Lainnya

Idealnya wisatawan tidak hanya membeli tiket untuk mengunjungi sebuah candi, tetapi memilih pengalaman budaya yang dirancang dengan matang.

Dr. Fidelis Diponegoro, Dosen S3 Ketahanan Nasional UGM Yogyakarta

PADA tahun 1983, saat pemerintahan Soeharto dengan dukungan UNESCO selesai melakukan pemugaran, Borobudur menyita perhatian internasional maupun seluruh warga tanah air. Gen X dan generasi sebelumnya pernah merasakan kebanggaan bahwa Borobudur dikenal sebagai satu dari 7 keajaiban dunia. Sekarang tak pernah masuk nominasi.

Hingga saat ini Borobudur belum kembali pada popularitasnya. Adakah perbaikan-perbaikan strategis perlu dilakukan untuk mengembalikan marwah Borobudur, juga candi-candi lainnya?

Selama ini, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan kompleks Ratu Boko menjadi ikon utama pariwisata warisan budaya di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ketiganya memiliki daya tarik yang kuat, tetapi pengalaman wisata sering hanya berupa kunjungan biasa ke satu situs, swafoto, mendengarkan penjelasan singkat, lalu pindah ke destinasi berikutnya. Padahal, kawasan ini menyimpan kekayaan sejarah yang jauh lebih luas daripada tiga ikon tersebut.

Muncul pertanyaan mendasar : mungkinkah, pengelolaan ketiga destinasi utama itu diintegrasikan dengan candi-candi potensial lain dalam satu ekosistem pariwisata budaya yang lebih utuh? Gagasan ini bertujuan menaikkan kembali kharisma Borobudur sekaligus sepaket dengan candi-candi lainnya.

Gagasan integrasi ini tidak harus berarti seluruh candi dilebur ke dalam satu lembaga pengelola. Faktanya hingga sekarang ruang lingkup pengelolaan PT TWC masih jalan di tempat meliputi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko saja.

Integrasi dapat dimulai melalui penyatuan visi, kurasi narasi sejarah, pengembangan jalur kunjungan, peningkatan kualitas pemandu, promosi bersama, serta koordinasi pelestarian. Dengan pendekatan tersebut, Borobudur tidak hanya dipahami sebagai monumen Buddhis yang megah, Prambanan bukan sekadar mahakarya Hindu, dan Ratu Boko tidak berhenti sebagai kompleks reruntuhan istana kuno di atas bukit.

Ketiganya dapat ditempatkan dalam sebuah lanskap peradaban yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa kuno membangun pusat kekuasaan, mengembangkan tradisi, mengolah pengetahuan, dan membentuk masyarakat sosial.

Candi Plaosan: Ketika Perbedaan Menjadi Narasi Keindahan

Jika ada satu situs yang layak memperoleh perhatian lebih besar dalam integrasi tersebut, kita boleh pilih Plaosan. Mayoritas kita mengetahui bahwa bhinneka tunggal ika sudah dicatat dalam Sutasoma karya Mpu Tantular di era Majapahit. Namun sesungguhnya berabad-abad sebelumnya sudah ada, Plaosan buktinya.

Plaosan terdiri atas kelompok Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, dengan karakter arsitektur Buddhis yang memperlihatkan kekayaan seni dan kehidupan keagamaan Jawa abad IX. Ia dibangun atas inisiatif Pramodhawardhani yang Buddhis, istri dari Rakai Pikatan yang Hindu, sang pendiri Candi Prambanan.

Jadi nilai Plaosan tidak berhenti pada keindahan arsitektur dan reliefnya. Situs ini menyimpan narasi sejarah yang melukiskan hubungan antara Rakai Pikatan, penguasa dengan tradisi Sanjaya, dan Pramodawardhani, putri Samaratungga yang berasal dari lingkungan Wangsa Syailendra.

Perkawinan yang mempertemukan latar belakang yang berbeda. Dalam penafsiran populer, Plaosan bisa menjadi simbol cinta yang melampaui sekat perbedaan.

Di sinilah Plaosan mempunyai kekuatan naratif bagi wisata budaya. Jika Borobudur mengajak pengunjung memahami perjalanan spiritual menuju pencerahan, sedangkan Prambanan menampilkan kemegahan tradisi Hindu serta kisah-kisah dalam epos, Plaosan dapat menjadi ruang untuk membicarakan perjumpaan tradisi, legitimasi kekuasaan, hubungan keluarga kerajaan, dan kemungkinan hidup berdampingan di tengah perbedaan. Perbedaan tidak hanya ditoleransi, tetapi juga ikut mengukir peradaban.

Mewujudkan Integrasi Borobudur dan Candi-Candi Lainnya.

Integrasi destinasi candi-candi perlu mengubah cara wisatawan menikmati kawasan ini. Selama ini, kunjungan ke candi sering kali diperlakukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Padahal, keterhubungan geografis dan historis antarsitus memungkinkan terbentuknya perjalanan tematik.

Wisatawan dapat mengikuti jalur sejarah kerajaan Mataram Kuno, menelusuri perkembangan tradisi Hindu-Buddha, atau mendalami hubungan antara kekuasaan, agama, seni, dan kehidupan masyarakat.

Plaosan dapat diposisikan sebagai salah satu simpul utama dalam jalur tersebut, berdampingan dengan Sewu, Kalasan, Sari, dan situs-situs lain yang memiliki nilai sejarah maupun arkeologi.

Idealnya wisatawan tidak hanya membeli tiket untuk mengunjungi sebuah candi, tetapi memilih pengalaman budaya yang dirancang dengan matang. Ada jalur tradisi Hindu-Buddha, jalur Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, jalur seni relief dan kisah-kisah kebijakan, serta jalur lanskap kerajaan dan kehidupan masyarakat.

Setiap jalur harus dilengkapi pemandu terlatih, bahan bacaan populer, peta digital, dan narasi interpretasi yang disusun bersama arkeolog, sejarawan, budayawan.

Dengan demikian, pengunjung tidak sekadar melihat susunan batu candi, tetapi memperoleh pemahaman tentang manusia dan gagasan yang melahirkan bangunan tersebut.

Untuk mewujudkannya, diperlukan koordinasi lintas pengelola, penyusunan narasi sejarah bersama, pengembangan paket kunjungan terpadu, serta sistem promosi yang saling mendukung.

Peningkatan kualitas pemandu menjadi kunci agar wisatawan tidak hanya mendengar informasi tentang usia dan bentuk bangunan, tetapi juga memahami makna relief, konteks sejarah, dan nilai kebudayaan di baliknya.

Semua itu harus berjalan seiring dengan pelestarian cagar budaya dan penghormatan terhadap nilai sakral setiap situs.

Integrasi juga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa di sekitar candi. Desa-desa dapat mengembangkan kekhasan masing-masing melalui kuliner, kerajinan, seni pertunjukan, homestay, pusat pembelajaran, dan kegiatan budaya.

Dengan begitu, pengembangan kawasan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan, memperluas distribusi ekonomi, dan menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budayanya sendiri.

Tantangan integrasi ini terutama adalah mengubah kekayaan warisan arkeologi yang tersebar itu menjadi pengalaman kebudayaan yang utuh. Bukan sekadar menjual destinasi, melainkan menghadirkan kembali ingatan tentang peradaban Leluhur Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi masa kini. (*)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles