Selasa, 28 April 2026

BERSIAAP…! Ribuan Perantau Mudik ke Pasaman Barat Tak Terbendung

Pemeriksaan arus mudik. (Ist)

PADANG- Kedatangan perantau pulang kampung ke Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) semakin tidak terbendung, mencapai ribuan orang, meski ada larangan terkait merebaknya Corona Virus Disease (COVID-19).

“Kita tidak bisa menghambat warga yang pulang kampung. Namun pengawasan kita perketat di daerah perbatasan dan dilakukan cek kesehatan,” kata Koordinator Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pasaman Barat, Edi Busti di Simpang Empat, Kamis (2/4).

Menurutnya berdasarkan data yang direkap petugas hingga 28 Maret lalu sejak posko perbatasan dibuka 21 maret perantau yang datang dari pulau Jawa mencapai 193 orang, dari daerah yang tersebar di Indonesia mencapai 2.046 orang, dari luar negeri 23 orang dan pelaku perjalanan mencapai 2.069.

“Itu belum masuk data empat hari terakhir karena datanya masing-masing kita catat dan belum direkap petugas,” katanya.

Ia mengatakan untuk mengantisipasinya pihaknya membuat posko perbatasan di tiga titik lokasi yakni di Kinali, Ranah Batahan dan Talamau.

Setiap warga yang masuk ke Pasaman Barat disetop dan diperiksa suhu tubuhnya dan disemprotkan disinfektan.

“Masing-masing orang didata dan dicatat alamat dan nomor teleponnya. Jika suhu tubuhnya tinggi dan mempunyai riwayat perjalanan dari daerah pendemi maka akan dipantau dan masuk Orang Dalam Pemantauan,” tegasnya.

Ia meminta kepada warga yang baru datang dari luar daerah atau luar negeri segera melaporkan diri ke posko kesehatan sebagai antisipasi COVID-19.

Untuk mengantisipasi COVID-19 diperlukan kerja sama semua pihak. Terutama warga yang baru datang dari rantau.

Ia menyebutkan tidak semua warga yang bisa terdeksi baru datang dari luar daerah meskipun posko diperbatasan telah didirikan.

Untuk itu, ia berharap warga yang baru datang segera melapor untuk dicek kesehatannya. Pemeriksaan kesehatan itu dilakukan untuk memastikan tidak terjangkit COVID-19.

“Bagi yang terdata dan telah diperiksa dan tidak ada gejala COVID-19 untuk menahan diri dan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari,” katanya.

Pihaknya meminta kepada warga untuk melaporkan ke pihak pemerintah untuk setiap warga yang baru datang. Sebab saat masuk ke Pasaman Barat ada yang tidak terdata dan belum dilakukan pemeriksaan kesehatan.

“Mohon kepada mayarakat untuk kerjasama baiknya demi kepentingan bersama,” harapnya.

Ia meminta bagi warga yang baru pulang dari rantau agar untuk sementara menahan diri untuk berkumpul di luar rumah.

Jangan Pulang Kampung

Sebelumnya kepada Bergelora.com dilaporkan, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengimbau masyarakat yang merantau ke berbagai daerah di Indonesia untuk tidak pulang kampung untuk sementara waktu menghindari masuknya virus corona tipe baru ke wilayah tersebut.

“Kita imbau. Untuk sementara jangan pulang dulu karena dikhawatirkan membawa virus corona sehingga membahayakan,” katanya di Padang, Senin (30/3).

Menurut dia, saat ini kecenderungan perantau untuk pulang kampung cukup tinggi. Mungkin ingin melewatkan masa-masa kritis penyebaran SARS-CoV-2 bersama keluarga terdekat di kampung halaman.

Namun pemikiran seperti itu sangat salah, karena bisa tanpa disadari pulang membawa virus corona tipe baru dan menulari orang-orang tersayang di kampung.

“Bukannya memberi manfaat, tetapi mudarat. Karena itu sebaiknya para perantau bertahan dulu di daerah tempatnya berdomisili hingga kondisi benar-benar pulih,” kata Irwan.

Ia menyebut saat ini untuk penerbangan keluar dari Sumatera Barat (Sumbar) jauh lebih sedikit dari penumpang yang datang. Perbandingannya hingga satu banding tiga.

“Yang pergi seribu yang datang tiga ribu,” ujar dia.

Perantau juga memanfaatkan jalur darat untuk pulang ke berbagai daerah di Sumatera Barat.

Pemerintah Provinsi sudah memperketat pintu kedatangan baik di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) maupun yang melalui jalur darat.

“Di BIM sudah kita pasang tambahan thermo scanner dan peralatan lain untuk membantu memindai suhu tubuh penumpang yang datang. Demikian juga di perbatasan daerah sudah ada posko untuk pemantauan 24 jam,” kata Irwan.

Ia berharap dengan segala upaya yang dilakukan itu, penyebaran virus corona tipe baru bisa minimalkan di Sumatera Barat. (Ferry Ch)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles