Saat ini sudah sangat mendesak, untuk kembali membongkar sejarah berdirinya Republik Indonesia. Agar generasi mendatang memiliki pegangan historis agar tidak mudah terpengaruh dan bisa menghadapi berbagai manipulasi sejarah yang ingin menggantikan fondasi bernegara dan berbangsa dalam bingkai NKRI. Hendra Budiman, aktivis 80’an dari Yogyakarta menuliskannya sejarah Bhinneka Tunggal Ika dalam akun facebooknya yang penting kembali diingat pembaca Bergelora.com (Redaksi)
Oleh: Hendra Budiman
MOTTO atau semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dalam sehelai pita yang dicengkram sang Garuda pertama kali resmi digunakan dalam sidang kabinet Republik Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950. Namun wacana Bhinneka Tunggal Ika mulai menjadi bahan diskusi terbatas antara Muhammad Yamin, I Gusti Bagus Sugriwa, dan Bung Karno di sela-sela sidang BPUPKI sekitar pertengahan bulan Juni 1945 atau disela-sela rapat Panitia Sembilan. Seperti diketahui Muh. Yamin dan Bung Karno adalah bagian dari Panitia Sembilan. Bung Karno yang memiliki visi yang sama dengan Muh. Yamin tentang “penyatuan Indonesia”, secara tidak langsung Bung Karno banyak belajar dari Muh. Yamin perihal sejarah peradaban Nusantara di masa lalu terutama menyangkut kejayaan Majapahit dan Sriwijaya. Maka tak heran jika Bung Karno menyatakan bahwa kata “Pancasila” diusulkan (dibisikan) oleh Muh. Yamin.
I Gusti Bagus Sugriwa adalah teman Muh. Yamin dan Bung Karno dari Buleleng, Bali. Untuk diketahui dari 70 anggota BPUPKI tidak ada satupun yang berasal dari Bali. Perwakilan Bali baru ada dalam keanggotaan PPPKI yakni Mr. I Gusti Ketut Puja sebagai Giyozei Komon (Sunda Minseibu – Gubernur Sunda Kecil).
Saat bincang-bincang Muh. Yamin mengatakan “Bhinneka Tunggal Ika”. Spontan I Gusti Bagus Sugriwa yang duduk disampingnya, tiba-tiba menyambung dengan kalimat “Tan Hana Dharma Mangrwa”. Sambungan spontan ini di samping menyenangkan Muh. Yamin, sekaligus menunjukkan bahwa di Bali ungkapan Bhinneka Tunggal Ika itu masih hidup dan dipelajari orang.
“Bhinneka Tunggal Ika” adalah sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma yang merupakan karangan Mpu Tantular yang dituliskan menggunakan bahasa Jawa kuno dengan aksara Bali pada abad ke-14 (sekitar tahun 1365 dan 1389). Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5 yang (potongannya) berbunyi “Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.( Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua.) Amanat ni mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agam Hindu Siwa dan Budha. Pada masa itu (Zaman kerajaan Majapahit dibawah kekuasaan prabu Rajasanagara atau Hayam Wuruk), agama yang dianut adalah Buddha. Kakawin Sutasoma bisa dikatakan unik dalam sejarah sastra Jawa karena bisa dikatakan merupakan satu-satunya kakawin bersifat epis yang bernapaskan agama Buddha. Tantular adalah seorang penganut agama Buddha, tetapi Tantural terbuka terhadap agama lainnya, terutama agama Hindu Siwa.
Meksipun Kitab Sutasoma ditulis oleh seorang sastrawan Buddha (Mpu Tantular), pengaruhnya cukup besar di lingkungan masyarakat intelektual Hindu Bali. Sebagaimana I Gusti Bagus Sugriwa dapat dengan spontan menyambung kalimat “Tan Hana Dharma Mangrwa”. Bila dianggap frasa “Bhinneka Tunggal Ika” adalah produk dari sastrawan bernafas ajaran Budha, tetapi dapat diterima di lingkungan masyarakat yang beragama Hindu (Bali). Dan uniknya justru frasa ini “digali” dan direvitalisasi oleh Muhammad Yamin, urang awak beragama Islam.
Tetapi sebelum menjadi bahas “diskusi” terbatas dilingkungan Panitia Sembilan pada tahun 1945, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” telah diselidiki oleh Prof. Kerf pada tahun 1888. Dimana pada awalnya Kakawin Sutasoma disimpan di perpustakaan Leiden, Belanda. Muh. Yamin yang gandrung akan sastra kuno (termasuk Jawa) mempelajarinya. Dengan dituntun oleh seorang guru bernama Raden Tumenggung Yasawidagda (pengarang sastra Jawa yang sangat produktif di zaman penerbit Balai Pustaka), Muh. Yamin belajar tentang adat, tata cara dan bahasa Jawa (termasuk bahasa sanksekerta) pada sekitar tahun 1925 di Solo.
Muatan yang terdapat dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebelumnya telah diewajantahkan oleh Muh. Yamin melalui teks Sumpah Pemuda tahun 1928. Yamin justru mengajukan gagasan penggunaan “bahasa Melayu” sebagai dasar dari Bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Yamin tidak mengajukan penggunaan bahasa Jawa, yang dalam interaksinya menunjukan struktur bahasa yang bertingkat sesuai kasta. Meskipun guru, lingkungan dan istrinya Raden Ajeng Sundari Mertoatmodjo adalah orang Jawa. Dan Yamin sempat menulis pidatonya berjudul “De maleische taal in het verleden, heden en toekomst” (Bahasa Melayu di masa lampau, sekarang dan masa datang).
Tak terbatas pada semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dan kata “Pancasila”, penentuan lambang burung Garuda juga ada peran Muh. Yamin di dalamnya. Bersama Sultan Hamid II dan Ki Hajar Dewantara, mereka menelusuri situs-situs purbakala dan mempelajari kesusastraan kuno dibeberapa wilayah di Indonesia. Akhirnya mereka menemukan sosok burung Garuda di Candi Kidal, Candi Prambanan, dan Candi Mendut.
Memahami asal usul suatu semboyan atau motto seperti “Bhinneka Tunggal Ika” akan diketahui hakekat dari kemunculan itu. Meskipun pada sumber aslinya semboyan ini bernafas agama Budha, tetapi hakekatnya pada sikap dan toleran dari suku bangsa di Indonesia sejak zaman kejayaan Majapahit dahulu. Yang telah mengenal beragam agama, berlapis-lapis kepercayaan dan tradisi serta penyebaran kerajaan-kerajaan kecil. Kejayaan Nusantara yang ditunjukan dalam imperium Majapahit – yang menekankan sikap toleran dan menghormati keberagamaan – ingin direvitalisasi oleh Yamin dan Bung Karno melalui satu bangsa yang bernama Indonesia.