Selasa, 28 April 2026

In Memoriam Kawan Agus Lenon, Sang ‘Haji Misbach’

Agus ‘Lenon’ Edi Santoso. (Ist)

Agus Lenon, perintis dan pelopor gerakan 80-an lebih tepat disebut mirip Haji Misbach, pendiri Serikat Islam (SI) di jaman pergerakan melawan penjahan Belanda. Seperti Misbach,– Lenon berhasil menyatukan semangat revolusioner Islam dan Komunisme yang ikut mendorong perlawanan terhadap kediktaktoran Soeharto. Bonnie Setiawan, salah satu kawan dekatnya mengenangnya dan menulis buat pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Bonnie Setiawan

SUDAH lama berencana ingin menengok teman lama satu ini, tetapi selalu saja ada alasan sehingga tidak jadi. Meski kadang masih berjumpa di sapaan telpon. Sampai datang berita di WA tentang kepergiannya.  Duh Gus, koq tiba-tiba pergi. Belum sempat bertemu kawan lama. Sungguh sedih mendengarnya.

Terlintas kembali perkenalan pertama dengannya. Waktu itu aku masih mahasiswa yang aktif di Senat Mahasiswa FISIP-UI. Sementara Agus baru saja datang dari Yogya karena menjadi pengurus di PB HMI. Kami bertemu di sebuah diskusi dan dia memperkenalkan dirinya dari Agitprop CC PKUS (Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet-red), hahaha. Maksudnya dia bercanda mewakili Partai Komunis Uni Sovyet. Memang kesannya dia ini rada nyentrik, penuh canda dan perkataan menggelitik. Dan buat yang tidak mengenalnya, dia ini rada provokatif. Agus berpindah studi dari IAIN Sunan Kalijaga di Yogya ke STF Driyarkara di Jakarta. Di Jakarta inilah kami jadi banyak bertemu.

Kami juga menjadi dekat, karena sama-sama aktif di Kelompok Studi. Saat itu era Kelompok Studi, setelah matinya kehidupan kampus karena dilarangnya Dewan Mahasiswa di tahun 1982. Aku aktif di Yayasan Studi Masyarakat (YSM), kelompok studi mahasiswa UI yang kebanyakan dari FISIP dan Sastra. Disini ada Vedy hadiz, Danial Indrakusuma, Suwarsono, Edy Cahyono dan lain-lainnya.

Agus aktif di Kelompok Studi Proklamasi (KSP). Tempatnya diskusi di rumah pak Johan Effendi di jalan Proklamasi. Saya beberapa kali pernah datang kesana. Dalam kelompok studi kami diskusikan banyak hal, terutama sekali soal-soal politik yang terlarang di jaman Orba. Hanya di kelompok studi-lah berbagai agenda diskusi bisa dibicarakan dengan bebas. Terutama juga soal-soal ideologi, baik kanan maupun kiri. Baik ideologinya Ali Syariati dan Moammar Khadafi, yang banyak sekali dibicarakan Agus sampai ideologinya Sandinista di Nicaragua dan Joma Sison di Filipina. Dengan begitu Agus dan saya memang lebih condong ke kiri. Kiri tentu lebih memikat anak-anak muda, terutama dalam melawan rejim Suharto yang kanan habis.

Terutama karena di masa itu Tapol (tahanan politik) 65 sudah dibebaskan pemerintah, terakhir di tahun 1979, maka kami dengan sembunyi-sembunyi mendatangi mereka. Khususnya yang sangat dekat dengan kami adalah Pramoedya Ananta Tur, sastrawan LEKRA yang tenar dan Joebaar Ayoeb, mantan Sekjen LEKRA. Keduanya kebetulan tinggal di sekitaran kampus UI di Rawamangun.

Sejak itu Agus rajin mendatangi mereka dan mendapat naskah-naskah tulisan Pram yang paling awal. Dia selalu memamerkan padaku naskah-naskah itu. Lalu semua tulisan Pram beredar di kami dalam bentuk fotokopian. Yang sempat kulihat ada di tangan Agus seperti ‘Bumi Manusia’, ‘Gadis Pantai’, ‘Arok Dedes’, ‘Panggil Aku Kartini Saja’, dan ‘Arus Balik’. Hebatnya tentu adalah ketika buku Pram terbit dan menjadi heboh besar, “Bumi Manusia”, kami sudah lama membaca naskah itu sebelumnya.

Agus seorang yang cekatan dan terampil dalam menerbitkan buku. Cepat sekali sebuah naskah bisa segera menjadi sebuah buku terbitan. Ketika kelompok kami (YSM) hendak menterjemahkan buku Anthony Brewer, ‘A Guide to Marx’s Capital’, kami meminta Joebaar Ayoeb untuk menterjemahkannya, sekalian membantu ekonomi dia. Dan setelah jadi naskah, aku berikan ke Agus untuk dicetaknya lewat Teplok Press.

Agus seorang yang piawai dalam penerbitan. Di tempat kos-nya, sudah banyak naskah-naskah yang ingin dia cetak. Dia tunjukkan naskah ‘Madilog’ dan ‘Dari Penjara Ke Penjara’ buah tangan Tan Malaka, dan tidak lama berselang naskah itu sudah jadi buku. Busyet, cepat sekali dia kerjanya. Nampak sekali Agus ini hanya hidup dari buku satu ke buku lain, dalam artian berkejaran menerbitkannya. Dan buku-bukunya tentu saja kebanyakan buku-buku Kiri.

Dia juga terbitkan dua karya Joebaar Ayub, ‘Mocopat Kebudayaan Indonesia’ dan ‘Gerhana Seni Rupa Modern Indonesia’. Inilah buku-buku kiri yang terbit di jaman Suharto, yang meski selalu dilarang, tetap saja dengan berani dan lincah Agus terbitkan. Agus kagum sekali dengan Joebaar, seorang tokoh kawakan LEKRA yang cerdas dan bersahaja. Analisisnya selalu tajam dan luas.

Kami semakin dekat dengan Agus ketika dia kami ajak masuk dalam gerakan terorganisir anti Suharto. Karena di sekitaran kami ada beberapa nama Agus, maka dia kami namakan Agus Lenon, karena kacamatanya yang bulat seperti kacamata John Lennon dari The Beatles. Lagipula nama Lenon dia suka karena mirip nama Lenin. Jadilah namanya menjadi Agus Lenon yang melegenda dan sejak itu dia membangun pengorganisasian dimana-mana.

Kami sering bersama-sama di berbagai perjalanan, aksi dan pertemuan. Karena dia berasal dari Yogya, maka dia yang banyak menggarap Yogya dan sekitarnya. Salah satu basis dia yang kemudian menjadi sangat terorganisir adalah kawan-kawan di UII (Universitas Islam Indonesia), yang kemudian menjadi kelompok Rode yang juga legendaris. Di Rode-lah direkrut dan dididik banyak kawan-kawan mahasiswa baru, bukan hanya dari UII tetapi juga dari kampus-kampus lain seperti UGM dan ISI.

Jadi memang kami adalah generasi awal dari gerakan mahasiswa Kiri yang telah terorganir saat itu, jauh sebelum ada PRD (Partai Rakyat Demokratik). Kami mengorganisir dan mengaitkan gerakan mahasiswa dengan isu-isu kerakyatan dan kasus-kasus pertanahan atau perburuhan. Karena kampus sudah mati, maka kami keluar dari kampus, mengorganisir diri dan langsung terjun mengorganisir rakyat, khususnya yang terkena kasus-kasus, seperti Badega, Cimacan, Kedung Ombo, Blangguan dan lain-lainnya serta kasus-kasus perburuhan.

Organisasi ini pecah, ketika beberapa orang memisahkan diri karena lebih condong pada aksi-aksi jalanan, dan kemudian mendirikan PRD. Saya dan Agus tetap bersama. Kami mengambil cara yang berbeda dengan PRD dan terus bergerak tanpa banyak diketahui. Pengorganisasian dan perpolitikan tetap jalan terus sampai jatuhnya Suharto.

Di saat inilah, Agus kemudian kenal dengan Taty Krisnawati, waktu itu aktif di Solidaritas Perempuan. Taty satu organisasi dengan istriku. Ketika dalam perjalanan di kereta api, Agus agak gundah memilih Taty. Maka aku dorong dia supaya melamarnya saja, sehingga dia akhirnya bersemangat untuk menikahinya.

Ini lompatan besar buatnya yang hidupnya nomaden. Dengan gayanya yang lucu, dia berteriak, aku mau nikah, aku mau nikah, sambil tertawa terbahak-bahak. Meski akhirnya perkawinan mereka tidak berjalan lama, hubungan di antara mereka berdua tetap baik. Agus kemudian menikah lagi dua kali,– yang terakhir membuahkan empat anak, dua diantaranya kembar, yang fotonya sering ditunjukkannya padaku.

Masa setelah Reformasi kami sudah tidak banyak bertemu. Agus Lenon tetap seorang revolusioner kiri yang jalan kesana kemari dengan bersemangat untuk mengagitasi teman-temannya dan siapa saja yang dijumpainya.  Memang dia tepat disebut sebagai Kiri-Islam, karena biar bagaimanapun dia tetap berakar pada ke-Islamannya. Idolanya yang sering dia sebut adalah Haji Misbach, tokoh Sarikat Rakyat yang juga pendiri PKI di Solo.

Di dalam jiwa Agus Lenon dipertemukan semangat revolusioner dari Islam dan Komunis. Agus adalah contoh baik dari transformasi anak muda jaman Orba yang mampu menyinergikan islamisme dan Komunisme, mirip seperti Bung Karno dengan NASAKOM-nya. Kubayangkan Agus itu mirip Haji Misbach, agitator ulung bagi massa rakyat yang punya kharisma dan kepribadian yang menonjol. Sayangnya saat ini ‘Islam’ yang dekat dengan Agus jauh sekali dengan pengertian revolusioner, malahan menjadi rasis dan sektarian. Saya kira kita semua sedang mengalami pembelahan dari perbedaan politik antara yang pro-Jokowi dengan yang anti kepadanya, dan dia ada di kubu itu.

Agus Lenon kiranya sudah menjalankan perannya yang bersejarah dalam sebuah perjuangan kaum kiri. Kini pergilah dengan damai menemui guru-guru besarmu Joebaar dan Pram. Selamat jalan Kawan.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles