KUDUS- Pagi di akhir musim kemarau. Angin dingin selalu datang setiap subuh bersama kabut. Waktuku membeku seperti arloji yang kehilangan batu. Tak seperti burung-burung kutilang di dahan itu. Kicaunya selalu datang sesaat setelah adzan berlalu.
Jam dinding menunjukkan pukul 05.02 wib. Tapi, mengapa matahari belum juga beranjak menyiram pucuk daun trembesi yang berembun itu? Kulihat kabut masih menyelimuti ladang gersang di hadapanku, lalu lambat merayap membekuk badanku bagai selimut salju. Pagi yang gelap. Waktu malam rupanya lebih lama dari siangnya. Sudah datangkah el-nino itu?
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya ibunya kepada Tom, sebut saja begitu, pemuda yang baru saja lulus dari kuliah S-1. Pertanyaan yang sederhana.
Tapi, pertanyaan sederhana itulah yang membuat hari-harinya serasa gelap. Selalu saja setelah pertanyaan itu dia merasa tak mampu melakukan apapun. Seluncur pertanyaan itu menjadi seperti todongan pistol berpeluru seribu. Menyalak dan terus memburu. Apa yang salah dengan pertanyaan sederhana itu?
Kita tak pernah tahu bahwa pertanyaan yang sederhana itu mudah beralih jadi olokan bagi anak tertentu. Seperti pemuda itu. Membandingkan dengan anak-anak muda yang sukses, justru akan jadi mesiu yang siap meledakkan kepalanya. Hari-harinya terus membeku. Seperti arlojiku. Tak ada ide, bahkan imajinasi yang menggerakkannya untuk mencoba tahu apa yang dia mampu? Terbenam oleh seribu daftar kelemahan di saku celananya, dan tak tahu ke mana harus melempar semua itu.
Pertanyaan itu tak pernah terjawab. Dua bulan lalu tersiar berita, kain selimut di kamar pemuda itu terpasang di rangka eternit, ujungnya melingar kuat di lehernya, dan menjulur lidahnya setelah itu. Pemuda itu memilih menggantung diri daripada menjawab pertanyaan sederhana ibunya. Betulkah ia mati oleh sebuah pertanyaan?
Orang-orang bertanya. Pertanyaan yang sangat wajar. Tapi, tidak bagi yang menyelipkan “mesiu” di balik pertanyaan yang sederhana untuk anak-anak muda kita. Peristiwa sudah terjadi. Sedih tak bisa ditolak. Tapi, cara bagaimana kita bertanya harus selalu menjadi pelajaran untuk semua. Jangan pernah menyelipkan “mesiu” di balik semua pertanyaan kita. Anak-anak butuh pertanyaan menggugah, bukan menggugat. Jika saja kita mampu mendengar, sesungguhnya mereka setiap hari ingin berteriak, ”Jangan paksa aku terus menyiram api yang kau nyalakan!”
Banyak yang sedih oleh meninggalnya. Di antara mereka adalah perempuan muda yang menjadi guru anak-anak kampung di sekolah kami. Dia tunangan pemuda itu. Dia memilih menjawab pertanyaan: “Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” daripada memilih hidup membeku.
Gitar di kamarku mengalun. Aku menyusun syair dan lagu atas peristiwa itu. Kuberi judul “Terikat Olehmu”. Tapi, tak berani kuperdengarkan untuk guru itu sampai hari ini. Biarlah menjadi untaian lirik dan nada pelajaran cukup buatku saja. (Hasan Aoni)

