Kamis, 18 Juni 2026

Jakarta Masih Kota Termacet di Dunia

Ibu Kota Jakarta macet setiap hari. (Ist)

Berbagai pencitraan dilakukan oleh Gubernur Anies Baswedan dalam upaya menutup berbagai salah kelola Ibu Kota Jakarta. Sayangnya masyarakat Jakarta dan Indonesia pada umumnya tidak mudah lagi ditipu oleh berbagai trik dan kebohongannya yang langsung dirasakan langsung oleh warga Jakarta. Azas Tigor Nainggolan, Analis Kebijakan Transportasi dan Ketua Forum Warga Kita Jakarta (FAKTA) menuliskannya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Azas Tigor Nainggolan

KOTA Jakarta dikabarkan mendapat penghargaan transport pada awal tahun 2020 dari penghargaan Sustainable Transport Award 2020 (STA).  Penghargaan dan  penganugerahan STA 2020 diselenggarakan di Walter E. Washington Convention Center, Washington DC, Selasa, 14 Januari 2020 dalam. Panitia penghargaan dari  Sustainable Award (STA)  menganugerahi Jakarta sebagai “honorable mention” di ajang Sustainable Transport Award 2020. Penghargaan ini diberikan atas usaha Jakarta dalam mengembangkan sistem BRT/Transjakarta, serta keberhasilan dalam menaikkan jumlah penumpang hingga 200% dalam waktu kurang dari 3 tahun.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa penghargaan STA itu  adalah penanda bahwa ada perubahan positif di Jakarta, khususnya di bidang transportasi. Anies mengkalim bahwa  penghargaan internasional ini bagian dari  penghargaan atas meningkatnya pengguna TransJakarta atas perbaikan yang dilakukannya selama menjadi gubernur Jakarta.

Ibukota Jakarta banjir 2020. (Ist)

Pertanyaannya sekarang adalah apakah benar memang sudah terjadi perubahan besar, warga Jakarta sudah berpindah menggunakan angkutan umum dan tidak lagi menggunakan kendaraan pribadinya? Jika memang sudah seperti itu penilaiannya maka Jakarta sudah tidak macet lagi. Berarti juga warga Jakarta sudah nyaman mengakses layanan angkutannya umum di jakarta sudah tidak lagi mudah memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Kemacetan lalu lintas bukan hanya milik kota Jakarta.  Hingga saat ini kemacetan masih terus meningkat secara global selama satu dekade terakhir.  Hasil survey yang dilakukan sebuah perusahaan navigasi internasional TomTom menyatakan  Kota Bengaluru di India menjadi kota termacet di dunia berdasarkan Indeks Lalu Lintas TomTom tahun 2019. TomTom, perusahaan teknologi navigasi asal Belanda, merilis  indeks kemacetan itu untuk menyoroti tingkat kemacetan pada 416 kota di 57 negara.

TomTom Traffic Index adalah lembaga pengukur tingkat kemacetan kota-kota di dunia. Lembaga ini mengukur tingkat kemacetan menggunakan data Global Positioning System (GPS) anonim yang dikumpulkan melalui perangkat navigasi sistem dasbor dan smartphone. Seperti dikutip beberapa media massa dari www.wired.com , terdapat data bahwa  kemacetan lalu lintas terus meningkat secara global selama satu dekade terakhir dan sebanyak 239 kota atau 57 persen kota yang disurvei dalam indeks  menunjukkan peningkatan tingkat kemacetan antara 2018 dan 2019. Menurut hasil TomTom juga dikatakan bahwa hanya 63 kota yang menunjukkan penurunan kemacetannya  yang terukur. 

Penggundulan wilayah hijau di Monumen Nasional oleh Gubernur Anies Baswedan untuk pertandingan Formula E. (Ist)

Adapun TomTom mengambil data survei tersebut dari lebih dari 600 juta pengemudi yang menggunakan teknologi TomTom di perangkat navigasi, sistem in-dash, dan smartphone di seluruh dunia.

Menurut survey  TomTom, dikatakan bahwa  Bengaluru, India, menjadi kota yang memiliki tingkat kemacetan tertinggi di dunia dan pengendara di sana dapat menghabiskan rata-rata waktu perjalanan ekstra 71 persen karena terjebak dalam lalu lintas. Jakarta sendiri menurut indeks hasil survey TomTom tersebut, Jakarta berada di peringkat ke-10 termacet di dunia dengan tingkat kemacetan sebesar 53%.  Tingkat kemacetan sebesar 53% tersebut tidak mengalami perubahan sejak 2018.

Gambaran masih macetnya Jakarta terutama pada saat jam sibuk pagi hari. Pada perjalanan pagi hari yang seharusnya memakan waktu tempuh 30 menit dalam kondisi normal menjadi 49 menit atau 19 menit lebih lama.  Sedangkan, saat jam sibuk malam hari, waktu tempuh perjalanan 30 menit menjadi 56 menit. Beberapa hari lalu juga pada hari Rabu 29 Januari 2020 sore hari, saya memerlukan waktu sekitar satu  setengah jam (90 menit) untuk perjalanan dari jalan Cikini Jakarta Pusat  ke jalan Matraman Raya Jakarta Timur. Kemacetan di Jakarta pada pagi dan sore hari merata di beberapa ruas jalan yang memiliki jalur layanan KRL, Transjakarta dan pengendalian Ganjil Genap. Kondisi masih macetnya Jakarta ini menunjukan ada yang masih diperlukan untuk mengurai kemacetannya.

Seperti kita ketahui bahwa kemacetan di Jakarta disebabkan oleh tingginya penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Masih tingginya penggunaan kendaraan pribadi ini disebabkan masih kurang aksesnya layanan angkutan umum massal yang ada di Jakarta. Ya memang faktanya Jakarta sampai hati ini masih macet dan terus bertambah parah kemacetannya serta terus menjadi kota termacet di dunia. Jika demikian ada yang salah dalam pembuatan  kebijakan layanan angkutan umum massal yang ada di Jakarta.

Jakarta sudah memiliki layanan MRT, KRL, Transjakarta, sudah dibuatkan cat lajur sepeda  dan sekarang ada Jaklingko. Ditambah lagi saat ini sedang dijalankan sistem pengendalian penggunaan kendaraan mobil pribadi dengan Ganjil Genap. Tetapi sampai saat ini pemprov Jakarta belum mampu mengurai kemacetan Jakarta dan Jakarta masih macet.  Untuk itu Jakarta memerlukan kebijakan yang terintegrasi dalam mengurai kemacetannya.

Saat ini pembangunan sarana dan infrastruktur layanan angkutan umum belum benar aksesnya membuat warga berpindah dari kendaraan pribadinya. Sampai saat ini integrasi layanan angkutan umum di Jakarta belum dilakukan secara benar. Akibatnya akses masih sulit dan warga lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi terutama sepeda motor atau juga angkutan online. Begitu pula kebijakan pengendaliannya belum benar dan ditegakan secara konsisten. Kebijakan pengendalian yang ada saat ini masih manual  dengan cara sistem Ganjil Genap.

Jika mau tegas dan konsisten seharusnya pengendalian dilakukan dengan menggunakan secara elektronik seperti Electronic Road Pricing (ERP) atau pengendalian dengan jalan berbayar secara elektronik dan penegakan peraturan lalu lintas secara elektronik atau Electronic Law Enforcement (ETLE) secara menyeluruh di Jakarta. Penggunaan teknologi akan sangat membantu mengurangi error di lapangan dan munculnya korupsi baru dijalankan serta penegakan larangan parkir  di jalan raya.

Begitu pula jalur sepeda yang sudah dicat itu sebaiknya ditegakkan secara konsisten. Selama ini jalur sepeda hanya ramai pada satu Minggu pertama peresmiannya saja. Setelah itu tidak ada lagi penegakan pengamanan di semua jalur sepeda.  Semua ini harus dijalankan secara benar tanpa banyak omong pencitraan dan mengumbar penghargaan yang jauh dari kenyataan.  Bekerja secara baik dan agar Jakarta tidak menjadi kota auto pilot dan bangga semu semata. Sehingga kita Jakarta tidak terus menerus menjadi kota termacet di dunia.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles