Rabu, 29 April 2026

SEGERA…! Romo Benny: Inilah Tantangan Membumikan Pancasila dan Jalan Keluarnya

Romo Benny Susetyo, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP RI dalam Sosialiasi Pancasila. (Ist)

PATI- Pembumian Pancasila, atau pengarus-utamaan Pancasila, yakni upaya untuk menghadirkan nilai-nilai dan keutamaan Pancasila dalam praksis keseharian masih menjadi tantangan utama yang harus segera disikapi dan dijawab. Ini tidak hanya menjadi urgensi bagi BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia) tentu saja, tetapi juga bagi semua pihak terutama yang merasakan kegelisahan serupa untuk turut ambil bagian di dalam masyarakat yang begitu beragam. Hal ini ditegaskan oleh Romo Benny Susetyo, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP RI dalam Sosialiasi Pancasila yang bertemakan Menggali Mutiara Pancasila dan Semangat Gotong Royong  oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesiadi The Safin Hotel, Pati, beberapa waktu lalu.

“Untuk menjangkau keberadaan generasi muda milenial dengan karakteristik dan latar belakang sosio-historinya yang berbeda dengan generasi sebelumnya tentu  memerlukan strategi dan pendekatan yang berbeda pula. Bagi mereka, sangat mungkin solusi itu justru datang dari antara mereka sendiri,” ujarnya dalam acara yang diikuti 200 orang terdiri dari Nelayan, Petani, Aparatur Desa,  Pelajar, Mahasiswa, Guru dan Masyarakat Umum itu.

.

Pembumian Pancasila menrutnya merupakan upaya untuk menghadirkan nilai-nilai dan keutamaan Pancasila dalam praksis keseharian masih menjadi tantangan utama sampai saat ini yaitu pemahaman Pancasila sendiri.

“Tantangan yang dihadapi adalah penurunan intensitas pembelajaran Pancasila, kurangnya efektivitas dan daya tarik pembelajaran Pancasila, rendahnya tingkat kedalaman literasi masyarakat Indonesia secara umum dan pemahaman Pancasila belum sepenuhnya dikembangkan secara ilmiah baik melalui pendekatan intradisplin, multidisiplin, dan transdisiplin,” tegasnya.

Tantangan kedua adalah Eksklusivisme Sosial yaitu derasnya arus globalisasi sehingga mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas.

“Menguatnya gejala polarisasi dan  fragmentasi sosial yang berbasis SARA merupakan tantangan berat Diikuti dengan mengurangnya wawasan dan praktik-praktik pembelajaran multikulturalisme,” katanya.

Tantangan ketiga adalah Kesenjangan Sosial karena masih terjadinya sentralisasi pembangunan ekonomi pada wilayah-wilayah tertentu.

“Meluasnya kesenjangan sosial antar pelaku ekonomi dan kebijakan ekonomi yang mengedepankan sektor ekstraktif yang kurang mengembangkan nilai tambah serta tingginya tingkat korupsi dan ekonomi rente,” jelasnya.

Tantangan keempat yang dihadapi lemahnya institusionalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kelembagaan politik, ekonomi dan budaya.

“Hal ini diikuti dengan melemahnya wawasan ideologi Pancasila di kalangan penyelenggara Negara,” ujarnya.

Tantangan kelima adalah kurangnya Keteladanan Pancasila dari tokoh-tokoh pemerintahan dan masyarakat yang diperparah dengan semakin maraknya sikap dan perilaku destruktif.

“Lebih banyak saat ini mengedepankan hal-hal negatif di ruang publik serta kurangnya apresiasi dan insentif terhadap prestasi dan praktik-praktik baik,” katanya.

Delapan Siasat Kebudayaan

Untuk itu menurut Romo Benny Susetyo, dibutuhkan siasat kebudayaan yang merupakan sebuah rintisan pemikiran terkait upaya untuk membumikan ide-ide besar dalam praksis sehari-hari.

Menurutnya ada 8 pokok Siasat Kebudayaan yang mendesak harus bisa segera diimplementasikan, yaitu tindakan untuk membangkitkan kembali kebiasaan berpikir serius.  Mengubah konsep ekonomi dari urusan pasar dan jual beli uang ke urusan mata pencarian warga biasa. Melatih kebiasaan mau mengakui kesalahan dan berkata benar. Melatih kebiasaan berpolitik karena tanggung jawab dan komitmen pada kehidupan publik bukan pribadi. Melatih hasrat belanja karena perlu, bukan karena mau. Membangun kebiasaan baru seluas bangsa untuk menilai bahwa korupsi, plagiarisme, dan mencontek bukan hal lazim tapi kriminalitas. Untuk mengembalikan profesi sebagai janji publik, bukan sekedar keahlian. Yang kedelapan adalah melatih bertindak karena komitmen, bukan semata karena suka.

Romo Benny juga mengingatkan pentingnya lebih sering lagi mengadakan semua kegiatan Gotong Royong sudah menjadi budaya nusantara dengan istilah kegiatan yang beragam seperti,– Gugur Gunung di Yogyakarta, Sambatan di Jawa, Song-Osong Lombhung di Madura, Ngayah di Bali, Helem Foi Kenambai Umbai di Papua, Ammossi di Sulawesi Selatan, Mapalus di Minahasa, Paleo di Kalimantan Timur, Hoyak Tabuik di Sumatera Barat dan Siadapari di Sumatera Utara. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles