Minggu, 1 November 2026

GAK BERES2 NIH..! Bulog Ungkap Penyebab Pasokan Beras Premium di Ritel Modern Kian Menipis

JAKARTA – Perum Bulog mengungkapkan penyebab menipisnya pasokan beras premium di jaringan ritel modern. Kondisi itu disebabkan banyaknya penggilingan padi yang beralih memproduksi beras khusus atau beras fortifikasi.

Manajer Operasional Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog Kendal, M Aziz Latif mengatakan, peralihan itu terjadi setelah penertiban kualitas beras oleh Satgas Pangan pada akhir 2025.

“Suplai beras premium ke retail modern ini kan berkurang karena banyak yang beralih ke beras khusus,” ujarnya saat ditemui di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Kendal, Jawa Tengah, Jumat (30/10/2026).

Ia menuturkan, pada awalnya penertiban kualitas beras diharapkan dapat mendorong para pengusaha kembali memproduksi beras premium sesuai ketentuan. Namun, kondisi harga gabah pada 2026 yang masih tinggi, terutama untuk gabah berkualitas baik, membuat sebagian pengusaha tetap memilih memproduksi beras khusus.

Akibatnya, pasokan beras premium ke pasar, termasuk ritel modern, mengalami penurunan karena sebagian produsen beralih ke beras khusus yang harganya berada di atas harga eceran tertinggi (HET) beras premium.

“Banyak yang beralih ke fortifikasi, karena beralih ke fortifikasi ini mereka keluar dari zona HET, kalau beras premium kan HET-nya 14.900 per kg,” kata Aziz.

Ia mengakui perubahan produksi di sejumlah penggilingan menjadi salah satu tantangan dalam menjaga pasokan beras premium. Maka dari itu Bulog berupaya meningkatkan produksi beras premium melalui unit bisnis industrinya pada tahun ini.

Seperti pada SPP Kendal yang memiliki kapasitas produksi sekitar 30 ton beras per hari atau rata-rata 600 ton per bulan dengan operasional satu sif. Produksi tersebut dipasarkan antara lain melalui jaringan ritel modern.

Sejumlah produk beras Bulog yang dipasarkan di antaranya Punokawan, Setra Ramos, dan Slyp Super.

Azis mengatakan, produksi beras premium tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku gabah maupun beras hasil produksi penggilingan kecil di sekitar Kendal.

SPP Kendal saat ini menyerap beras dari sekitar 8-10 penggilingan kecil di wilayah sekitarnya. Pembelian dilakukan menggunakan skema purchase order (PO), bukan melalui kontrak kemitraan jangka panjang. Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku, terutama setelah musim panen berakhir atau ketika harga gabah meningkat.

“Kami menggunakan skema PO ke penggilingan kecil sekitar. Kami tidak bersifat kontrak. PO artinya bebas saja, fleksibel membeli bahan baku. Tidak ada keterikatan kontrak di situ. Ketika mereka ada surplus, kami serap,” kata Aziz. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles