Selasa, 28 April 2026

In Memoriam: Mengenang Kawan Radjimo S. Wijono

Radjimo berdiri disamping Raharjo Waluyo Jati saat pertemuan Keluarga Besar Rakyat Demokratik (KBRD) di Yogyakarta, 2018. (Ist)

Radjimo S. Wijono tiba-tiba pergi. Mantan kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang bertugas mengorganisir mahasiwa dalam organisasi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) ditahun 1990-an wafat Jumat (17/1) di Serang, Banten meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Petrus H. Harijanto, mantan Sekjend PRD menulis kenangannya bersama kawan Radjimo dalam perjuangan melawan Soeharto,–untuk pembaca Bergelora. (Redaksi)

Oleh: Petrus H. Harijanto

“Kenapa tanganmu luka Mok?”

“Terserempet truk saat mau jemput kamu di Tambak Aji’” jawab Momok.

Dialog aku dengan Momok ini terjadi sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 30 Maret 1995, sehari sebelum aksi SMID dan PPBI memperingati hari buruh sedunia di Semarang.

Saat itu aku berjumpa di rumahnya. Ia memang ditugaskan panitia aksi menjemput aku di Tambak Aji, agar kedatanganku di Semarang tidak diketahui aparat.

Momok adalah mahasiswa Sastra Jurusan Sejarah Undip Angkatan ‘93. Ia menjadi anggota SMID cabang Semarang. Aktif melawan Soeharto melalui berbagai aksi demonstrasi.

Tugas menjemput aku  itu ia jalankan dengan mengendarai motor milik Fransiska Ria Susanti. Sayangnya, terjadi kecelakaan, motor yang dia naiki  diserempet truk.

“Apa kamu  tidak dimarahi orang tuamu? Rumahmu jadi markas panitia aksi?” tanyaku.

Momok menjawab sambil tersenyum. “Aman bung,” ucapnya singkat.

Jaman itu menjadi demonstran harus menutup diri dari orang tua. Tak ada orang tua yang setuju anaknya menentang pemerintah.

Yang ini lebih dasyat lagi, rumahnya dijadikan markas koordinasi untuk mempersiapkan aksi yang terbilang berbahaya. Semua persiapan dilakukan secara kladestin.

Saat aku datang di sana sudah ada kawan2 SMID dari Surabaya (Sardiyoko), Semarang (Rivani, Pranowo, Aan, Iwan, Iin, Santi, Yanti, Yogyo, Kirman) Yogyakarta (Nezar Patria,Afandi), Solo, Jakarta (Ardi, Garda, Kumis).

Aksi buruh dengan mahasiswa dengan momen peringatan May Day adalah sesuatu yang tabu dijaman Soeharto berkuasa. Dan ini adalah aksi May Day pertama dijaman itu. Resikonya akan digebuk dan dituduh komunis.

Benar saja, saat aksi reli dari Kampus Sastra Undip menuju DPRD Jateng digebuk di daerah air mancur. Barisan buruh dan mahasiswa itu ditabrak motor trail dan dipukuli dengan tongkat oleh aparat. Korban luka berjatuhan dan belasan ditangkap termasuk diriku.

Beberapa hari berikutnya, Momok menceritakan ke aku kalau aparat memburu dia.

“Ketua RT ku meminta aku agar tidak pulang ke rumah karena banyak aparat memburuku. Mereka mengetahui rumahku menjadi markas aksi itu,” ungkapnya.

Lama tak bertatap muka dengannya, tetapi komunikasi tetap lancar melalui facebook.

Akhir tahun 2017 menuju pergantian tahun 2018, aku berjumpa dengan denganmu sekeluarga. Kami piknik bareng bersama KBRD (Keluarga Besar Rakyat Demokratik) ke Yogyakarta. Senang bisa berjumpa dengan kamu dan keluargamu (anak dan istri). Bahkan anak mu yang cowok lengket dengan Krisna anak ku.

Ternyata itu perjumpaan denganmu yang terakhir kalinya. Pagi ini kawan2 memberi kabar kepergianmu. Aku tak percaya kau mendapat serangan jantung. Di facebook mu kau sering memposting membina olahraga sepak bola untuk anak2. Tampak dirimu berlatih di lapangan sepakbola bersama anak2. Kau sangat mencintai aktifitasmu ini di Kota Serang, Banten.

Oh ya…aku ucapkan terima kasih. Dua minggu lalu saat ketemu Nurul, Garda memberitahu bahwa kau bersedia membantu proses aku menulis buku sejarah gerakan.

Selamat jalan kawan. Kamu orang baik, damailah di alam sana. Kalau ketemu Iwan Yahya dan Iin salam untuknya.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles