YOGYAKARTA- Berita seorang siswa pandai, bunuh diri karena tidak diterima di sebuah SMA favorit di Kota Blitar, Jawa Timur merupakan kabar pilu dunia pendidikan. Sebuah essay protes terhadap dunia pendidikan ditulis oleh Muchammad Fachturochman, seorang jurnalis dan budayawan muda dari Yogyakarta
KABAR PILU. Membaca kabar pilu, ada anak belia yang berprestasi namun memilih mengakhiri hidup dengan mewariskan password akun medsos yang dimiliki. Ia berteman kertas dan pena serta berpesan detail kepada orang tuanya, juga meminta maaf kepada pemilik rumah atas apa yang dilakukan.
Sungguh, di tengah hingar bingar urusan orang dewasa, masalah konflik politik kekuasaan, kesibukan manusia modern dan ukuran sukses, ukuran keberhasilan dan sederet nilai pendidikan bagi anak-anak yang tengah bertumbuh kembang membawa beragam pertanyaan mendasar. Ada kanak-kanak juga remaja yang sendirian, membutuhkan perhatian.
Ada apa dengan pendidikan formal di sekolah menengah kita hari ini?
Ki Hadjar Dewantara, dengan model pendidikan pamong, among, memberikan dasar agar penyelenggaraan pendidikan juga membangun jiwa, memberikan pendidikan karakter. Membuat peserta didik menjadi anak yang cerdas dan pandai bukan urusan guru semata, di lingkungan sekolah, tapi juga peran masyarakat dan keluarga.
Saat “harta” juga teman karib remaja belia tak ada, tak ada yang menegurnya kala hendak memilih tragik, tragedi dan membawa keprihatinan juga rasa iba.
Ada yang salah, dalam proses pendidikan yang hanya mendewakan prestasi, nilai formal yang baik. Namun justru melewatkan kesempatan, agar bersama membangun hidup yang bermakna.
Gantung Diri
Sebelumnya, remaja 16 tahun berinisial EPA yang nekat bunuh diri dengan cara gantung diri di kamar kos merupakan lulusan SMPN 1 Kota Blitar tahun ini. Di kalangan guru, EPA tergolong murid yang pandai dan pendiam.
Hal itu diungkapkan Kepala SMPN 1 Kota Blitar, Kateman.
Kateman mengaku mendapat kabar soal peristiwa itu menjelang salat tarawih. Dia mendapat kabar melalui pesan WhatsApp soal peristiwa yang menimpa EPA.
“Saya baru buka pesannya sepulang dari masjid. HP saya tinggal di rumah,” kata Kateman.
Menurut Kateman, EPA merupakan siswi yang berprestasi di sekolah. Sikap EPA di sekolah juga baik.
EPA terkenal anak yang pendiam. Nilai ujian nasional EPA juga bagus. EPA menduduki peringkat ke 30 di sekolah dengan nilai ujian nasional 359,0. Nilai rata-rata ujian nasional EPA sekitar 89.
“Dia anaknya memang pandai. Kami ikut berduka dengan peristiwa yang menimpa EPA,” ujarnya.
Kateman juga kaget mendengar kabar soal peristiwa yang menimpa EPA. Sebab, selama ini, para guru melihat EPA tidak pernah ada masalah. Saat sidang pengumuman kelulusan, guru BK juga memberi laporan tidak ada masalah dengan para siswa.
Soal dugaan motif yang mendorong EPA nekat bunuh diri karena khawatir tidak diterima di salah satu SMA favorit di Kota Blitar, Kateman belum tahu detailnya. Tetapi, dia mengakui ada kabar itu yang beredar di grup WA.
“Ada kabar soal itu di grup WA siswa yang diterima guru. Saya juga dikirimi screenshot obrolan siswa di grup WA. Tapi kebenarannya saya belum tahu,” kata Kateman.
Sebelumnya, EPA (16) ditemukan tewas bunuh diri di kamar kos, Jalan A Yani, Kelurahan/Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Siswi yang baru lulus SMP tahun ini ditemukan tewas dengan cara menggantung di pintu kamar kos.
Insiden itu pertama kali dilihat Mariani, pengasuh EPA sejak kecil. Diketahui, orangtua EPA tinggal di Srengat, Blitar, sementara EPA tinggal bersama Mariani di kos setelah lulus SD.
Awalnya Mariani dipaksa EPA untuk membeli nasi meski Mariani sudah memintanya untuk menunggu.Mari ani pun cukup lama mencari warung yang buka, mengingat masih dalam bulan Ramadan. Setelah mendapat nasi, Mariani dibuat kaget sesampainya di kos. Dirinya seketika lemas melihat tubuh EPA tergantung di kosen pintu.
“Saya tidak melihat tanda-tanda aneh pada diri EPA saat berangkat membelikan nasi untuknya. Saya memang agak lama membeli nasi karena banyak warung yang tutup,” kata Mariani.
Tinggalkan Pesan
Kepada Bergelora.com dilaporkan, terdapat surat dengan tulisan tangan EPA di lokasi kejadian. Surat tersebut berisi permintaan EPA agar jenazahnya segera dibawa ke sebuah wisma persemayaman dan dikremasi serta dimakamkan dalam peti putih.
Mariani tak tahu motifnya, tapi belakangan EPA kecewa tak bisa masuk SMA negeri favorit di Blitar. Hal tersebut disebakan sistem zonasi yang diterapkan SMA tersebut, sehingga EPA, yang ikut alamat orangtuanya, tak menjadi prioritas.
Menurut teman EPA, korban memang dikenal selalu ingin menjadi yang terbaik dan dikelilingi anggota keluarga yang dikenal pintar. Dirinya juga sempat mengaku stres karena belakangan nilainya turun dan takut tak diterima di SMA favorit di Blitar.
Kateman, Kepala SMPN 1 Blitar, pun mengakui EPA memang berprestasi di sekolah, dan nilainya bagus. EPA menduduki peringkat ke 30 di sekolah dengan nilai ujian nasional 359,0. Nilai rata-rata ujian nasional EPA sekitar 89. Selain itu, dirinya juga terkenal pendiam.
Soal motif bunuh diri, Kateman sudah mengetahuinya dari tangkapan layar obrolan grup WA siswa yang diterima guru. Namun dirinya belum tahu kebenaran dari kabar tersebut.
“Ada kabar soal itu di grup WA siswa yang diterima guru. Saya juga dikirimi screen shot obrolan siswa di grup WA. Tapi kebenarannya saya belum tahu,” kata Kateman. (Hari Subagyo)

