Rabu, 22 April 2026

WOW…! Ini Jejak Hubungan Diam-diam Indonesia-Israel

Pakar militer dan intelejen Connie Rahakundini Bakrie. (Ist)

JAKARTA- Hubungan diplomatik dengan Israel perlu segera dibuka agar tidak ketinggalan dalam pemanfaatan produk tehnologi Israel. Selama ini Indonesia mendapatkan hasil tehnologi Israel yang sangat maju lewat pihak negara ketiga yang menyebabkan harga yang terlalu tinggi tanpa alih tehnologi. Padahal sebagian besar negara di Timur tengah, termasuk Arab Saudi telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel agar bisa menggunakan tehnologi Israel dengan lebih murah. Hal ini disampaikan oleh pakar militer dan intelejen Connie Rahakundini kepada pers, Rabu (30/9).

Connie menjelaskan sebenarnya hubungan Indonesia dengan Israel sudah berlangsung semenjak jaman Presiden Soeharto kemudian dilanjutkan lebih terbuka lagi oleh Presiden KH Abdurrachman Wahid. Semua dilakukan secara informal.

Pemerintah Indonesia menurutnya cenderung ‘’tidak mau mencari masalah’’ dengan elemen-elemen Islam fundamental di dalam negeri sebagai dukungan terhadap Palestina. Alasan ini pertama kali diungkapkan oleh Presiden Sukarno. Insiden besar yang melibatkan kedua negara ini adalah penolakan delegasi Israel dan Republik Tiongkok (Taiwan) dalam ajang Asian Games 1962 di Jakarta. Atas desakan negara-negara Arab dan Republik Rakyat Tiongkok, pemerintah Indonesia menolak menerbitkan visa untuk delegasi Israel dan Taiwan.

Hubungan Militer dan Intelejen

Kepada Bergelora.com dilaporkan, hubungan militer dan intelijen dibuka lewat jalur tidak resmi, khususnya Iran dan Turki, pada tahun 1968. Pada tahun 1971, pejabat militer Indonesia dan Israel diyakini merintis negosiasi transfer alutsista militer dan counter intelijen kelompok teroris Komunis global.

Militer Indonesia pada tahun 1972 membeli sejumlah radar kontrabaterai untuk akurasi artileri dari BUMN Israel dan Israel Military Industries. Pada tahun 1974, sebanyak 27 perwira dan 90 anggota ABRI dikirim untuk belajar radar artileri dan pengintaian darat beserta ELINT dan SIGINT bersama Pasukan Keamanan Israel (Israel Defence Forces) selama dua bulan.

Kemudian dilanjutkan pada tahun1975, AL dan AU Indonesia mengirim 60 orang ke Israel untuk belajar penyusupan khusus dan operasi rahasia bersama Shayetet 13 dan AL Israel. Pusat Pelatihan Pasukan Khusus didirikan untuk melatih unit-unit kecil Kopassus dalam operasi udara dan laut.

Tahun 1976, Kepala Staf Angkatan Udara Indonesia dan Israel bertemu dalam kunjungan dadakan di Tehran untuk membahas pembelian 35 pesawat tempur Douglas A-4 Skyhawk dari Israel yang dikirim pada tahun 1981-1982.

Setelah 17 tahun abstain statis, pada tahun1993, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin bertemu Presiden Suharto di kediaman resminya di Jakarta. Pertemuan tidak terjadwal ini

terjadi ketika Suharto masih memimpin Gerakan Non-Blok, merupakan pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua pemimpin negara

Hubungan kembali abstain statis selama 6 tahun sampai pada tahun 1999, ketika Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid dan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab menyatakan ingin membina hubungan dengan Israel meski hanya di sektor ekonomi dan perdagangan.

Pada tahun 2002, Wahid menjelaskan rasa hormatnya terhadap Israel dan memaparkan sebuah pernyataan untuk ditelaah oleh masyarakat Muslimm, “Israel percaya dengan Tuhan. Kita punya hubungan diplomatik sekaligus mengakui Tiongkok dan Rusia, negara-negara tak bertuhan. Aneh rasanya kalau kita tidak mengakui Israel. Ini yang perlu kita perbaiki dalam Islam.”

Pada tahun 2005, pemerintah Indonesia mengatakan bahwa hubungan diplomatik penuh dengan Israel hanya akan terwujud apabila perdamaian sudah tercapai antara Israel dan Palestina. Menteri Luar Negeri Israel Silvan Shalom mengadakan rapat rahasia dengan Hassan Wirayuda di tengah KTT PBB di New York City 2005. Namun, SBY menolak membuka hubungan diplomatik resmi dan mengatakan, “Komunikasi apapun antara pejabat Indonesia dan Israel harus membahas upaya membantu kemerdekaan bangsa Palestina”

Pada  tahun 2006, pemerintah Indonesia dan beberapa ormas Islam Indonesia mengutuk operasi militer Israel di Gaza. Pada saat yang sama, diplomat Arab Israel Ali Yahya mendukung hubungan langsung antara Israel dan Indonesia. Dalam wawancara dengan Jakarta Post, ia mengatakan, “Saya tidak paham mengapa mayoritas Muslim di Asia tidak suka dengan Israel. Apabila alasannya cuma Israel dan Palestina, kami bisa damai-damai saja dengan Yordania, Mesir, Maroko, tetapi tidak dengan Asia Timur? Kami melindungi tempat-tempat suci di Israel, menghormati bahasa Arab, dan mempertemukan imam dan rabbi untuk berdiskusi membangun hubungan dengan mereka. Banyak sekali kesempatan yang memerlukan kerja sama, supaya terwujud, kami perlu kesempatan untuk berbicara langsung.”

Pada tahun yang sama, Indonesia meminta Israel menarik pasukannya dari Lebanon. Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa tim nasional tenis Indonesia ditarik dari Fed Cup di Israel karena, “Kami menyaksikan invasi militer oleh Israel dan penangkapan beberapa pejabat Palestina…Kami tidak mungkin bertanding di sana

Pada  tahun 2008, Jakarta Post menerbitkan surat dari Wakil Menteri Luar Negeri Israel, Majalli Wahabi meminta Indonesia ikut serta memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah. Namun, Perang Gaza yang berlangsung sejak akhir 27 Desember 2008 sampai 18 Januari 2009 berdampak Indonesia mengutuk keras “agresi” Israel dan mendukung Palestina.

Maret 2016, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendukung normalisasi hubungan dengan Indonesia. Ia melihat “banyak kesempatan kerja sama bilateral” dan mengatakan bahwa alasan yang menghambat hubungan ini sudah tidak relevan lagi. Indonesia menolak dan menyatakan bahwa normalisasi akan dipertimbangkan apabila Palestina merdeka.

Perdamaian Palestina-Israel

Indonesia menurut Connie, seharusnya bisa meningkatkan hubungan dengan Israel secara formal yang selain banyak manfaatnya, Indonesia bisa berperan lebih maksimal pada upaya perdamaian antara Palestina dan Israel.

“Sebagai negara muslim terbesar Indonesia seharusnya bisa segera berunding dengan Inggris dan Perancis untuk mendorong perdamaian di Timur tengah, khususnya antara Israel dan Palestina. Karena awal mula konflik berasal dari pembagian wilayah yang dilakukan oleh Inggris dan Perancis atas wilayah Otoman,” jelas Connie.

Setelah membuka hubungan diplomasi dengan Israel  menurut Connie Indonesia bisa segera mengambil peran lebih signifikan lagi dalam upaya perdamaian di Palestina dan Israel.

“Tapi kalau kita lanjutkan semua kemunafikan ini, maka tidak ada kemajuan yang bisa kita dapat dalam negeri, apalagi mau berperan membangun perdamaian antara Israel-Palestina. Emang kita siapa? “ ujarnya. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles