Senin, 27 April 2026

Dekarbonasi Energi

PLTN sudah menjadi energi andalan pembangunan industri diberbagai negara maju termasuk di Amerika Setikat dan China. Hanya Indonesia yang mematuhi larangan penggunaan nuklir sehingga susah mengejar kemajuan negara dengan PLTN. (Ist)

Untuk bisa menjadi negara maju yang makmur dengan pendapatan yang tinggi sekaligus dengan udara dan lingkungan hidup yg sehat, maka bangsa besar ini juga membutuhkan pembangkit listrik bersih yang Non- Intermitten dari Energi Nuklir. Pakar energi, Dr. kurtubi menuliskannya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

 
Oleh: Dr Kurtubi
 
UNTUK Indonesia, Kebijakan Energi Nasional (KEN) perlu terus disempurnakan. Saat ini payung hukum dari KEN adalah PP No.79/2014 yang dikeluarkan pada masa pemerintahan SBY. 
 
KEN ini menempatkan energi nuklir sebagai pilihan terakhir karena trauma dengan musibah PLTN Fukushima yang terjadi tahun 2011 akibat diterjang tsunami.
 
PLTN Fukushima termasuk teknologi generasi ke II. Kedepan KEN perlu disempurnakan. Selain teknologi energi nuklir terus berkembang dan Indonesia sudah meratifikasi Paris Agreement tentang Perubahan Iklim dimana kita harus mengurangi pemakaian energi yang banyak menghasilkan emisi karbon dan pollutan yan tidak ramah lingkungan. 
 
Maka kedepan upaya dekarbonisasi dilakukan dengan membangun pembangkit listrik dari energi bersih , yaitu dari energi baru dan terbarukan (EBT). 
 
Karena negara kita adalah negara besar dengan penduduk saat ini 270 juta orang, yang juga bercita-cita untuk sekaligus menjadi negara industri maju. 
 
Maka sangatlah tidak cukup kalau hanya mengandalkan  pembangkit listrik dari energi terbarukan (ET) saja,– tanpa membangun pembangkit dari EB termasuk energi nuklir yang dalam KEN didiskriminasikan dengan narasi “sebagai opsi terakhir”. 
 
Mengapa demikian? Karena yang namanya ET itu secara alamiah bersifat intermiten  tidak bisa memproduksikan listrik 24 jam sehari dan 360 hari dalam setahun. Kecuali energi panas bumi yang selain bersifat terbarukan, juga panas bumi bersifat Non-Intermitten,sama dengan energi nuklir. 
 
Sedangkan ET yan lain, secara alamiah bersifat intermitten. PLTSurya misalnya,  istirohat jika mendung, hujan dan malam hari. PLTBayu kincir/kipas anginnya “momot meco” (diam tidak bergerak) pada saat anginnya tidak berhembus. PLTHidro produktivitasnya menurun drastis pada saat musim kemarau. 
 
Padahal kalau kita ingin mempercepat pertumbuhan ekonomi maka dibutuhkan supply listrik bersih dengan base load yang reliable dan kuat untuk menopang tetap berjalannya roda perekonomian. Tetap berjalannya proses produksi untuk menaikkan nilai tambah bahan baku, atau berjalannya kegiatan industri besar, menengah, kecil dan industri  skala rumah tangga serta tetap berjalannya kehidupan masyarakat dalam 24 jam. 
 
Untuk bisa menjadi negara maju yang makmur dengan pendapatan yang tinggi sekaligus dengan udara dan lingkungan hidup yg sehat, maka bangsa besar ini juga membutuhkan pembangkit listrik bersih yang Non- Intermitten dari Energi Nuklir. 
 
Terlebih teknologi PLTN terbaru Generasi ke IV yang menurut Bill Gates biaya pembangunannya jauh lebh murah, sekitar seperempat dari PLTN dengan teknologi sebelumnya, waktu pembangunannya lebih singkat sehingga harga listriknya turun menjadi lebih murah dari listrik batubara. Selain pembangkitnya menjadi semakin aman, tentunya ! 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles