JAKARTA- Penyerangan dengan cara penikaman pada Menko Polhukam Wiranto menunjukkan sekali lagi bahwa, ideologi radikalisme yang menggunakan kekerasan sudah menjadi nyata bagi bangsa ini. Hal ini ditegaskan oleh Romo Benny Susetyo dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (11/10).
Saat ini menurutnya, ada gerakan yang masif dalam literasi media sosial dan pengguna media sosial untuk menggemakan nilai-nilai universal kemanusian yang mengajarkan agama yang utuh serta mendalam.
“Karena saat ini ada motivasi yang sempit kerapkali memanipulasi agama sebagai alat pembenaran kekerasan,” jelasnya.
Romo Benny menjelaskan, Mayer dalam buku Religion of Violance mengingatkan pemahaman agama yang tidak utuh bisa dipakai sebagai alat pembenaran dalam memperjuangkan kepentingan politik yang sempit.
“Kita disadarkan hasil riset Setara Institute, kurang lebih 10 tahun ideologi yang sempit ini menguasai ruang publik. Bila tidak hati-hati bisa mengancam eksistensi kehidupan kita sebagai bangsa,” ujarnya.
Romo Benny berharap kedepan semua elemen bangsa bisa bersatu untuk meng- counter hegemonic kerasan yang diproduksi dengan pemahaman agama yang sempit.
Untuk itu, publik harus aktif membangun gerakan kemajemukan dan komitmen akan agama yang bersendikan kultur nusantara.
“Penusukan pada Menko Polhukam Wiranto menjadi ‘warning’ bagi bangsa ini terhadap bahaya radikalisme yang sudah merasuki anak muda akibat dari idelogi utopis yang menjanjikan surga,” ujarnya.
Jaringan ISIS
Kepada Bergelora.com dilaporkan, sebelumnya Kepolisian menduga pelaku penyerangan terhadap Menko Polhukam Wiranto terpapar jaringan ISIS. Pelaku menyerang dengan menggunakan senjata tajam.
“Pelaku diduga terpapar paham radikal ISIS. Tersangka tidak alami luka,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/10).
Kedua penyerang itu bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara, lahir di Medan, 24 Agustus 1988, dengan alamat Jalan Syahrial VI No 104 LK, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatra Utara.
Fitri Andriana Binti Sunarto, Lahir di Brebes 5 Mei 1998, beragama Islam, beralamat di Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Saat ini yang bersangkutan tinggal dengan mengontrak di Kampung Sawah, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.
Dedi menuturkan usai menyerang Menko Polhukam, Wiranto, pelaku juga menyerang Kapolsek Menes Kompol Daryanto.
Menko Polhukam, Wiranto diserang saat hendak mengunjungi peresmian gedung baru Mathla’ul Anwar, Pandeglang, Banten, pukul 11.55 WIB. Wiranto mengalami luka dan dibawa ke RSUD Pandeglang. Wiranto disebut mengalami luka tusuk di bagian perut. (Web Warouw)

