Tugas pengelola bukan hanya menjaga aspek arkeologisnya, melainkan juga memastikan knowledge dan wisdom yang terkandung di dalamnya dapat dipahami lintas generasi secara luas.
Oleh: Dr. Fidelis Diponegoro, Dosen dan Anggota Tim Badan Relawan Prabowo
SANGAT disayangkan jika Borobudur hanya menjadi destinasi wisata dengan keindahan dan kemegahan bangunan arkeologis. Candi Buddha terbesar di dunia ini merupakan monumen kuno yang menyimpan pengetahuan tentang sejarah, arkeologi, filsafat, moralitas, dan perjalanan spiritual manusia. Maka strategi menaikkan kelas pariwisata Borobudur tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas, meningkatkan jumlah kunjungan, atau menghadirkan berbagai acara berskala internasional.
Salah satu langkah strategis yang dapat dijalankan yaitu meningkatkan kualitas pramuwisata agar turut membangun narasi-narasi Borobudur ketika mendampingi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu skill utama. Pramuwisata Borobudur perlu memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai, juga menguasai bahasa lain sesuai dengan data profil demografis wisatawan. Akan tetapi kemampuan bahasa yang dimaksud tidak hanya lancar berkomunikasi. Tour guide juga harus mampu menjelaskan konsep-konsep sejarah, arkeologi, dan kisah-kisah relief secara komunikatif. Penguasaan bahasa harus dilengkapi penguasaan substansi.
Persoalan berikutnya adalah pemahaman sejarah dan arkeologi. Seorang pramuwisata idealnya tidak hanya mengetahui nama bagian candi, jumlah tingkat, atau bentuk stupa, tetapi juga memahami latar belakang pembangunan Borobudur, perkembangan hidup keagamaan saat itu, tradisi arsitektur dan keahlian silpin masa Mataram Kuno, serta proses penemuan kembali dan pemugaran candi. Pengetahuan tersebut harus sesuai sejarah dan dapat dipertanggungjawabkan, mulai dari kajian arkeologi, prasasti, penelitian para sarjana, hingga literatur yang relevan. Dengan bekal ini, pramuwisata dapat membedakan fakta sejarah, interpretasi ilmiah, tradisi lisan, dan cerita populer yang berkembang di masyarakat. Pembedaan tersebut penting agar pengalaman wisata tetap menarik tanpa ternodai informasi ‘katanya-katanya’.
Keahlian khusus baru yang tak kalah penting adalah kemampuan membaca dan menarasikan relief Borobudur. Relief bukan sekadar ornamen yang menghiasi dinding candi, melainkan media penuampaian kisah, ajaran moral, dan pandangan hidup. Kisah-kisah Jataka tentang moral kebajikan, relief Karmawibhangga tentang hukum sebab-akibat perbuatan, serta rangkaian narasi dalam perjalanan menuju pencerahan adalah bahan pembelajaran yang luar biasa. Seorang guide yang memahami kisah-kisah tersebut dapat menghubungkan gambar relief dengan persoalan manusia seperti keserakahan, kepedulian, pengorbanan, keadilan, dan tanggung jawab. Dengan demikian Borobudur pun tidak lagi hanya menjadi objek untuk difoto, tetapi ruang belajar tentang nilai-nilai universal yang relevan lintas agama, lintas kebudayaan dan lintas jaman.
Dalam diskusi dengan sastrawan spesialis Borobudur, Pak Bambang Eka Prasetya, teridentifikasi setidaknya ada 3 kendala utama tentang kualitas pramuwisata :
1. Orientasi hiburan, tuntutan pasar membuat guide lebih sering diposisikan sebagai penghibur daripada pendidik. Cerita populer yang mengundang tawa atau rasa penasaran terkadang lebih mudah diterima wisatawan dibandingkan narasi yang benar. Contohnya cerita “kunta bima” (merogoh celah stupa lebih menarik ketimbang cerita2 jataka. Padahal, cerita yang benar pun dapat disampaikan dengan menarik apabila pemandunya memiliki keterampilan bercerita yang baik.
2. Warisan keliru turun-temurun, yakni kebiasaan mewariskan pengetahuan hanya melalui tuturan dari satu generasi guide kepada generasi berikutnya. Tradisi lisan memang memiliki nilai penting dalam kebudayaan, tetapi tanpa kebiasaan memeriksa sumber, kekeliruan dapat terus berulang dan menyebar.
3. Keterbatasan waktu, kunjungan yang singkat membuat pramuwisata harus menjelaskan candi dalam waktu terbatas, sehingga narasi yang lebih sederhana sering dipilih daripada penjelasan yang membutuhkan konteks panjang.
Mereka yang semestinya menjadi penyampai pengetahuan dan nilai-nilai berisiko terjebak menjadi sekadar penjual cerita demi memenuhi selera pasar. Pemandu yang baik mampu menghibur tanpa mengarang, menyederhanakan tanpa mendangkalkan, serta menyampaikan keyakinan tanpa mencampuradukkan fakta dan tafsir. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara daya tarik cerita, ketepatan sumber, dan kedalaman makna.
Kendala-kendala itu menunjukkan bahwa peningkatan kualitas guide tidak bisa dibebankan hanya kepada individu. Diperlukan sistem pendidikan, dokumentasi, dan pengelolaan pengetahuan yang mendukung mereka untuk terus belajar. Untuk mewujudkan perubahan tersebut, pengelola Borobudur bersama lembaga pendidikan, arkeolog, sejarawan, ahli bahasa, komunitas Buddhis, sastrawan, dan praktisi kebudayaan perlu membangun program peningkatan kompetensi pramuwisata secara berkelanjutan. Program itu dapat mencakup pelatihan bahasa asing, kelas sejarah dan arkeologi, lokakarya membaca relief, serta pelatihan teknik bercerita berbasis sumber. Perlu pula disusun bank narasi Borobudur yang memuat kisah-kisah terpilih, rujukan ilmiah, nomor panel relief jika telah teridentifikasi, variasi penjelasan untuk durasi kunjungan yang berbeda, dan materi dalam beberapa bahasa. Evaluasi kompetensi sebaiknya tidak hanya mengukur kemampuan berbicara, tetapi juga ketepatan informasi, kecakapan menjawab pertanyaan, dan kemampuan menghubungkan warisan masa lalu dengan kehidupan masa kini. Pramuwisata yang telah mencapai standar kompetensi tertentu dapat memperoleh pengakuan profesional dan kesempatan pengembangan karier yang lebih baik.
Dampak upaya menaikkan kelas pramuwisata berarti juga menaikkan kelas pengalaman wisata Borobudur. Wisatawan pulang bukan hanya dengan foto berlatar stupa, melainkan dengan pemahaman baru tentang warisan arkeologis ini termasuk nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan melalui relief candi. Borobudur memiliki kekayaan narasi yang jauh melampaui fungsi seperti umumnya destinasi wisata.
Tugas pengelola bukan hanya menjaga aspek arkeologisnya, melainkan juga memastikan knowledge dan wisdom yang terkandung di dalamnya dapat dipahami lintas generasi secara luas. Dengan pramuwisata yang menguasai bahasa, sejarah, arkeologi, dan seni bertutur, Borobudur dapat hadir sebagai ruang pembelajaran peradaban yang menarik. Kita berharap pramuwisata makin berkualitas memandu pengunjung memahami warisan budaya.

