YOGYAKARTA- Besek atau keranjang kecil adalah tempat mengemas panganan kecil baik itu nasi, kue, lauk-pauk, gudeg dan sebagainya. Kerajinan tangan ramah lingkungan yang terbuat dari anyaman bambu ini memiliki celah-celah kecil sebagai sirkulasi udara hingga makanan di dalamnya tidak lekas basi. Besek bisa menjadi alternatif pengganti plastik pembungkus yang tidak bisa didaur alam. Hampir semua desa di Jawa bisa memproduksi besek.
Besek yang adalah salah satu produk kerajinan tangan asli Yogyakarta ini memiliki nilai seni budaya tinggi, seharusnyalah kita melestarikan karena keberadaannya telah tersisih oleh kehadiran wadah/kemasan berbahan kertas dan plastik.
Pengrajin besek tersisa di Yogyakarta dan sekitarnya yakni di Dusun Brajan, Sleman. Kerajinan anyaman bambu tidak hanya besek tapi juga diproduksi dalam bentuk kipas, tempat tisu, tempat pensil, tudung saji, caping bambu dan sebagainya.
Terkait besek tadi Iskandar Harrdjodimuljo (akrab disapa Mas Is), seorang perupa dari Yogyakarta berinisiatif dan mempelopori lukis besek hingga menjadikannya media seni.

Mas Is memilih besek sebagai media dalam melukis karena prihatin dengan kondisi para pengrajinnya, besek juga semakin ditinggalkan masyarakat yang beralih ke perlengkapan dari kertas dan plastik yang itu tidak ramah lingkungan. Menurutnya akan sayang sekali kalau besek sampai ditinggalkan dan punah, padahal itu warisan nenek moyang kita sudah berrusia ratusan tahun. Bila punah maka itu mempengaruhi penghasilan para pengrajinnya dan tidak akan ada regenerasi.
“Saya terpanggil agar besek itu punya nilai tambah, akhirnya saya melukis dengan media tersebut, ternyata sambutannya luar biasa. Sudah ada sekitar seribu besek yang saya lukis, “ujarnya.
Menurut Mas Is kondisi para pengrajin besek sendiri saat ini antara hidup dan mati karena kalau mereka total fokus hidup mengandalkan itu jelas jauh dari cukup.
Pengrajin besek yang ada di Minggiran Yogyakarta senang sekali dengan inisiatif Mas Is dimana konsep besek sebagai karya lukis dan bisa dipajang di dinding tapi tetap tidak meninggalkan fungsi awalnya sebagai penutup makanan.
“Besek akan lebih terhormat bila dilukis dan dipajang hingga punya nilai seni yang unik, “ujar seniman yang kreratif mengolah limbah menjadi banyak karya seni ini.
Diakuinya bahwa nilai ekonomis dari inisiatif tersebut memang belum banyak karena baru dirintis satu tahun ini tapi Mas Is optimis akan prospeknya yang bagus, karenanya ia punya stok pegrajin besek di Yogya dan Jakarta, karena dengan mengambil besek dari mereka itu memotivasi, menjaga semangat para pengrajin untuk tetap berproduksi.
Terkait regenerasi pegrajin besek perlu ditanamkan kesadaran bahwa menjadi pengrajin besek atau pengrajin anyaman bambu itu menjanjikan secara ekonomi. Mas Is menegaskan itu harus menjadi perhatian pemerintah, selain itu juga menjadi tugas kita untuk memberi penyadaran ke masyarakat agar cinta lingkungan hidup dan budaya kita. Besek itu sangat ramah lingkungan sementara peralatan rumah tangga dari plastik sebaliknya, saat dibuang perlu 250 tahun untuk bisa terurai menjadi tanah atau kompos.
Selain tanggung jawab pemerintah, kita sebagai seniman, penggiat lingkungan hidup, penggiat budaya dan jurnalis juga harus terus mewartakan, mengkampanyekan produk-produk peralatan rumah tangga ramah lingkungan.
Profil Iskandar Hardjodimuljo
Kepada Bergelora.com dilaporkan, Mas Is dikenal sebagai perupa yang menggunakan barang bekas/limbah sebagai media berkesnian, mulai dari botol plastik air mineral, botol soda plastik, seng, kaca, kulit kacang, tisu, puntung rokok, tusuk gigi, triplek, sumpit, koran, kertas, serbuk gergaji yang kesemuanya itu ia olah menjadi lukisan, wayang dan pigura.
Oleh sebuah lembaga yang bergiat dalam isu sosial-budaya untuk wilayah Asia Tenggara ia pernah diundang ke Bangkok – Thailand untuk memberi workshop sekaligus pameran, pesertanya ada dari eropa dan asia. Diundang juga seniman-seniman dari Indonesia, Philipina, Malaysia, Burma, Kamboja dan Vietnam.
Selama satu bulan di Bangkok Mas Is memberi workshop kepada pelajar, mahasiswa, akademisi sekelas doktor, profesor, dan seniman lokal yang ingin belajar dan mengembangkan lukis kaca.
“Menurut saya itu menjadi ironi karena justru peminat lukis kaca di Indonesia minim sekali ya, mungkin disepelekan dan dianggap karya seni murahan, sementara di Thailand justru orang-orang barat itu mengagumi karya lukis kaca kita karena detailnya, karena uniknya sebab menyertakan akar tradisi kita dalam karya tersebut, “ungkapnya.
Pengalaman menarik Mas Is saat di Bangkok dimana ada kolektor seni rupa dari New York datang dan membeli lukisan kaca yang berjudul Prajurit Rampokan, si kolektor bilang: “Ini yang saya cari, karena kalau lukisan abstrak, lukisan realis atau kontemporer saya tak perlu jauh-jauh datang kesini karena di amerika banyak dan bagus-bagus.” Maka lukisan kaca tersebut langsung dibelinya tanpa menanyakan harga lagi.
Kini wayang-wayang dari limbah plastik botol dan limbah kertas-kardus dipamerkan secara tetap dan di jual di Bangkok Art and Culture Centre (BACC). Mas Is menambahkan bahwa akhir bulan Pebruari tahun ini lembaga tadi minta dibuatkan sebanyak-banyaknya wayang dari limbah yang itu menurutnya jadi sebuah kehormatan bagi seni tradisi kita.
Bangkok Art and Culture Centre (BACC) adalah sebuah gedung yang dibangun pemerintah Thailand yang khusus difungsikan untuk kegiatan seni dan pameran. BACC menjadi salah satu tujuan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Thailand. “Saya kira Indonesia juga harus bisa membangun seperti itu, atau Presiden terpilih nanti bisa mewujudkan sebuah gedung seperti BACC itu, disana dipamerkan karya-karya yang punya akar budaya kita terutama yang hampir punah, contohnya ya.. peralatan rumah tangga kita mulai dari besek, centong nasi, tampah yang itu semua bisa dilukis dengan detail yang bagus, “terangnya berharap.
Dalam setiap karyanya Mas Is mengambil tema pewayangan, alasannya karena ia sedari kecil sudah menyukainya wayang, selain itu wayang adalah budaya adi luhung dan mulai dilupakan, anak-anak jaman sekarang pasti tidak kenal tokoh-tokoh yang ada dalam dunia pewayangan, padahal budaya wayang itu ada hampir di seluruh nusantara.
Lebih lanjut Mas Is menjelaskan bahwa wayang kulit ada di Banjar Kalimantan, di Palembang, wayang Golek di Sunda, wayang Sasak di Lombok. Yang membedakan hanya bahasa tetapi inti ceritanya tetap Ramayana dan Mahabarata, kecuali yang di Lombok wayang kulitnya Babad Menak mengambil cerita dari negara Arab dan Mesir.
Di dalam wayang kulit kita mengenal cerita Panji dan Damar Wulan yang itu jarang dipentaskan. Di Jawa wayang golek Babad Menak itu ada di Kedu, Banyumas dan Yogya. Bali juga punya wayang Calonarang dan sebagainya.
Pada kesempatan ini Mas Is juga mempersilahkan bila ada komunitas, sekolahan, kampus atau perorangan yang ingin belajar atau mengajukan-mengadakan workshop, syaratnya hanya menyediakan besek dan cat saja.
Terkait workshop Mas Is pernah punya pengalaman memberi workshop wayang limbah kepada 500 anak-anak usia SD dari Korea. “Awalnya saya berpikir pasti akan kewalahan karena banyaknya peserta anak, akhirnya saya minta 10 orang wali murid yang masih cukup muda dan enerjik untuk terlibat, mereka saya training dan beri workshop duluan sebelum workshop ke 500 anak-anak tadi. Akhirnya para orang tua itulah yang sangat berperan, kenangnya.
Dampak dari workshop tersebut akan tertanam kecintaaan mereka kepada budaya wayang kita, itu bisa menular ke keluarganya yang lain. Untuk anak-anaknya sendiri jelas pasti seumur hidup mereka akan mengingat pernah ikut workshop wayang uwuh (sampah) karena unik dari botol plastik bekas.
Selesai workshop wayang karya yang sudah jadi akan selalu dibawa dan dimainkan dengan gaya dan bahasa mereka sendiri dalam imajinasi kanak-kanak.
Terakhir bila pembaca Berdikarionline.com tertarik belajar atau ingin mengajukan workshop bisa lewat akun media sosial facebook Iskandar Harrdjodimuljo. (Sukir Anggraeni)